The Whispering Skull ‘Tengkorak Berisik’ – Jonathan Stroud

 
 
Judul                     : The Whispering Skull ‘Tengkorak Berbisik’ (Lockwood & Co. #2)
Penulis                 : Jonathan Stroud
Penerjemah       : Poppy D. Chusfani
Penerbit              : Gramedia Pustaka Utama
Terbit                    : Cetakan pertama, Januari 2015
Tebal                     : 488 halaman
Rate                       : 5 / 5

  

“Benda itu berbahaya dan jahat, dan memiliki potensi untuk mengubah kehidupanku selamanya. Benda itu berupa tengkorak.” –Lockwood & Co: Tengkorak Berbisik, hlm. 51

 
 
Setelah memecahkan kasus Undakan Menjerit beberapa bulan lalu. Agensi pembasmi hantu Lockwood & Co. tak lagi sekadar menjadi buah bibir, jasa mereka semakin dikenal, pun dengan banyaknya klien baru yang berdatangan.

Lucy yang datang tujuh bulan lalu tak ayal menunjukkan bakat yang kian fantastis. George, dengan bantuan Lucy, terobsesi memecahkan kasus benda berbahaya berupa tengkorak yang bisa berbicara di dalam wadah-hantu. Hantu tipe tiga yang nyaris tidak pernah ditemui oleh agen manapun.

Sementara dua orang ekskavator memerlukan jasa mereka; menyelidiki makam Edmund Bickerstaff—seorang dokter yang hidup pada zaman Victoria. Strategi yang disusun Tony Lockwood sekejap menjadi kacau. Mereka tak sendirian. Para agen Fittes, terutama Quill Kipps dan kaki tangannya, yang tak kenal lelah mengorek serta menguntit Lockwood & Co. untuk mendapatkan segala informasi.

Di malam kala mereka mengunjungi makam, sejurus saja sebuah hantu mengerikan lepas dan benda yang seharusnya menjadi Sumber malah lenyap dicuri dari peti mati Brickenstaff. Dan di kala yang nyaris bersamaan, tengkorak yang menjadi obsesi George bergerak di dalam wadah-hantu.

Apakah tengkorak itu hendak memperingati mereka akan sesuatu atau justru menjerumuskan mereka ke arah yang salah?

 
 

Dibuka dengan sangat brilian, seri kedua Lockwood & Co., “The Whispering Skull” tidak sekonyong-konyong membiarkan pembaca masuk ke dalam konflik tanpa diberi latar belakang terlebih dahulu mengenai Lockwood & Co. sendiri. Setelah lama menunggu, menimbang-nimbang untuk membeli (yang dikarenakan harga yang cukup mahal), saya pun agak lupa-lupa ingat mengenai buku pertamanya, tapi Stroud dengan teknik penulisannya yang cerdik, sengaja membuat bagian introduksi. Seperti halnya menonton film pemburu hantu, “Ghostbuster”, contohnya. Pembaca memang ditempatkan di tengah adegan aksi yang mencekam, lantas cerita pun kembali, menapaktilaskan kejadian-kejadian serta kasus-kasus terdahulu yang membuat Lockwood & Co. menjadi tenar seperti sekarang.

Teknik yang pas, idenya pun tak kalah hebat dengan buku yang pertama. Kendati masih memiliki pola gaya bercerita yang sama. Serta susunan kasus yang tak jauh berbeda. Tetapi, seperti yang diceritakan oleh Lucy, sebagai sang narator, kini Lockwood & Co. memang semakin sibuk, sehingga tidak seperti di buku pertama dulu, masih ada adegan-adegan menunggu—santai sambil minum teh Pitkins di gedung tua. Di “The Whispering Skull”, lebih banyak adegan laga yang kompetitif, terlebih dengan kemunculan agen saingan lain yang iri dengan ketenaran Lockwood & Co.

Dalam “The Whispering Skull”, konfliknya lebih terfokus kepada satu kasus utama yang silih berkait dengan kasus lain. Berbeda dengan “Screaming Staircase” yang masih menyorot beberapa kasus lain yang tidak saling berhubungan. Genre misterinya pun lebih terasa di dalam “The Whispering Skull”. Membaca “The Whispering Skull” terasa seperti menonton seri teve “Supernatural” ala Winchester bersaudara. Mencekam. Misterius. Sekaligus banyak adegan adu jotos.

Gaya bercerita yang diusung Jonathan Stroud dalam “The Whispering Skull” masih sama menariknya dengan di buku pertama. Kesan deskriptifnya yang menyeluruh membuat pembaca masuk ke dalam cerita. Terutama di bagian aksi laga, penyelidikan, dan perburuan. Satu per satu hantu unik dijelaskan dengan saksama, membuat efek ngeri kian terasa. Kendati demikian, sebagai seorang narator, Lucy, tidak membuat hawa horor mendominasi keseluruhan cerita. Sebagai suatu agensi yang tergolong sedikit amatir, Lucy kerap membawa pembaca ke arah monolog-monolog yang terasa ringan, kocak, dan satir. Mulai dari ungkapan mengejek yang pelik, dibuat-buat, seperti halnya orang Inggris tulen mengomentari kegagapan serta keteledoran satu sama lain.

“The Whispering Skull” punya alur yang menarik, dibuka dengan introduksi yang informatif, seperti yang saya jelaskan sebelumnya. Seperti halnya, “Screaming Staircase”, “The Whispering Skull” pun dibagi menjadi enam bab utama dengan kasus berbeda-beda tapi saling bertaut. Hingga berakhir di sebuah bab akhir, yaitu bab yang berisi penyelesaian dari kasus-kasus sebelumnya.

Sudut pandang berceritanya masih dibuat dari sudut pandang Lucy, sebagai agen amatir, yang baru bergabung tujuh bulan yang lalu. Tapi sebagai seorang newcomer, Lucy di “The Whispering Skull” lebih terlihat eksis ketimbang di buku pertama, yang lebih banyak menceritakan tentang rasa penasarannya terhadap Lockwood. Ia terlihat lebih berani, dari segi sikap, pun dalam mengambil keputusan. Terlebih dengan adanya saingan dari para agen Fittes, Lucy yang awalnya dianggap sebagai pengikut Lockwood, tak ayal menjadi sasaran empuk Kipps, yang naksir dengan bakat hebatnya.

Selain penokohan yang tereksplorasi secara baik, Jonathan Stroud tak lupa membawa nuansa otentik Inggris yang kental di dalam plot seri Lockwood & Co. Mulai dari kebiasaan, celotehan, seloroh, juga setting dari tempat-tempat seram di ceritanya, semuanya memang asal comot. Dari narasi yang deskriptif, juga nama-nama yang asing, tapi terkesan sangat Inggris, mampu membuat pembaca percaya dengan keberadaan takhayul yang bersangkutan dengan para hantu yang tengah diburu agen Lockwood & Co.

Dari lima, rasanya saya masih akan memberikan lima bintang untuk “The Whispering Skull”. Kalau di “Screaming Staircase”, saya sebagai pembaca dikejutkan dengan sebuah ide yang baru tentang sebuah agen pemburu hantu, kini di buku kedua, performa Lockwood & Co. justru meningkat. Dalam hal kekompleksan cerita, pun dari banyaknya genre yang Stroud ramu di dalamnya. Ada laga, horor, misteri, dan apa lagi? Meski tak ada segi roman, “The Whispering Skull” sama sekali tidak membosankan, masih ada celotehan-celotehan konyol milik Geroge dan perdebatan lucu antaranggota Lockwood & Co. yang sama sekali tidak boleh dilewatkan.

 

 

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s