Life in Outer Space – Melissa Kiel

 

Judul                     : Life in Outer Space
Penulis                  : Melissa Kiel
Penerbit                 : Hardie Grant Egmont
Terbit                     : Cetakan pertama, Februari 2013
Tebal                      : 305
Rate                        : 3.5 /5

 

 

Tidak dapat dimungkiri, yang Sam tahu hanyalah menjadi seorang geek—kecanduan permainan World of Warcraft, film, terlebih film horor. Hanya itu yang ia tahu. Menonton. Bermain. Mengoprek perangkat komputer. Nongkrong di ruang IT Bowen Lakes Secondary College. Dan menghindari Justin Zigoni. Sam hanya ingin menjauhi masalah. Tak peduli jika tidak ada orang yang menganggapnya ada. Tapi, dunianya memang keren. Dilingkupi oleh geng yang tak kalah “keren”, seperti Adrian, Mike, dan Allison.

 

“Adrian appears beside me, glaring down the corridor. He has his about-to-open-a-can-of-whoop-arse face on. Objectively, Adrian Radley has zero cans of whoop-arse to open.”

 Life in Outer Space, Melissa Kiel

 

Adrian bisa dibilang orang yang blak-blakan, berkebalikan dengan Sam yang lebih banyak diam dan menyimpan kata-katanya dalam hati, penggemar candy bar, dan ia selalu berpikir kalau ia lebih kuat daripada yang orang lain pikir. Sedangkan, Allison adalah satu-satunya perempuan di dalam grup Sam, berambut pirang dan seorang pencinta Hello Kity. Dan yang terakhir, adalah Mike.

 

“I don’t care that Mike is gay. I figure that since there’s little chance of either of us ever touching anyone else’s parts, our relative sexualities are somewhat pointless topics of conversation.” —Life in Outer Space, Melissa Kiel

 

Mike adalah gay, tapi Sam sama sekali gak peduli dengan orientasi seksualnya, tapi Sam pikir, Mike bisa jadi yang paling terbaik di antara para sahabatnya. Sam berpikir kalau seluruh ilmu kehidupan bisa ia cari dalam film-film koleksinya, bertukar aspirasi dengan para teman nerd-nya. Tidak ada yang lebih baik dari kehidupan yang damai dan tentram, semua itu tidak berlangsung lama saat Bowen Lakes Secondary College kedatangan murid baru bernama Camilia.

Bukan seorang geek; ia memperkenalkan dirinya sebagai anak dari penulis terkenal Henry Carter, datang jauh dari New York dengan aksen British yang kental. Camilia gadis yang populer, cantik, dan ceria. Penghuni dunia yang berkebalikan dengan dunia milik Sam. Dan Sam memutuskan untuk tidak menghiraukan Camilia. Hanya saja, Camilia baru saja membuat sebuah rencana akan kehidupan barunya, dan Sam mau tak mau harus bersedia untuk menjadi bagian dari rencana tersebut.

Membaca “Life in Outer Space” adalah sebuah konspirasi jenaka antara serial teve “Dawson’s Creek” dan “The Big Bang Theory”. Di mana para tokohnya adalah para nerd sejati. Sibuk membicarakan hal-hal dengan imajinasi di tingkat lanjut. Bergumul di ruang IT. Membicarakan banyak referensi film dan membedahnya dengan narasi-narasi yang direlasikan dengan dunia realita. Bahkan pe-de-ka-te di kolom dialog World of Warcraft. Kombinasi antara lucu, tolol, dan “iya juga sih.” Impresi pertama saya terhadap “Life in Outer Space” muncul dari covernya yang luar biasa menarik, biru dengan warna merah jambu manyala. Bisa jadi sebuah novel yang fresh dari author yang fresh.

Dibilang agak mengecewakan, er… tidak juga. Pasalnya saya juga seorang movie geek. Dan para movie geek di luar sana, pasti bakal bilang kalau novel ini sangat menginspirasi. Dengan banyaknya referensi film yang disebutkan oleh Sam. Perdebatan-perdebatan konyolnya dan juga monolognya. Semuanya pasti ada sangkut pautnya dengan film.

Dan yang membuat saya sedikit nyengir saat membaca “Life in Outer Space” adalah saat tahu tentang latar ceritanya. Saya rasa, Melissa Keil memang sungguh-sungguh membuat novel ini berdasarkan realita dalam kehidupannya; seorang mahasiswa jurusan Cinema & Antropology, tinggal di Melbourne, Australia. Dan di sanalah Melissa menjelaskan Bowen Lakes Secondary College sebagai latar utama ceritanya. Tidak aneh-aneh. Tapi, semuanya memang terasa rill. Ia memang tidak menjelaskan Melbourne secara rinci, tapi dari suasananya, dari tradisi-tradisinya, dan dari konflik-konfliknya, pembaca dapat merasakan kalau “Life in Outer Space” memang sebuah novel gaya remaja Australia.

“Life in Outer Space” menggunakan sudut pandang orang pertama. Tapi yang mengejutkan adalah sudut pandang seorang Sam, yang sedikit ganjil sih. Karena kebanyakan penulis perempuan bakal memilih seorang tokoh perempuan juga untuk menjelaskan cerita mereka. Tapi, kepribadian Sam di sini sungguh solid, cowok yang sungguh cowok, cuek, terlebih kesan geek-nya. Seakan di kepalanya hanya ada film, komputer, dan game. Dan Camilia, sebagai karakter yang berkebalikan dari Sam, juga dijelaskan sangat menarik. Tipe-tipe cewek populer di drama-drama serial teve remaja. Pintar, cantik, dan tentu saja, selalu didekati oleh cowok berbadan besar seperti Justin Zigoni.

Alur yang ditawarkan “Life in Outer Space” juga tidak terburu-buru, Melissa Kiel memaparkan karakter Sam lewat narasi yang sangat baik. Dari Sam yang seorang geek, yang tidak percaya diri, yang hanya berpikir kalau dia akan baik-baik saja jika tidak dianggap orang lain. Menjadi seorang Sam yang terlibat dengan lingkungan sekitarnya melalui sebuah proses. Begitu juga dengan teman-teman di sekitarnya. Seperti dalam novel Stephen Chbosky, “The Perks of Being a Wallflower”. Seorang yang remaja yang belajar untuk berpartisipasi.

Kesimpulannya, “Life in Outer Space” punya alur cerita yang mainstream, dan dijamin saat membaca, pembaca sudah bisa menerka-nerka apa yang akan terjadi di akhir cerita. Hanya saja, “Life in Outer Space” tidak hanya menjadikan plot sebagai satu-satunya yang dapat dikagumi oleh pembaca. “Life in Outer Space” lebih menampilkan monolog-monolog yang kocak. Sisi ekstrinsik yang luar biasa ajaib. Karakter-karakter yang menarik. Candaan-candaan ala film yang sangat berkelas. Dan juga pesan moral tentang cinta dan persahabatan yang bisa dipetik dengan mudah.

Dari lima, tiga setengah bintang untuk “Life in Outer Space”. Untuk cerita kerennya yang sangat menghibur. Sangat pas buat para moive geek, yang tengah suntuk, dan nyaris ketiduran. “Life in Outer Space” punya hawa dan narasi yang luar biasa jenaka, yang dijamin bisa membuat pembacanya tertawa.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s