To Live ‘Hidup’ – Yu Hua


  
Judul                     : To Live ‘Hidup’
Penulis                 : Yu Hua
Penerjemah       : Agustinus Wibowo
Penerbit              : Gramedia Pustaka Utama
Terbit                    : Cetakan pertama, 2015
Tebal                     : 224 halaman
Rate                       : 5 / 5

  

“Orang hidup itu yang penting senang, jadi miskin pun tak ada yang perlu ditakuti.”To Live ‘Hidup’, hlm. 39

 

Ia paling kerasan minum teh pahit buatan petani. Duduk di ambang pintu, sementara sepasang matanya memerhatikan tubuh-tubuh renta itu terbungkuk-bungkuk menyusuri pematang. Hingga satu suara menarik perhatiannya. Laki-laki tua itu bernama Fugui, pun sapi di sampingnya. Dua Fugui yang papa, bekerja sama membajak petak ladang kecil mereka.

Fugui bercerita tentang kisah hidupnya di suatu senja; masa-masa ketika sutra masih melekat di tubuhnya; langkah-langkah pongah. Hidupnya dengan begitu sinting ia habiskan di meja judi. Satu putaran ke putaran berikutnya. Jiazhen, sang istri, tengah hamil besar, merajuk hingga memohon-mohon dirinya untuk pulang. Fugui tutup telinga. Rajukan Jiazhen kian menjadi, ia tendang istrinya sampai tersungkur; Jiazhen tak menyerah, Fugui sampai kehabisan akal melihat perempuannya mengacaukan permaiannnya. Ia membayar pria-pria itu dengan uang hasil judinya, berharap menarik Jiazhen keluar.

Raja judi itu bernama Long Er. Namanya sudah tersohor di bilik-bilik Rumah Hijau. Fugui pikir ia dapat mengelabui orang itu dengan mudah, alih-alih, harta leluhurnya tandas dikuras. Fugui pulang dengan malu. Mulutnya berbusa ketika menginjak babut rumah. Ayahnya marah besar sejurus langsung ambruk. Keluarga begitu kacau, sehingga mereka harus pindah ke rumah gubuk di pedesaan.

Dari anak seorang besar, Fugui menjalani hidupnya dengan keras. Mendidik kedua anaknya dengan banyak ancaman. Negeri Tiongkok mengalami banyak naik turun kekuasaan. Mulai dari bencana kelaparan yang melanda seluruh negeri. Komunisme yang merajalela. Hingga masa-masa ketika Revoulis Kebudayaan dianggap menjadi jalan terbaik untuk diperjuangkan.


  
Tak pelik jika pembaca “To Live” sanggup menitikkan air mata. “To Live” bukan kisah yang kejam, alih-alih, berbicara kejujuran. Selantun kata-kata polos yang tidak pernah ditabiri. Deretan kata-katanya dipapar begitu saja. Dipertontonkan sehingga dianggap kontroversial, terlebih di negeri China sana. Kisah milik Yu Hua yang meraih penghargaan besar tersebut, malah dianggap mengancam.

Seperti judulnya, “To Live” memang berbicara tentang kehidupan seseorang. Bukan seseorang yang luar biasa, kendati seorang manusia biasa yang mencoba keluar dan berkelit dengan badai kehidupan. Seperti pada umumnya manusia, seseorang pasti punya masa. Ada masa ketika ia di atas, seperti Fugui yang sebelumnya anak tuan tanah, menikahi Jiazhen, yang juga anak seorang juragan beras. Tapi, takdir tentu berada di tangan Tuhan. Lewat insiden kalah di meja judi, Tuhan menghukum Fugui. Memindahkan segala kemahsyuran itu ke gubuk reyot di pedesaan. Idenya begitu sederhana. Dan jika disimak, “To Live” pun dapat digolongkan sebagai karya memoar dengan pola seperti roda. Terus berjalan. Berganti. Pun dengan kematian yang datang dan pergi.

 “Manusia hidup itu lebih baik biasa-biasa saja. Berjuang demi ini, berjuang demi itu, berjuang ke sana-sini, akhirnya juga hilang nyawanya sendiri.”To Live ‘Hidup’, hlm. 208

 

Yu Hua tidak menggunakan aturan bab dalam “To Live”. Gaya bahasa yang digunakan Yu Hua cukup mencengangkan, di awal, saya menyimak ada sederet bagian yang ber-italic. Lalu, laman itu pun berangsur raib. Rupanya, memang ada dua orang yang berbicara; seseorang tanpa nama yang gemar menghabiskan senja di pinggir sawah; dan Fugui seorang petani sebatang kara yang tengah menceritakan kisah hidupnya.

Yu Hua menggunakan gaya bahasa sebagai sebuah identitas. Kalau di awal, saya disapa dengan kalimat yang terstruktur rapi, mendayu-dayu, dan kadangkala bermetafora sangat dalam. Gaya bahasa Fugui dibuat berbeda. Sebagai karakter yang serampangan, kasar, dan menggebu-gebu; mulanya, saya cukup terganggu dengan sturktur penerjemahan yang tidak lengkap, katanya seperti terburu-buru dan tidak sopan. Kehilangan jeda pungtuasi, pun imbuhan kata. Tapi, menjelang bab-bab pertengahan, akhirnya saya sadar, ini merupakan ide sepele yang sangat luar biasa. Tanpa membaca karakter Fugui secara lengkap, sebagai pembaca, saya terasa terjerumus ke dalam otaknya, mengumpat sepanjang hari, dan mengomentari ini-itu dengan ceplas-ceplos. Fugui tidak menutupi apa yang tengah dijalaninya, sebagaimana hidup berjalan, kematian pun menjemput. Namun, jika dibanding dengan novel lain, yang kerap kali menganggap fase tersebut adalah sebuah klimaks, Fugui bercerita seperti sesuatu yang normal, bahkan ketika kematian tersebut menjemput dengan tragis. Yu Hua menyampaikan sebuah interaksi itu secara cepat dan naratif, tidak dibesar-besar dan terlihat epik.

“To Live” terasa terburu-buru di awal. Kendati banyak konflik yang alami oleh Fugui sebagai pejudi amatiran yang menjual seluruh kekayaan leluhur, tapi Yu Hua terasa konsisten mengusung ceritanya dengan cepat. Dalam 200 halaman ia mencoba menjelaskan naik-turunnya hidup Fugui dalam frasa-frasa sederhana, mengalir, dan dilalui begitu saja.

Fugui sebagai karakter utama dalam “To Live” dipilih Yu Hua untuk menjadi seorang narator, sebagai seorang manusia biasa, yang luar biasa kurang ajar. Tapi, betapa beruntung dirinya ketika para anggota Xu adalah anak-anak dan istri yang baik hati. Kerap kali saya ingin menangis melihat interaksi antarkeluarga dalam “To Live”. Bagaimana kasih sayang Fugui kepada anak-anaknya, tapi terkadang ia malah bertindak sebaliknya akibat didesak keadaan.

Ada Youqing, Fengxia, dan Jiazhen. Ketiganya adalah orang-orang perkasa di benak saya. Terutama Jiazhen. Dari seorang putri juragan beras, ia rela meletakkan segala kemenakannya untuk bersama Fugui yang sudah jelas seorang bajingan. Tiap hari gonta-ganti ranjang dan bermain judi. Lewat karakter-karakternya yang luar biasa, Yu Hua menerjemahkan lika-liku kehidupan ini dengan sangat kuat, terutama tentang sebuah keluarga yang utuh, patuh, dan kompak. Yang sanggup membuat pembaca sangat tersentuh.

Secara latar, Yu Hua pun menjunjung satu hal yang dicetuskannya sedari awal; tidak ada yang ditutup-tutupi. Ia bicara jujur soal kekejian yang menimpa China di masa itu. Terutama soal Komunisme, yang mana dapat bersifat merugikan, tapi terkadang menguntungkan. Bagi petani seperti Fugui, kebijakan Ketua Mao jelas menguntungkan. Khususnya ketika tanah-tanah besar milik para tuan tanah dilebur dan harus dibagikan secara merata. Tapi, bagi Long Er, si Tuan Tanah, jelas hal itu merugikan. Hanya saja, kebijakan-kebijakan itu tidak berhenti di sana. Ketika hal itu berlaku, bencana kelaparan pun melanda China dengan begitu sadis. Yu Hua menceritakan semua itu tanpa dibalut belas kasih, ia bercerita begitu saja lewat Fugui; ketika ia dan Fengxia harus menggali puluhan mu demi mendapatkan ketela.

Tidak heran kalau Yu Hua dengan karya kontroversialnya dilarang beredar di Tiongkok sana. Kendati tipis, tapi “To Live” amat membekas di benak saya. Baik dari pesan tentang kekeluargaan dan peradaban manusia. Lewat “To Live” banyak sekali pelajaran yang dapat dipetik, terutama tentang kehidupan. Kehidupan yang biasa-biasa akan terasa luar biasa jika dijalani dengan hati yang riang.

5/5 untuk “To Live”. Dan saya menunggu terjemahan karya Yu Hua lainnya; penasaran, apakah akan seepik “To Live”?

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s