Maya Maia – Devania Annesya

 

Judul               : Maya Maia
Penulis           : Devania Annesya
Penerbit        : Plot Point
Terbit             : Cetakan Pertama, Juli 2013
Tebal              : 272 halaman
Rate                : 3 / 5

 

Maya dan Maia, terdengar sama, namun punya penulisan yang berbeda. Maya datang dari keluarga berada, berlama-lama menetap di London, tetapi kini terpaksa pulang ke Jakarta demi perjodohan ala Siti Nurbaya. Sedangkan Maia datang dari dusun di Tulungagung, berpakaian sederhana, dan misi kedatangannya ke Jakarta adalah untuk mencari kerja.

Pesan emak, seseorang bernama Jojo akan menjemput Maia di Stasiun Senen. Tapi, celakanya Jojo yang ia kira bukan bernama lengkap Joni, tapi bernama Jonathan yang bersikeras ingin dipanggil Nathan. Maia bertemu dengan Jonathan dan Maya malah bertemu dengan Joni, si Kain Pel yang gemar merokok di atas pohon mangga. Maia takjub setengah mati saat mendapati Jonathan memiliki toserba dan mengantarnya ke sebuah apartemen mewah; Maya panik bukan kepalang menelepon mamanya kalau Joni menyuruhnya kerja di toko servis komputer.

Kejadian ‘jungkir balik’ itu bisa dibilang sekadar kebetulan. Memang lucu adanya, tapi apakah selucu jodoh mereka yang kebetulan tertukar?


“Maya Maia” sudah lama saya incar sebagai daftar bacaan ringan dan kebetulan sekali juga (sesuai dengan tema buku ini) saya menemukannya di rak diskon Togamas. Cocok untuk membikin tertawa, juga tidak memberatkan dari segi harga. Well, dan kalau ingin membahas dari tema cerita, “Maya Maia” memang sedikit mengada-ngada, tentang jodoh yang tidak sengaja tertukar, lalu dengan gaya penulisan yang sedikit condong kepada novel teenlit. Saya merasa ada yang berbeda antara buku ini dengan buku-buku jebolan Plot Point lain yang pernah saya baca, yang pada umumnya bertemakan sesuatu yang serius dan sudah digodok secara matang-matang. Terlihat dari gaya bahasa dan juga penentuan tema yang membuat penulisnya terlihat mumpuni dalam menangani tema tersebut.

Tapi, pembaca “Maya Maia” memang diharapkan untuk sangat rileks saat membacanya. Dengan ide yang murni karya rekayasa imajinasi dan persilangan percakapan yang mengocok perut. Ketidakmasukakalan ide ceritanya mungkin bisa digeser menjadi nomor dua.

Karakternya dibagi menjadi dua kubu dengan sangat kontras. Kubu Maya yang kalau bicara selalu lebay dan kebarat-baratan dan kubu seorang Maia yang sangat biasa dan sedikit kampungan. Selain itu ada juga Jonathan dan Joni. Dua pribadi yang sama kontrasnya dengan jodoh masing-masing. Keempatnya sukses membuat saya tertawa sekaligus terenyuh. “Maya Maia” memang karya pertama seorang Devania Annesya yang saya baca, tapi saya sangat suka dengan caranya membentuk karakter secara dramatik; dari lagam lenggoknya, dari gaya berpakaian, dan dari gaya bicaranya. Yang terakhir adalah yang paling hebat dan sangat menghibur terutama saat Maya dan mamanya bercakap-cakap.

Antara Maya/Joni dan Maia/Nathan, kalau saya disuruh memilih, saya lebih menyukai kisah Maya dan Joni. Maia dan Nathan sesungguhnya tidak kalah seru, tapi Maya dan Jojo alias Joni itu yang membuat novel Devania terasa sangat berwarna, apalagi dengan banyaknya adegan saling ejek, juga kepribadian Jojo yang sangat aneh. Selain itu, kisah cinta Maya dan Jojo juga tidak semulus dan selucu itu. Saya suka dengan konflik mengejutkan mereka di pertengahan, di saat klimaks, semuanya terasa sangat menonjok pada bagian Jojo dan Maya. Berbeda dengan konflik antara Nathan dan Maia yang masih mencakup pada porsi masalah pertama, yaitu masalah perjodohan.

Dari ide cerita yang sederhana hingga dialog yang menghibur khas drama FTV, sayangnya saya menemukan sesuatu yang bisa dikategorikan sebagai keganjilan agak sedikit memaksa, yaitu tentang keberadaan Nisa sebagai sahabat baik Maya di awal cerita. Diceritakan (spoiler ya) kalau awalnya Maya memulai kisah perjodohannya bukan dari London, kendati ia memang dinarasikan telah berkuliah di London dan menolak pulang, tapi Maya yang notabene telah berubah itu sempat mampir ke Tulungagung untuk bertemu dengan Nisa, sehingga benang merah bisa menyatu karena Maya pun diusir Nisa via kereta api dan melandaskan kakinya di Stasiun Senen (yang juga tempat tujuan Maya). Saya merasa ini sedikit di luar logika sih, karena mempertanyakan, kenapa Maya harus mampir kepada Nisa terlebih dahulu dan di pertengahan cerita, saat segala konflik sudah muncul, Devania tidak kembali mengungkit nama Nisa sebagai salah satu pelarian Maya, padahal Nisa adalah teman terbaiknya. Tapi, lagi-lagi ketidakmasukakalan dalam cerita ini memang seharusnya dinomorduakan, kendati yang ini yang paling bikin saya sedikit gemas. Haha 🙂

Selain sisi internal, saya juga ingin selalu memuji kepiawaian Plot Point dalam mendandani sampul luar. Sungguh, dari luar pun saya bisa mencium kekonyolan isinya yang campur aduk. Tak lupa dengan ilustrasi-ilustrasi mungil di tiap akhir babnya yang menambah menarik isinya. Well, walaupun “Maya Maia” adalah novel yang pas untuk light reading di sore hari, tapi saya suka sekali dengan kuotasi halaman pertamanya: “Teori kosmos adalah bohong. Tuhan tidak pernah bermain judi …”

Oke, dari keseluruhan cerita dan idenya yang unik dan menarik, “Maya Maia” saya berikan tiga bintang. Pas banget untuk teman seseorang yang ingin tertawa.

 

Advertisements

2 thoughts on “Maya Maia – Devania Annesya

    • Iya, sama-sama, Kak. Saya kaget lho penulisnya datang ke sini hehehe 🙂
      Oke. Sudah saya submit untuk giveaway-nya. Terima kasih buat infonya. Sukses terus untuk karier menulisnya, Kak.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s