Selama Kita Tersesat di Luar Angkasa – Maggie Tiojakin

 
 

Judul                     : Selama Kita Tersesat di Luar Angkasa
Penulis                  : Maggie Tiojakin
Penerbit                 : Gramedia Pustaka Utama
Terbit                     : Cetakan pertama, Juli 2013
Tebal                      : 241 halaman
Rate                       : 4 / 5

  

“Katanya di tempat itu hujan tak pernah sedetik pun berhenti mengguyur. Pagi, siang, sore, malam. Hujan lebat tak ada akhir. Mereka bahkan tiak bisa tidur. Air di mana-mana.” Selama Kita Tersesat di Luar Angkasa, hlm. 195

 
 
Lantaran salah mengambil kordinat, seorang kapten dan tiga awak kapalnya terdampar di tengah lautan abu monokromatik. Roket mereka rusak total. Tak ada jalan kembali selain berjalan ke depan. Pagi, siang, sore, malam, planet asing tempat mereka berbaring kian mengalami penyusutan.

Koveer, sang prajurit kepercayaan, mencoba mengeluarkan kompas andalan. Namun, hasilnya sama saja, kompas tak lagi berfungsi. Sementara Yureko dan Abatul, kedua awak kapal yang lain, tak berhenti adu mulut. Kapten berusaha mencari jalan pulang ke Stasiun Luar Angkasa Internasional. Menelusuri planet asing yang mereka pijak, menemukan lebih banyak kawah di bawah tumpukan abu.

Berhari-hari mereka berjalan kaki. Matahari tak pernah pergi. Sembari mengisi waktu berjaga, Kapten bercerita tentang prajurit dari kapal lain yang baru saja kembali dari Venus—planet yang tak pernah tak hujan. Tempat yang mana dinaungi  Air di mana-mana.

Hujan yang terus mengguyur. Hujan deras yang mengantarkan kabut dan embun.

 

  1. Tak Ada Badai di Taman Eden
  2. Kristallnacht
  3. Lompat Indah
  4. Fatima
  5. Panduan Umum Bagi Pendaki Hutan Liar
  6. Kota Abu-Abu
  7. dies iae, dies illa
  8. Saksi Mata
  9. Ro-Kok
  10. Dia, Pemberani
  11. Suatu Saat Kita Ingat Hari Ini
  12. Jam Kerja
  13. Selama Kita Tersesat di Luar Angkasa
  14. An Evolutionary History
  15. Violet
  16. A Business Trip
  17. The Long March
  18. Sunday Mass

  

Delapan belas cerita absurd milik Maggie Tiojakin; kisah yang sederhana, namun membuat pembacanya tak henti bertanya. Sesungguhnya untuk apa cerita-cerita ini ditulis? Kalau sebelumnya di tahun yang sama saya pernah membaca kumpulan cerita pendek milik Bernard Batubara “Jatuh Cinta adalah Cara Terbaik untuk Bunuh Diri”, yang selalu mengejar poin plot twist kuat di bagian akhir. Menebar banyak pertanyaan dan menutupnya dengan sebuah jawaban mencengangkan. Sebaliknya, dalam “Selama Kita Tersesat di Luar Angkasa” kumpulan cerita-cerita tersebut malah dibiarkan menganga. Tanpa jawaban, biar para pembacanya saja yang merenung dan mati penasaran.

Idenya sangat sederhana. Kalau mungkin dari cuplikan cerita di atas, “Selama Kita Tersesat di Luar Angkasa” terkesan punya gaya sci-fi dan petualangan, memang benar, beberapa cerita dari yang saya baca dan saya sandingkan dari kumpulan cerita karya Maggie Tiojakin sebelumnya seperti “Balada Ching-Ching” atau pun novelnya yang berjudul “Winter Dreams”. Kentara kalau “Selama Kita Tersesat di Luar Angkasa” punya eksplorasi ide yang lebih luas, tidak membahas tentang apa yang ada di bumi dan sering menjadi isu di tengah sosial atau masyarkat. Dari keseluruhan cerita-ceritanya saya banyak melihat isu historikal yang juga terlibat (seperti pada cerita “Kristallnacht”) dan dirangkai secara apik serta nyata. Pun dengan hal-hal yang kekinian, yang jarang diangkat menjadi tema utama bagi banyak penulis, tapi lewat kepiawaian seorang Maggie Tiojakin dalam meramu kata, dengan mudahnya beliau bisa menyulap sebuah dunia permainan online menjadi sebuah dunia yang nyata dan seru untuk diperbincangkan dalam kata-kata.

“Selama Kita Tersesat di Luar Angkasa” melanggar banyak kaidah-kaidah bercerita. Jika dulu di Sekolah Dasar banyak dibahas mengenai alur yang runut; jika ada introduksi, pasti ada problema, lantas menanjak ke bagian klimaks, dan anti-klimaks. Well, tapi pembaca jangan terlalu berharap hal-hal semacam itu terjadi pada kumpulan cerita Maggie Tiojakin yang satu ini. Nyaris tidak ada konflik. Sekalipun ada, pembaca pasti diajak bermain petak umpet, dan menemukan di mana konflik yang dimaksud oleh penulisnya. Apakah di depan? Belakang? Atau jangan-jangan tidak ada konflik sama sekali? Dan untuk jawaban, sepertinya penulis tidak ambil pusing; biar pembaca sendiri yang menjawab kebingungan mereka dalam hati.

Dalam seksi “Mengupas Absurditas…” yang disajikan Maggie Tiojakin, saya juga menyadari kepelikan lain dari cerita-cerita dalam “Selama Kita Tersesat di Luar Angkasa”, yaitu dari nama-nama tokohnya. Di cerita pertama yang bertajuk “Tak Ada Badai di Taman Eden”, nama yang dipilih Maggie Tiojakin sangatlah aneh, Anouk dan Barney. Seringnya dari sebuah nama, saya mencoba menerka, di manakah cerita ini mengambil latar, tapi dari sebuah hibrida kedua nama tersebut, saya pun lagi-lagi menjadi bingung. Apakah ini mengambil era-era sedikit pra-sejarah, tapi Barney adalah nama modern, yang mungkin saja tak sengaja terinspirasi dari komedi situasi “How I Met Your Mother”. Pun dengan nama-nama seperti SoAn So yang sedikit ke-Korea-Korea-an. Lalu, Paprius, yang awalnya saya sangka Papirus. Masih banyak lagi karakter-karakter bernama unik yang dicampuradukkan penulisnya ke dalam satu cerita.

Tapi, terlepas dari semua hal-hal absurd itu, gaya menulis Maggie Tiojakin memang yang paling saya kagumi. Mulai dari “Fiksi Lotus”, hasil terjemahannya; “Winter Dreams”, novelnya; lantas “Balada Ching-Ching”. Ramuan kata-katanya selalu memberikan sebuah nyawa. Dari sebuah latar belakang karakter dan ide yang sangat random, Maggie Tiojakin masih saja dapat berkoar-koar, hingga ke bagian nyaris akhir, membuat pembacanya percaya, kalau cerita ini ditulis dengan sebuah tujuan. Padanan katanya juga unik. Membandingkan dengan tulisan lain, gaya menulis Maggie Tiojakin dalam  “Selama Kita Tersesat di Luar Angkasa” mengingatkan saya pada gaya menulis Leila S. Chudori, yang mana banyak memadu-padankan kata-kata personifikasi untuk hal-hal yang tidak lazim. Seperti pada “Ro-Kok” dan “Jam Kerja”. Kendati lebih banyak narasi yang mendominasi, tapi cerita tetap terasa cerkas, seksi, dan terasa menghibur. Mungkin perbedaan antara Maggie Tiojakin dan Leila S. Chudori adalah pada hawa terjemahannya. Kalau Leila S. Chudori punya nyawa yang sangat Indonesia, Maggie Tiojakin, khususnya dalam “Selama Kita Tersesat di Luar Angkasa”, punya hawa yang menyeret gaya terjemahan karya-karya klasik, yang tidak terlalu main dalam diksi, tapi lebih ke sebuah pesan yang tersirat dari percakapan singkat.

Dari keseluruhan ceritanya, beberapa cerpen yang saya sukai: “Tak Ada Badai di Taman Eden”, tentang kisah percintaan dua orang muda, Anouk dan Barney. Sebagai pembaca awam, saya menyukai dialognya yang mengalir tapi punya maksud kedua.

 

“Anouk meyakini bahwa setahun sekali langit pecah berkeping-keping dan meninggalkan alam yang tidak pasti, sementara Barney menghabiskan tiga ratus enam puluh empat hari dalam setahun memungut kepingan tersebut dan menyusunnya kembali, menciptakan sebuah ilusi.” –Selama Kita Tersesat di Luar Angkasa, hlm. 4

 
 
Dan dengan tak kalah indahnya, “Kristallnacht” sebagai cerita kedua, membuat saya tertegun akan realita sebuah fakta sejarah. Ceritanya banyak sedikit mengingatkan saya pada biografi seorang Anne Frank, seorang gadis Yahudi yang bersembunyi di ruang rahasia selama bertahun-tahun untuk melindungi diri dari serangan kelompok Nazi. Tapi, sebuah nama Shir menceritakan kisahnya seperti layaknya sebuah dokumentasi wawancara tentang keluarganya dan kejadian malam itu ketika ia dibawa melarikan diri ke London. Dari sebuah cerita yang singkat, saya tahu, Maggie Tiojakin pasti membutuhkan banyak riset agar membuat cerita ini terasa meyakinkan. Dan begitulah cerita tersebut berdampak, memang saya merasa seperti bukan sebuah fiksi. Dan satu lagi yang paling saya kagumi, kalau kebanyakan penulis ingin membanggakan hasil risetnya dengan memajang kalimat-kalimat sulit di dalam ceritanya, dalam “Kristallnacht”, kisah tersebut tidak terasa seperti kamus di dalam fiksi, alih-alih, bersifat membangun situasi menjadi lebih nyata.

Secara keseluruhan, “Selama Kita Tersesat di Luar Angkasa” bisa dibilang cukup menghibur. Terlebih bagi orang-orang yang menganggap diri unik, “Selama Kita Tersesat di Luar Angkasa” punya gagasan yang sama, yaitu keluar dari lingkaran mainstream, yang mana para penulis lain berlomba-lomba mencari konflik yang “wah” dengan tajuk penyelesaian yang tidak kalah “wah”. “Selama Kita Tersesat di Luar Angkasa” sendiri malah memilih bersoliter dengan ide yang random dan tidak memikirkan pangkal dan ujung cerita.

Dari 5, saya ingin memberikan 4 untuk keberanian Maggie Tiojakin dalam mengambil risiko. Seaneh apa pun beliau bercerita, tetap saja gaya bahasanya selalu saya acungi jempol.

Advertisements

4 thoughts on “Selama Kita Tersesat di Luar Angkasa – Maggie Tiojakin

  1. Ini salah satu kumcer favoritku ^-^
    Aku suka bagaimana gaya penceritaan Mbak Maggie yang agak berbeda dengan penulis Indonesia pada umumnya. Aku rasa beliau memang suka membuat pembaca menebak-nebak tentang cerita yang beliau tulis. Juga, aku suka bingung sebenernya pas baca buku ini karena kadang nggak ngerti maksudnya. Kadang ceritanya datar, tanpa plot tapi sanggup bikin aku terus mengikuti ceritanya sampai akhir.

    • Selera kita sama kalau begitu 🙂 saya selalu doyan dengan tulisan-tulisan sekaligus karya terjemahan beliau. Banyak teka-teki dan selalu mengundang diskusi.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s