Lelaki Harimau – Eka Kurniawan

 

Judul                     : Lelaki Harimau
Penulis                  : Eka Kurniawan
Penerbit                 : Gramedia Pustaka Utama
Terbit                     : Cetakan pertama (cover baru), Agustus 2014
Tebal                      : 190 halaman
Rate                        : 5 /5

 

Senja itu seperti bunga tidur, menjelajahi sebuah lanskap sureal, maka kita akan bertemu dengan Margio, seorang bocah penggiring babi yang membuat seluruh penduduk bertanya-tanya. Pasalnya, di kala seharusnya ia rehat menunggu musim berburu, Margio malah terlibat dalam intrik targedi pembunuhan yang paling brutal.

Anwar Sadat ditemukan dengan keadaan naas. Telentang dengan mata membelalak di atas limpasan darahnya sendiri. Lehernya terburai. Sekalipun sebilah parang, besatan lukanya takkan sedalam itu. Semua orang bilang Margio pembunuhnya, ia bahkan menggigit urat leher lelaki paruh baya itu hingga putus.

Sungguh tak bisa dipercaya, Mameh, adik perempuannya, selalu tahu, Margio ingin membunuh ayah mereka sendiri. Sudah bertahun-tahun ia memupuk dendam itu. Melihat Nuraeni, ibu mereka, disiksa tiap hari. Margio sungguh ingin menghabisi nyawa Komar bin Syueb.

Harimau itu putih serupa angsa, ganas sebengis ajak. Margio melihatnya mengendus jemari kakinya. Ia teringat mimpi kakeknya terdahulu, seseorang pernah bercerita, kalau kakeknya dulu menikahi seekor harimau putih nan jelita. Tapi, di kala bangun, harimau itu raib. Dan di kala senja itu tiba; semua warga menghakiminya sebagai pembunuh, Margio menjawab, “Bukan aku yang melakukannya. Ada harimau di dalam tubuhku.”

 

Bukan sulap, bukan sihir, tapi Eka Kurniawan sungguh berhasil membawa atmosfir gaib ke dalam labirin plot yang memukau. Dari buku pertamanya “Lelaki Harimau” yang saya baca, sungguh saya terkesiap begitu membaca deretan kalimat utamanya. Dari sebuah ide yang sederhana, yang mungkin banyak diangkat oleh penulis-penulis lain, Eka Kurniwan berhasil membuat idenya dipermainkan dengan sangat menarik.

Dari segi latarnya, dijelaskan bahwa latar belakang cerita intrik pembunuhan Anwar Sadat dilakukan pada sebuah desa, entah desa apa namanya, tapi dari penggambaran setiap detailnya, saya merasa Eka Kurniawan banyak mengadopsi pendeskripsian milik Ahmad Tohari. Dengan lingkungan yang masih asri, penduduk yang masih sibuk bergunjing tiap senja, begitu juga dengan adat istiadat yang masih kental dipraktikkan. Tetapi, dengan adanya sebuah kata sureal di sana, juga beberapa mimpi-mimpi dan polah dirasa di luar akal sehat manusia, saya pun mengendus sebuah cita rasa seorang Franz Kafka di dalamnya. Ya, intinya “Lelaki Harimau” seperti sebuah implementasi dari dua benua, dari sisi seorang Franz Kafka yang gemar membuat pembacanya terperangkap di dalam labirin cerita, tetapi dilatarbelakangi dengan sebuah gaya yang sangt Indonesia milik Ahmad Tohari.

Dari segi plot dan alur, well, dari kata Franz Kafka barusan, sudah bisa ditebak kalau ceritanya memang mengandung alur yang maju mundur, membingungkan lebih tepatnya. Memiliki hulu aksi pembunuhan brutal, ceritanya berkelok-kelok, seperti anak sungai. Pun karakter yang dijelaskan tidak hanya berfokus kepada seorang Margio, masih ada Nuraeni, Mameh, Anwar Sadat, Komar bin Syueb, dan sederet nama lainnya. Semua rahasia mereka dibuka satu per satu. Hingga seperti film milik Nolan, Memento, cerita berakhir di mana cerita itu berawal.

“Lelaki Harimau” banyak didominasi oleh narasi ketimbang dialog, mungkin inilah poin kurangnya, sehingga kerap kali ceritanya dirasa membosankan. Terlebih dengan gaya bahasa Eka Kurniawan yang sangat unik. Ia banyak membelokkan padanan kata yang seharusnya menjadi sebuah padanan kata yang satu-satunya akan ditemukan di bukunya, begitu juga dengan diksi yang sulit, dan permainan majas personifikasi yang sama sekali belum terpikirkan oleh penulis lain. Dari keseluruhan gaya penulisan Eka Kurniawan, saya sangat menyukai bagaimana caranya menelanjangi kata dan memadu-padankannya dengan tidak biasa. Menerjemahkan sebuah adegan yang sadis, erotik, dengan sebuah metafora yang berkelas sehingga adegan semacam itu tidak terasa menjijikkan, alih-alih menari-nari begitu saja di benak saya.

Tetapi, dari narasi yang mungkin kadang menjenuhkan di tengah novel tersebut, saya rasa, Eka Kurniawan memang tidak punya banyak pilihan. Bukunya memang tipis. Tapi dari halaman-halaman tipis tersebut, ia ingin memberikan sebuah cerita yang berbobot, dan dengan adanya narasi tersebut, mungkin itulah ganjalan yang tepat agar alurnya tidak terburu-buru, alih-alih, menjelaskan setiap karakternya dengan begitu luar biasa. Dari banyak karakter yang ada, saya suka sekali dengan ide menciptakan seorang Margio yang memiliki harimau di dalam tubuhnya. Kalau dipikir nalar dan logika, pastinya tidak masuk akal, tapi kalau ceritanya berlatar alam nusantara, saya percaya. Dan itulah yang membuat tulisan ini berbeda, punya pemikiran seperti seorang Franz Kafka, tapi idenya sangat Indonesia. Pun dengan amanat di dalamnya, “Lelaki Harimau” tidak hanya ingin menunjukkan adegan pembunuhan yang brutal dan di luar nalar, tetapi melalui cerita Nuraeni, Eka Kurniawan seolah membuka isu-isu kekerasan yang tabu diperbincangan di tengah masyarakat. Bagaimana seorang suami memperlakukan seorang istri dan bagaimana karma itu datang. Percaya atau tidak percaya, tetapi ada sebuah ganjaran untuk perlakukan yang kita lakukan di dunia.

Di halaman 190, “Lelaki Harimau” membuat saya menghela napas panjang. Akhirnya saya keluar dari labirin itu. Setelah lama terperangkap dalam banyak kata “kenapa”, Eka Kurniawan menjawab pertanyaan itu dengan sangat sederhana. Dan sebagai simpulan: saya tidak kapok membeli buku Eka Kurniawan. Dari sampul depan hingga halaman isinya, memang sungguh beda dan penuh intrik. Dari lima, saya pengin beli lima untuk karya penulis Indonesia yang ingin saya intip isi kepalanya.

 

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s