Just One Day – Gayle Forman

just one day satu hari saja

Judul                     : Just One Day

Penulis                 : Gayle Forman

Penerjemah       : Poppy D. Chusfani

Penerbit              : Gramedia Pustaka Utama

Terbit                    :  2014

Tebal                     : 400 halaman

Rate                       : 5 / 5

“Sesuatu yang takkan pernah hilang, tidak peduli seberapa besar kau menginginkannya.”

“Kau membandingkan cinta dengan… noda?”

“Persis.”  – Hal 76

Allyson Healey. Hidupnya yang ia kira sudah benar sebagai anak baik-baik bisa jungkir balik akibat tertemuan tak terduga dengan seorang pria Belanda bernama Willem. Berawal dari salah satu drama Shakespeare yang dibawakan secara kontemporer oleh kelompok Drama yang masukan anggota tambahan yaitu Willem, Allyson perlahan-lahan terpesona oleh mata legam pria itu.

Mulanya, hari pementasan drama itu menjadi hari terakhir yang mungkin saja mempertemukan Allyson dan Willem, namun takdir yang disebut-sebut sebagai sebuah ‘kecelakaan’ menghantarkan Allyson yang baru saja menuntaskan Tour Eropa-nya untuk bertemu kembali dengan Willem di kereta yang akan membawa mereka ke London.

Obrolan terjadi, dan secara mengejutkan Allyson mendapati dirinya menjadi orang yang berbeda tatkala ia bersama dengan Willem, lantas berlahan-lahan berubah menjadi sosok Lulu—sebutan Willem untuk Allyson karena penampilannya saat itu mirip dengan seorang aktris film bisu berambut bob—yang 180 drajat berbeda dengan Allyson biasanya.

Sesampainya di London, Allyson kira mereka akan berpisah, namun tatkala sahabatnya Melanie mengungkit-ungkit tentang gagalnya Tour mereka melewati Paris dan betapa kecewanya Allyson akan hal itu. Willem secara mengejutkan mencetuskan ide untuk ‘menculik’ Allyson dan membawanya ke salah satu tempat terindah di daratan Eropa itu.

‘Hanya satu hari’ dalih Willem, dan kata-kata itu pun menjadi mantra magis yang membuat Allyson langsung mengangguk setuju untuk diculik dan pergi berkereta menuju Paris.

Dan ketika kedua kaki Allyson menginjakan kaki di Paris, drama pun di mulai. Mereka mengarungi sungai yang membelah Paris dengan menyewa kapal seharga 100 dollar; mereka bersepeda menuju museum dan nyaris ditangkap polisi karena melanggar aturan; mereka pergi ke daerah antah berantah dan dikejar-kejar preman; mereka berdua pun berkelahi karena kecerobohan Allyson dan Willem yang kepalang khawatiir; lantas setelah gagal memulangkan Allyson, Willem pun menyeret gadis itu untuk melompati tembok sebuah workshop seniman jalanan untuk menghabiskan malam bersama.

Ya. Malam itu Willem dan Allyson benar-benar menghabiskan malam bersama, menjadi dua insan yang paling dekat dalam sebuah persekutuan jiwa dan raga.

Malam itu, Allyson berbisik pada Willem kalau ia bisa memperpanjang drama penculikan ini, namun Willem terlalu mengantuk untuk menjawab dan tertidur. Allyson pun hanya tersenyum, dan akhirnya memutuskan untuk tidur di samping pria itu tanpa mengetahui saat nanti ia membuka mata ia tak akan bisa menemukan sosok Willem di mana pun.

Pagi menjelang dengan menghilangnya Willem, Allyson yang panik berada di tanah antah berantah sendirian langsung berlari keluar dari gedung itu dan mencari-cari cara pulang. Ia tidak pernah menyangka drama penculikan ini benar-benar hanya satu hari saja, namun satu hari itu sudah cukup membuat harinya merasakan dua perasaan paling luar biasa secara nyaris bersamaan: jatuh cinta dan patah hati.

Hati Allyson meradang, ia tak habis pikir kenapa Willem yang ia kenali begitu luar biasa itu rela mencampakannya begitu saja. Patah hatinya terus berlanjut sampai ia akhirnya berhasil pulang ke negaranya Amerika dan melanjutkan kehidupan perkuliahannya. Hilangnya Willem terus membayang, kenangan selama satu hari itu menghantui Allyson hingga mengacaukan seluruh ritme hidupnya yang telah tertata rapi di jadwal kedua orangtuanya.

Hanya satu hari, dan Allyson menyadari bahwa dirinya selama ini bukanlah dirinya sesungguhnya. Ia pun mulai mengalami sindrom remaja yang terlambat dan menentang kedua orangtua-nya yang mengharapkan dirinya menjadi seorang Dokter. Dalam satu hari Willem berhasil membangkitkan sosok Lulu yang menjadi diri Allyson sesungguhnya. Sosok Lulu yang tidak menyukai pelajaran kimia atau mata kuliah pra-kedokteran apa pun; sosok Lulu yang sangat ingin belajar  bahasa Prancis ketimbang Mandarin; sosok Lulu yang ingin memasuki kelas tembikar; sosok Lulu yang secara ajaib memasuki kelas Drama yang membahas keseluruhan drama Shakespeare. Ya, sosok Allyson dalam Lulu yang benar-benar baru.

Setelah naik-turun kehidupannya, pelan-pelan akhirnya belajar berteman, menemukan dirinya menjadi sosok yang baru. Allyson pun menyadari satu hal:

‘Apa Willem benar-benar meninggalkannya hari itu?’

Selama ini Allyson mengambil kesimpulan sepihak akan menghilangnya Willem, bahwa pria itu tidak menginginkannya dan meninggalkannya dalam patah hati yang berkepanjangan. Ia tidak pernah tahu alasan sesungguhnya pria itu menghilang dan satu-satunya cara agar bisa  mengetahui hal itu adalah menemukan Willem kembali dan bertanya.

Ya, menemukan Willem.

Tak terasa satu tahun berlalu sejak satu hari di musim panas itu, Allyson pun bersikeras untuk melakukan pencari akan sosok Willem dan menemukan jawaban dari pertanyaan itu. Allyson kembali ke Paris, kota penuh kenangan, mengambil kembali kopernya yang tertinggal setahun yang lalu dan memulai pencarian bersama kelompok pelancong yang kebetulan bertemu dengannya di depan penginapan remaja.

Nah, apakah Allyson menemukan Willem dan mendapatkan jawaban dari pertanyaannya? Apakah fakta-fakta, petunjuk-petunjuk, serta suratan takdir yang menjelma menjadi kecelakaan-kecelakaan tak terduga itu menghantarkan Allyson bertemu dengan Willem? Mengaruhi negara ke negara lain, menemukan keindahan dan cinta yang menggebu-gebu, serta keindahan Shakespeare yang tertuang dalam setiap drama-dramanya. Mari beli buku ini segera!

Review:

ARGH! Satu-satunya yang kubenci dari buku ini adalah TYPO YANG BERTEBARAN DI MANA-MANA! What the… woy, ini buku terjemahan Gramedia paling banyak typo-nya tahu gak!? Entah ini salah penerjemah atau si editor yang tidak teliti sebelum naik cetakan buku ini, aku tidak tahu, yang jelas mereka benar-benar membuat suasana dalam buku ini terganggu dengan typo-typo itu! HUH!

Tapi yah, meskipun typo-nya benar-benar banyak, substansi dan cerita di dalam buku ini benar-benar KETERLALUAN KERENNYA! Buku ini bahkan lebih bagus dari buku terdahulu Gayle Forman yang berjudul If I stay, dan menurutku lebih pantas di-film-kan ketimbang yang satu itu. Hehehe.

Dalam buku ini penulis benar-benar berhasil membangkitkan sosok Allyson yang semula begitu kaku dan teratur menjadi seseorang yang baru dan lebih fleksible. Aku benar-benar jatuh cinta dengan sosok Allyson dan perjuangan hatinya, sampai-sampai sungguh terbawa dalam penokohannya. Bagaimana ia merasa sedih, bagaimana ia merasa patah hati, jatuh cinta, dan lain sebagainya.

Well, aku pun jatuh cinta pada sosok Willem, meski pun 15 lembar pertama dari buku ini aku salah membaja ejaan namanya menjadi ‘William’ hahaha. Aku benar-benar menyukai karakternya dan berharap suatu hari nanti bisa menemukan Willem-ku sendiri. Hehehe.

Alur cerita dari buku ini pun benar-benar apic! Begitu runtut, permainan flash back yang tidak begitu kentara karena hanya dikisahkan sedikit-sedikit. Sangat-sangat bertolak belakang dengan If I Stay yang benar-benar 100% menggunakan alur mundur, aku sangat menikmati alur cerita ini sampai ending-nya yang… ARGH! PENASARAN! Buruan terbitin kelanjutannya Gramedia! Pleaaaaseee! Fuuuhhh. Sampai di halaman-halaman terakhir buku ini begitu mendebarkan dan permainan emosi yang luar biasa disuguhkan oleh penulis.

Lalu tentang penggambaran latar dari cerita ini yang mengarungi berbagai samudra, benar-benar bagus dan tidak terasa membosankan! Biasanya aku benar-benar bosan dengan latar cerita yang menggambarkan tokoh yang berkelana di negeri asing karena biasanya penggambarkan latar tempatnya sangat monoton dan terkesan dijiplak dari buku guide tour. Hahaha. Tapi buku ini tidak begitu! Benar-benar penggambaran latar tempat yang sangat bagus, tidak berlebihan juga tidak mengurangi makna. Tepat.

Oh ya, satu hal lagi, di awal cerita aku nyaris membenci buku ini karena terlalu banyak memberikan kisah-kisah kebetulan yang rasanya tidak masuk akal. Tapi ketika penulis menjelaskan tetang kecelakaan-kecelakaan yang diyakini Willem, aku jadi menikmati semua kebetulan itu seperti suratan takdir manusia. Pertanda-pertanda yang harus kita dengarkan. Keren sekali!

Dan akhir kata, tentang pesan dari buku ini. Buku ini tidak hanya menyuguhkan kisah cinta paling mendebarkan yang pernah kalian baca, tapi juga pesan perubahan yang disampirkan dalam pertemuan Willem dan Allyson yang hanya satu hari ini. Terus berubah, jangan menjadi dirimu yang biasanya, karena ketika kalian merasa berbeda mungkin kalian justru menemukan diri kalian sesungguhnya. Hanya satu hari, membaca buku ini, dan hidup kalian mungkin aka berubah. Hahaha.

Pokoknya, bintang lima untuk buku ini, kudedikasikan untuk seluruh aspek yang telah aku terangkan di atas. Gayle Forman sudah menjadi salah satu penulis asing kegemaranku semenjak ia menerbitkan buku ini. Buku-bukunya sangat cocok untuk dibaca di kala senggang, di Minggu pagi yang menyenangkan!

Advertisements

One thought on “Just One Day – Gayle Forman

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s