A Million Suns ‘Sejuta Matahari’ – Beth Revis

 

Judul                     : A Million Suns ‘Sejuta Matahari’ (Across the Universe #2)
Penulis                 : Beth Revis
Penerjemah       : Barokah Ruziati
Penerbit              : Gramedia Pustaka Utama
Terbit                    : Cetakan pertama, Februari 2015
Tebal                     : 473 halaman
Rate                       : 4.5 / 5

  

Godspeed sudah tua. Pesawat ini mulai rusak.” A Million Suns ‘Sejuta Matahari’, hlm. 23

 
 
Kematian Eldest bukan perkara mudah bagi Elder. Sosok tua berjanggut putih itu masih membayangi dirinya; di Level Penjaga, di Ruang Agung, kini tak ada lagi yang sosok yang dapat ia tanyai. Sementara bersikeras Elder menghentikan penggunaan Phydus—substansi yang dapat mengontrol emosi dan pemikiran awak pesawat. Para awak pesawat menjadi kian menutut idealisme tertinggi terhadap diri mereka. Godspeed sudah terlalu lama berlayar. Dan tanpa Phydus, mereka dapat melakukan apa pun yang mereka mau.

Elder—yang enggan dipanggil Eldest—masih berunding dengan para awak kelas satu, para ahli mesin, dan memutuskan untuk membentuk polisi untuk meredam perlakuan membabi-buta para awak pesawat; di saat yang bersamaan, Marae, berkata kalau mereka telah menipu terlalu banyak pihak selama ini. Penundaan waktu pendaratan Godspeed di Bumi-Centauri bukan disebabkan oleh mesin yang kian uzur. Alih-alih, Godspeed memang tidak pernah bergerak. Sudah berpuluh tahun lamanya. Dan pesawat mereka pun mulai rusak.

 

“Dia mati, sendirian dan ketakutan. Aku tidak mati, tapi aku tetap sendirian dan ketakutan.” A Million Suns ‘Sejuta Matahari’, hlm. 134

 
 
Amy masih mengingat perkataan Luthor siang itu. Para awak pesawat semakin bebas dan mengincarnya sebagai penyebab utama yang selalu mendapat perlakuan spesial dari Elder. Amy ketakutan. Tiap pagi ia mengunjungi kedua orangtuanya di ruang kronika. Berharap Godspeed cepat-cepat mendarat di Bumi-Centauri. Namun, betapa kaget dirinya kala Orion memberikannya sebuah cenderamata; sebuah komnir spesial dengan kata-kata mutiara.

Berhari-hari Amy penasaran dengan kuotasi pendek yang Orion kutip dari sebuah karya klasik karangan Dante. Sebuah video rahasia berhasil diselundupkan Orion lewat kartu mem. Dengan sederet petunjuk Orion, Amy terpaksa harus memecahkan kode-kode penting itu, karena Amy satu-satunya yang dilahirkan di planet Bumi-Surya, dan Amy adalah satu-satunya yang dapat mengambil keputusan.

 
 

Setelah diliputi hawa sci-fi yang kental dari “Across the Universe”, kini Beth Revis kembali menyajikan sebuah sekuel berkelas dengan hawa misteri dan detektif yang cerkas. Mengingat intensitas klimaks dari prekuelnya, “A Million Suns” dapat dibilang punya eksplorasi konflik yang baik. Masih berbicara seputar misteri kapal Godspeed dengan banyaknya ruang dan besarnya yang mencapai ribuan hektare. Kini, Elder yang ditinggalkan oleh Eldest sebagai penguasa yang tiran, memilih untuk mengambil jalan yang baik dan menunjung kemerdekaan setiap individunya. Tapi, sayang keputusan yang ia ambil malah berujung pada kata-kata “Eldest”, yaitu asal mula wabah, “perbedaan”, “perselisihan”, dan terakhir “pemberontakan”. Lalu, apa yang seharusnya seorang pemimpin perbuat?

Dalam “A Million Suns”, Elder seolah-olah ditempatkan pada posisi yang serba-salah, yang mana melepaskan Phydus. Tapi, malah membuat kerusuhan. Dari ide yang seperti ini, “A Million Suns” malah membuat saya semakin penasaran, lantaran banyak novel yang mengambil genre distopia, termasuk prekuelnya, “Across the Universe”, namun, tidak ada seorang pun yang mencoba bercerita soal dampak pasca-distopia tersebut.

Sifat dasar yang coba dijelaskan Beth Revis pun tidak mengada-ngada. Seakan dilepas dari kandang, begitulah sifat manusia, akan bertindak semena-mena. Terlebih dengan keterbatasan sumber daya dari hari ke hari, bukannya membantu memecahkan masalah, alih-alih, memprotes sang ketua dan selalu menyalahkan keputusannya.

Terlepas dari pasca-distopia yang dibahas dalam “A Million Suns”, misteri menjadi salah satu genre yang mendominasi. Dari dua sudut pandang yang digunakan seperti di buku pertamanya, hal inilah yang membuat “A Million Suns” menjadi semakin kompleks dari segi konflik. Jika Elder berpusar dengan masalah pesawat, Amy sendiri sebagai karakter utama mengajak pembaca untuk larut dalam teka-teki berantai yang menjadi jawaban terhadap permasalahan yang tengah dihadapi oleh Elder.

Jika dibandingkan dengan “Across the Universe” yang masih berupa introduksi awal, termasuk interaksi para tokohnya, dalam “A Million Suns” nuansa roman yang berada di antara Amy dan Elder menjadi lebih terasa. Tidak terlalu intens dan eksplisit. Tapi, cukup manis dan pas untuk dinikmati. Dari komparasi genre yang coba diangkat, kentara kalau Beth Revis sendiri tidak ingin membuat roman menjadi genre yang mendominasi keseluruhan cerita, tapi menurut saya, dengan adanya adegan-adegan roman di antara Amy dan Elder di sini membuat cerita menjadi lebih seru, mungkin sebagai selingan, mengingat banyaknya adegan menegangkan serta teka-teki menarik yang membuat para pembaca harus ikut memutar otak agar mengetahui maksud dari video-video milik Orion.

Masih terasa lugas seperti “Across the Universe”, gaya bahasa yang digunakan terasa lekas untuk dibaca dan lugas. Bedanya untuk “A Million Suns”, terasa minim introduksi, terutama tentang bagian-bagian Godspeed yang membuat saya bingung sekaligus kebosanan di prekuelnya. “A Million Suns” menutut pembaca untuk hafal dan langsung bermain-main di level-level kapal Godspeed. Naik turun. Melintasi tabung gravitas. Sudah bukan hal yang tidak wajar dan perlu dijelaskan secara rinci. Namun, kendati demikian, setiap deskripsi tokohnya masih dijelaskan dengan sangat detail. Dengan perangkat-perangkat baru yang dijelaskan dengan rapi sehingga menuai rasa percaya dari pembaca. Gaya bahasa penerjemahannya sendiri pun tidak kaku, tapi tetap baku dan nyaman untuk dibaca. Dan mengalir dengan dialog-dialog para tokohnya.

Seperti kebanyakan novel terjemahan, di bagian pendahuluan pasti pembaca akan merasa bosan, lantaran dijejali oleh banyaknya intorduksi atau berusaha membangun titian antara sebuah prekuel yang mungkin sedikit dilupakan dengan penghulu dari alur cerita sekuel. Hal ini pun masih saya rasakan untuk seri “Across the Universe sendiri”. Dari prekuel, sepertinya yang paling saya ingat adalah kematian Eldest, namun nyatanya, dalam “A Million Suns”, cerita itu dilanjutkan dengan konflik selanjutnya yang harus Elder hadapi. Tidak langsung berhubungan, tapi masih berbenang merah. Dan untuk “A Million Suns”, saya merasa alur lebih mudah tertebak, tidak seperti “Across the Universe” yang mampu membuat saya tercengang untuk sebuah serangan konflik yang jauh dari pemikiran awal. Mungkin hal ini disebabkan oleh teka-teki Orion yang cukup bersifat menuntun pembaca.

Dari seri detektif-detektif lain, genre tersebut memang bukan cangkir teh saya. Tidak terlalu menyukai acara tebak-tebakan dengan rendengan kode atau pun kata-kata mutiara yang dipenggal-penggal. Tapi jika dibanding dengan “The Cuckoo’s Calling” (karya Robert Galbraith), saya lebih menyukai gaya digunakan oleh Beth Revis dalam bermain tebak-tebakan. Tidak berisikan praduga dan kalimat-kalimat jelimet yang membuat pembaca menjadi bingung dan bosan. Meski begitu, teka-teki yang dibuat Orion sendiri bukan kasus berat dan serius, masih masih bersifat sedikit santai, walaupun menjadi kunci utama, namun dengan mengangkat genre sci-fi, kesan misteri yang masih bertaraf sedang tersebut menjadi pas sebagai pengisi dari sci-fi yang sama-sama bertaraf sedang.

Sepeninggal Hurley sebagai karakter pembantu yang cukup penting. Beth Revis pun mengisi Godspeed dengan nama-nama yang baru dan cukup asing. Jika Luthor dianggap sepele dan menjadi trauma yang masih dapat dihadapi oleh Amy, dalam “A Million Suns” menjadi karakter antagonis yang menakutkan dan menyusahkan. Dan masih banyak lagi nama-nama yang diperkenalkan di bagian penting pesawat, sayangnya, tidak seperti di “Across the Universe”, Beth Revis terlihat ingin meletakkan fokus kepada alur yang kepalang menjadi seru akibat aksi memecahkan teka-teki dari Orion dan kerusuhan yang terjadi di Level Pemasok dan Level Awak Kapal, sehingga para tokoh pun dijelaskan lebih secara fisik dan cepat.

Dan untuk latar tempat, saya senang dalam “A Million Suns”, Beth Revis tidak membatasi Godspeed dengan level-level yang sudah dijelaskan dalam peta yang tertera di “Across the Universe”. Banyak ruangan rahasia pesawat yang menjadi daya tarik rasa penasaran pembaca. Mulai dari Balai Catatan yang dijelaskan lebih detail dengan label-label yang sebelumnya tidak dijelaskan secara terperinci dan juga ruangan rahasia yang menjawab tujuan dari pelayaran Godspeed selama ratusan tahun.

Jika disimpulkan dari segi plot, saya merasa lebih pro dengan “Across the Universe”. Dengan introduksi mengenai genre sci-fi yang sangat asyik dan menantang untuk dibaca. Dengan pernak-pernik peralatan supercanggih yang membuat saya terkagum-kagum sampai tidak menyangka akan disugguhkan dengan konflik yang sangat epik. Sementara “A Million Suns”, lantaran sudah diangsurkan prekuel yang sedemikian keren, pendeskripsian dari latar dan ruangnya pun menjadi tidak terlalu “wah” di benak saya. Tapi untuk segi plot, saya merasa “A Million Suns” punya plot yang masih dapat diunggulkan, terlebih untuk konfliknya yang dibuat masih terasa epik, tapi untuk berbagai penyusunnya untuk mencapai konflik semacam itu tidak terasa seperti “Across the Universe” yang terasa mengejutkan. “A Million Suns” masih dapat diantisipasi dan ditebak.

Dari 5, saya memberikan 4.5 untuk “A Million Suns” dan masih merasa penasaran tentang apa yang akan Amy dan Elder hadapi di planet baru mereka, Bumi-Centauri.

Advertisements

One thought on “A Million Suns ‘Sejuta Matahari’ – Beth Revis

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s