Gone Girl ‘Yang Hilang’ – Gillian Flynn

 
Judul                     : Gone Girl ‘Yang Hilang’
Penulis                  : Gillian Flynn
Penerjemah         : Ariyantri Eddy Tarman
Penerbit               : Gramedia Pustaka Utama
Terbit                    : Cetakan pertama, 2014
Tebal                     : 616 halaman
Rate                       : 5/5

 

“Ketika memikirkan istriku, aku selalu memikirkan kepalanya. Bentuk kepalanya, sebagai permulaan. Kali pertama melihatnya, aku melihat bagian kepalanya itu, sudut-sudutnya.

 Kau bisa dengan cukup mudah membayangkan seperti apa bentuk tengkoraknya. Aku akan mengenali kepala istriku di mana pun. Dan apa yang ada di dalamnya.

….

Apa yang kau pikirkan, Amy?”

Nick Dunne, Gone Girl ‘Yang Hilang’, hlm. 11

 

Semua orang menuduh Nick Dunne sebagai tersangka utama. Seorang suami kejam yang tega membunuh istrinya. Seorang pengangguran yang merampok uang istrinya demi membuka bar dengan saudara kembarnya. Seorang suami yang sama sekali tak sepadan untuk mendapatkan seorang istri yang sempurna.

Amy Elliott Dunne raib di hari ulang tahun pernikahan mereka yang kelima. Menyisakan serangkaian jejak pergumulan di ruang duduk. Nick pulang dan memanggil polisi. Namun, mereka malah balik mencurigainya. Banyak kejanggalan yang muncul dari hasil penyelidikan. Tak ada laporan keributan dari para tetangga, jejak darah yang terciprat di beberapa kompartemen rumah, buku harian Amy yang ditemukan hangus di perapian.

Nick terduduk  gamam malam itu. Ia sungguh tak tahu apa yang tengah terjadi. Pagi tadi Amy masih baik-baik saja, membuatkan crepe di dapur, lantas ia menyapa Go, kembarannya, di The Bar. Tapi, sesuatu yang normal, agaknya menyimpan sejuta kebohongan. Mereka sama sekali tidak baik-baik saja. Nick terus memikirkan hadiah ulang tahun pernikahan mereka; apakah ia akan bertanya kepada Amy tentang surat perceraian itu? Tapi, sebaliknya, Amy masih memainkan tradisi mereka, satu, dua, tiga. Klu-klu itu tersimpan di pelosok rumah. Siap ditemukan Nick dan sesungguhnya apa yang dipikirkan Amy selama ini?

 

 

Sadis tapi romantis, cukup dua kata berparadoks untuk menjelaskan awal hingga akhir cerita. “Gone Girl” adalah sebuah permainan intrik gila dari Gillian Flynn. Dengan ide yang klasik, tokoh yang tidak macam-macam, seperti cerita-cerita pasangan masa kini. Kedua tokoh utamanya bertemu di sebuah pesta rumahan, saling tertarik, bercumbu, lantas menikah. Sungguh sederhana. Di satu sisi, “Gone Girl” memang disimpulkan semudah itu, tapi di jenjang selanjutnya, pernikahan tidaklah semudah masa-masa pacaran, perlu pengorbanan, komitmen, dan tanggungjawab. Dan begitulah Gillian Flynn memulai ceritanya.

Dari awal, Flynn memang menyajikan sebuah realita tentang sesuatu yang mudah ditangkap oleh pembaca, tetapi dieksekusi dengan amat baiknya. Mulai dari penggunaan plot, Flynn membuat “Gone Girl” terasa sangat menarik dari dua sisi, yaitu dua plot ganda yang berjalan bersaman tetapi ke arah yang berkebalikan (maju dan mundur). Dari sudut pandang utama tersebut, Flynn lagi-lagi membagi bukunya menjadi tiga bagian: a) Si Anak Lelaki Kehilangan Si Anak Perempuan, b) Si Anak Lelaki Bertemu Si Anak Perempuan, c) Si Anak Lelaki Mendapatkan Si Anak Perempuan Kembali (atau Sebaliknya). Ketiga bagian tersebut menjelaskan tiga puncak klimaks yang berbeda, di bagian pertama ia menjelaskannya sebagai prolog; bagaimana keduanya bertemu, mengapa sang istri merasa tertekan dan takut akan suaminya, dan sesungguhnya yang sang suami coba tutupi dari sang istri. Di bagian tersebut, saya jamin, para pembaca memang dipaksa oleh Gillian Flynn untuk membenci sosok Nick Dunne. Nick Dunne adalah pria yang pengangguran, kejam, dan tukang selingkuh. Bukan para pembaca saja yang percaya, tapi ia menyewa Ellen Abbot untuk memberitakan hal itu keseluruh negeri, agar seluruh warga Amerika ikut tahu, kalau Nick Dunne memang berengsek.

Dan di bagian pertama tersebut—dengan begitu banyak cerita, ulasan buku harian Amy, serta pengakuan Nick—saya merasa, bagian tersebut memang terasa sedikit membosankan. Pasalnya, yang membuat saya tertarik juga untuk membaca buku ini, adalah permainan gaya bahasa Flynn yang tidak biasa. Gillian Flynn membuat “Gone Girl” sebagai sebuah hibrida antara chicklit yang centil dan novel misteri sekelas Agatha Christie. Gaya bahasanya dibuat sangat tidak lugas. Dari kebanyakan narasinya, saya sangat menyukai kala ia membuka novelnya dengan sebuah narasi yang aneh, mencurigakan, tapi melompat-lompat. Jika Gillian Flynn ingin menunjukkan sebuah kejahatan, ia tak langsung menyebutkan, tapi sebagai sosok Nick atau pun Amy, ia akan mencoba memutar-mutar. Bercerita tentang ini-itu, yang lama dan yang dibayangkan, yang diucapkan, tapi ditutup-tutupi. Hingga perlahan-lahan, pembaca akan semakin tahu, bahwa ada sesuatu yang tidak beres pada dua tokoh utamanya. Hanya saja untuk sebagian orang dan beberapa part, saya jamin, ada sedikit rasa tidak sabar dan bosan.

Namun, tips dari saya, cobalah untuk bertahan sedikit lebih lama, bersabar untuk meneliti setiap perkataan Nick. Dengan begitu, pembaca akan terdampar di bagian kedua, “Si Anak Lelaki Bertemu Si Anak Perempuan”. Kata “bertemu” tidak merujuk kepada sosok Amy langsung yang ditemukan, alih-alih pada: “Mari Bertemu dengan Amy yang Sesungguhnya.” Amy dijelaskan Gillian Flynn sebagai tokoh yang amat sangat populer, ia mungkin istri yang biasa saja; berpenampilan biasa, tidak  aneh-aneh, dan tidak mengumbar dirinya untuk ditiduri oleh pria sembarangan. Namun, Amy Elliott Dunne adalah inspirasi bagi sebuah tokoh buku cerita anak terkenal, “Amazing Amy” yang ditulis oleh kedua orangtuanya, Rant dan Marybeth. Maka dari itu, secara tidak langsung, Amy yang selama ini dikenal oleh masyarakat adalah sosok yang serba-sempurna; kaya, cantik, brilian. Pun dengan suaminya, Nick adalah seorang yang juga sempurna, sehingga Amy memilihnya untuk dinikahi. Akan tetapi, di bagian kedua inilah semuanya terungkap, siapakah Amy sesungguhnya? Dan lagi-lagi pertanyaan yang sama muncul: apa yang sesungguhnya dipikirkan Amy selama ini?

Masih merupakan bagian dari pengeksekusian yang amat sangat baik dari Gillian Flynn, “Gone Girl” yang mengambil Nick dan Amy sebagai narator utama membuat Gillian Flynn harus menggunakan sudut pandang orang pertama yang berpindah-pindah untuk menjelaskan semuanya. Namun, hal ini yang membuat saya terpukau pada kepiawaian Flynn. Dari dua tokoh yang sangat berkebalikan, dan satu tokoh yang mempunyai dua kepribadian yang bertolak belakang (sehingga menjadi tiga lakon yang berbeda), Gillian Flynn dapat meng-handle seluruh penokohan dengan kosisten. Ia tahu, bagaimana menjadi Nick dengan baik. Menjadi seorang laki-laki yang tidak berperasaan, tenang, dan pembohong. Dan selanjutnya menjadi Amy yang sempurna dan emosional, yang lantas menjadi keji dan beringas. Berikut dengan para lakon pendukung seperti Margo Dunne, Rhonda Boney, dan sederet tokoh pendukung yang ikut menjadi kompor atas permasalahan Nick dan Amy.

“Gone Girl” juga didukung dengan latar yang sangat rill. Gillian Flynn mengambil latar kejadian perkara pada Kota Carthage, Missouri. Kota kecil dengan tetangga yang akrab satu sama lain. Namun, sebelumnya ia membuka pertemuan Nick dan Amy di Kota New York, kota para individualis yang penuh glamor, kepuasan, dan harga diri. Dan itulah yang membuat cerita ini semakin meyakinkan pembaca untuk menghujat Nick. Ketika keduanya menjadi penulis dan pasangan yang sempurna di sebuah kota besar, tiba-tiba saja Nick dipecat dan kehilangan pekerjaannya, begitu pun dengan Amy, yang sebelumnya bekerja sebagai penulis kuisoner pada majalah wanita. Dan seketika itu saja semuanya menjadi bertambah buruk, Mama Mo, ibunda Nick, terkena kanker payudara. Sehingga tanpa persetujuan (menurut cerita Amy), mereka harus pindah ke kampung halaman Nick demi menjaga ibunya yang sakit keras. Pemilihan latar dari “Gone Girl” sama sekali tidak mengada-ngada, tapi sesuai dengan realita, sehingga dari sisi pembaca, pembaca dapat merasakan sebuah cerita yang penuh dengan kenyataan dari alasan ketidakpuasan seorang istri.

Dari sebuah cerita yang amat brilian, “Gone Girl” pada mulanya menarik saya untuk menyaksikan adapatasi layar lebarnya terlebih dahulu. Namun, setelah mendapatkan bukunya, saya memutuskan untuk menghabiskan novelnya yang amat sangat keren, lalu membandingkannya dengan mahakarya David Fincher tersebut. Well, adapatasi filmnya bisa dibilang sangat sukses. Jika beberapa buku merasa dilecehkan dengan adapatasi filmnya seperti banyak novel-novel young adult fantasi, namun adapatasi film dari “Gone Girl” bisa dibilang sama sekali tidak mengecewakan. Para tokohnya diperankan oleh aktris dan aktor yang amat sangat brilian dalam berakting. Terutama Amy yang diperankan oleh Rosamund Pike. Saya pikir, Rosamund memang cast yang tepat untuk menjadi seorang Amy; seorang yang tidak cocok dicurigai untuk menjadi seorang wanita jahat, seorang dengan tatapan mata yang tulus. Namun, aktingnya menuju bagian klimaks di bagian ketiga cerita sungguh luar biasa.

Begitu pun dengan screenplay-nya yang ditangani oleh Gillian Flynn sendiri. Memang ada beberapa part yang dipersingkat dan membuat Amy lebih terkesan impulsif dalam mengambil keputusan, tetapi klimaks-klimaks yang saya harapkan untuk menjadi luar biasa kebanyakan memang ditampilkan secara gamblang oleh Flynn. Hanya saja, jika dalam plot filmnya, yang saya tangkap, “Gone Girl” memiliki goal untuk menjelaskan tentang kemenangan Amy. Bagaimana trik-trik liciknya untuk membuat Nick mengaku akan kebohongan-kebohongannya. Berbeda dengan plot buku yang secara tidak langsung ikut mengungkap psikologis Amy yang selama ini tertekan dan membenci kedua orangtuanya karena serta-merta membuatnya berpikiran kalau ia harus selalu menjadi serba-sempurna dan menjadi gadis yang baik seperti Amazing Amy. Tetapi, yang membuat saya sedikit kecewa adalah saat filmnya berakhir dengan kata-kata yang berbeda dari lini terakhir percakapan Nick dan Amy.

“‘Astaga, Nick, kenapa kau begitu baik padaku?’

Dia seharusnya berkata: Kau layak mendapatkannya. Aku mencintaimu.

Tetapi dia berkata, ‘Karena aku merasa kasihan padamu.’

‘Kenapa?’

‘Karena setiap pagi kau harus bangun dan menjadi dirimu.’”

 

Aku benar-benar berharap dia tidak mengatakan itu. Aku terus memikirkannya. Aku tidak bisa berhenti.

Amy Elliott Dunne, Gone Girl ‘Yang Hilang’, hlm. 11

Jika banyak penonton yang mengelukan kalau filmnya berakhir menggantung dan mengulang narasi awal saat cerita dibuka. Saya pikir, dalam novel, lini akhir pembicaraan mereka malah lebih banyak menimbulkan cengiran dan saya berseru dalam hati: satu sama.

Sungguh saya kehabisan kata pujian untuk “Gone Girl”. Mahakarya yang amat sangat brilian dari Gillian Flynn, yang membuat saya tertipu berulang kali, tercengang berulang kali. Dan kala pertama kali saya membaca pola penceritaan yang dirangkai oleh Flynn, saya tahu, ini akan menjadi sebuah film yang epik, yang mampu mempermainkan emosi dan bulu kuduk penontonnya.

“Cinta adalah ketidaktetapan tak terbatas; kebohongan, kebencian, bahkan pembunuhan, semuanya terjalin dalamnya; ini peristiwa mekarnya lawan dari cinta, yang tak bisa dihindari, mawar megah yang samar-samar beraroma darah.”

Tony Kushner pada Flynn, Gone Girl ‘Yang Hilang’

 

Lima dari lima, saya menunggu buku terjemahan Flynn dari Gramedia yang selanjutnya 🙂

Advertisements

8 thoughts on “Gone Girl ‘Yang Hilang’ – Gillian Flynn

  1. “What are you thinking, Amy?”

    The question I’ve asked most often during our marriage, if not out loud, if not to the person who could answer. I suppose these questions stormcloud over every marriage:

    “What are you thinking? How are you feeling? Who are you? What have we done to each other? What will we do?”

    Akhirnyaaaaa setelah menunggu Ka Ching untuk ulas buku ini jadi resensi kesampean juga! Dan pas baca resensi ini malah jadi penasaran banget pengen baca versi novelnya biarpun udah nonton filmnya, karena biasanya film adaptasi itu selalu lebih bagus versi aslinya yaitu bukunya.

    Apalagi di film cuma di tunjukin sifat impulsif nya Amy aja, gaada sisi psikologis dimana dia tertekan sama kecilnya dan lainya (Amy is kind of a big misery ahead)

    Seneng banget baca rating ini pointnya: five (I’m happy of nothing xD)

    Tapi tetep yang buat buku atau film ini jadi point five karna pertanyaan-pertanyaan Nick yang ngebekas di otak aku:

    “What are you thinking, Amy?”

    “What are you thinking? How are you feeling? Who are you? What have we done to each other? What will we do?”

    P.s: sekarang ayo ka nonton versi filmnya 🙂

    • Ayo, baca versi novelnya juga 🙂 gak kalah rame juga kok filmnya, cuma memang harus bersabar karena bukunya lumayan tebal. Tapi, saya rasa kamu bakal suka kok, soalnya ini narasinya gak membosankan gitu, tipe-tipe cerita kosmopolit, dengan latar belakang NYC juga tentunya, tapi hebatnya, ada bumbu misterinya.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s