3 (Tiga) – Alicia Lidwina


   
Judul                     : 3 (Tiga)
Penulis                 : Alicia Lidwina
Penerbit              : Gramedia Pustaka Utama
Terbit                    : Cetakan pertama, Juli 2015
Tebal                     : 320 halaman
Rate                       : 4 / 5

 

“Ketika kau jatuh cinta … kau bisa melarangnya, tapi kau tidak bisa menolaknya.”Tiga, hlm. 89

 
 
Berita itu datang tanpa ada orang yang tahu, tiba-tiba saja semua orang berpakaian serbahitam dan Nakamura Chidori harus melihat Hashimoto Chihiro terbujur kaku di dalam peti mati. Ia masih mengenal senyum tulus itu. Senyum yang kembali membuatnya dirundung rasa bersalah.

Setelah tujuh tahun lamanya tidak saling bertegur sapa, Hashimoto memutuskan bunuh diri dan meninggalkan dirinya. Nakamura berpura-pura tidak lagi mengenal, tapi Inspektur Yamamura mendesaknya membuat alibi ketika melihat pesan terakhir Hashimoto, sebuah guratan angka tiga merah yang menggores lantai.

 

S  : Bagaimana dia meninggal?
N : Dia melompat dari puncak gedung sekolah.
S  : Mengapa?
N : Tidak ada yang tahu.
S : Hashimoto selalu bahagia selama ini. Aku tidak percaya. Orang bahagia tidak akan bunuh diri.
N: Dia tidak bunuh diri, dia hanya melompat dari atas gedung.
S : Apa bedanya? Dia mengakhiri hidupnya sendiri.
N : Tidak, dia membebaskan jiwa dari dalam raganya.

Tiga, hlm. 27

 
 
Nakamura masih tidak percaya kalau Hashimoto akan melompat dari gedung sekolah. Melihat sosoknya yang begitu gembira, senyumnya yang tak pernah lekang oleh waktu, lantas apakah lantaran Nakamura mengingkari janji itu?

Menghadiri pemakaman Hashimoto, Nakamura tahu, ia akan bertemu dengan Sakamoto Takahiro. Pria yang ia cintai diam-diam kendati ia pun tahu, Hashimoto mencintai pria yang sama ketika mereka bertiga masih mengelu-elukan janji persahabatan. Sudah tujuh tahun ia coba tutupi perasaan itu, pergi tanpa sepengetahuan kedua sahabatnya, pun ditinggal meninggal ibunya. Nakamura kini tak ayal dihantui perasaan dan bayangan menakutkan itu. Di antara memori persahabatan yang begitu indah, Hashimoto datang menagih sebuah janji dan impian yang harusnya mereka lakukan bersama.


   
“Tiga” merupakan karya debut Alicia Lidwina yang bisa dibilang cukup mengagumkan. Sampul depannya terlihat sedikit menipu, dan sejujurnya, jika tidak melihat sinopsis, saya pikir ini akan bercerita mengenai sebuah cinta tanpa dilatari apa-apa, seperti novel roman Indonesia pada umumnya. Tapi, melihat nama-nama yang ada di sinopsis belakang—Hashimoto, Nakamura, dan Sakamoto, rupanya Jepang yang menjadi latar utamanya malah digeser dengan kesan misteri dari keberadaan siluet burung dan nuansa warna latar yang cenderung gelap. Secara genre, “Tiga” bukan novel misteri thriller yang menakutkan. Hawa tenang dan sangat Jepang yang membalut kisah persahabatan antara Hashimoto, Nakamura, dan Sakamoto lebih dapat digolongkan ke arah novel memoar, yang mana tiap lembarnya menceritakan bagaimana ketiganya dapat bertemu, bersahabat, kemudian memutuskan untuk mematok sebuah impian untuk membangun sebuah koji in—panti asuhan. Dan kehadiran misteri itu hadir, ketika satu di antara tiga sahabat tersebut memutuskan untuk bunuh diri, sehingga Nakamura, sebagai seseorang yang biasa-biasa saja mencoba untuk menggali masa lalunya yang coba ia kubur dalam-dalam.

Seperti alurnya yang realistis dan sederhana, gaya bahasanya pun dapat terbilang serupa. Lewat deskripsinya yang mendetail, pada mulanya, di bagian prolog dan perkenalan, saya sempat merasa terkejut jika seorang Indonesia yang menulis novel “Tiga”. Pemilihan kasus bunuh diri, penuturan monolognya yang tegas, dan minimnya dialog antar-tokohnya terlihat seperti novel-novel Jepang kebanyakan, yang punya kesan serupa, yaitu kesan sedih, kesepian, dan tradisi bunuh diri yang memang marak terjadi di sana.

Memang sedikit bertele-tele di bagian awal, tapi dengan rangkaian katanya yang mendayu-dayu tersebut, Alicia Lidwina seakan-akan dapat membangun atmosfir Jepang dengan baik. Wawasannya mengenai Jepang juga dibilang luas, tidak hanya nama perimeter dan kata kebendaan yang kerap dicantumkan, tapi tradisi-tradisi yang mewarnai kesehariannya terasa nyata dan meyakinkan pembaca.

Dan untuk kesan misterinya, saya menyukai tiap simpulan babnya, menuju pergantian ke babak selanjutnya, kentara Alicia Lidwina menggunakan sebuah metafora yang cantik, yang cukup memusingkan pembaca. Tapi, saya suka dengan sensasi itu, yang mana sebagai pembaca, yang disuguhi oleh kebudayaan yang begitu tenang dan soliter, kembali dikompori menjelang akhir bab agar tetap penasaran dengan keseluruhan rahasia yang coba ditutupi oleh Nakamura.

Hanya saja saya merasa permainan gaya bahasa yang Alicia Lidwina bangun di bagian awal sedikit tidak konsisten menjelang klimaks. Di bagian klimaks, bagian tersebut tetap menarik, saya menyukai perkara yang ia bangun lewat kebudayaan-kebudayaan Jepang yang begitu independen dan cenderung liberalis, tapi dari segi bahasa, sebuah ketenangan dan ketidakacuhan tokoh Nakamura di awal seperti diombang-ambing dengan sederet analogi-analogi yang sedikit hiperbolis, hingga akhirnya mencuatkan kesan penulis Indonesia.

Secara alur, genre misteri yang memang menjadi penyokong utama novel “Tiga” benar-benar disanding dengan alur yang menarik. Lewat tahun-tahun yang berlalu, selama tujuh tahun lamanya, Nakamura tidak menuturkan seluruh rahasianya dengan begitu saja. Permainan alur bolak-balik seperti ini memang agak jarang ditemui pada novel Indonesia, tapi merupakan terobosan baru yang baik dan sudah sangat sering digunakan pada novel terjemahan. Selain bisa mengundang rasa penasaran, sebuah ide yang sederhana pun dapat berkembang menjadi sebuah kisah penuh misteri yang mengajak pembacanya untuk bermain teka-teki.

Dari keseluruhan yang coba dibangun oleh Alicia Lidwina dalam “Tiga”, saya paling menyukai penokohannya. Seolah penokohan dan gaya bahasa sudah menjadi satu paket. Sama-sama tenang, mengalir, dan menjebak. Keberadaan Nakamura khsusnya yang sukses membuat saya tidak bisa berhenti membaca. Di bab awal saya mencoba memperhatikan percakapannya dengan Inspektur Yamamura, terlepas dari goresan angka “tiga” di lantai, memang sedikit bertele-tele, tapi lewat itu saya seperti menjelma menjadi seorang detektif, menelaah kalau ada yang aneh pada dirinya. Mirip ketika saya membaca novel Jepang terjemahan, seperti pada novel Haruki Murakami dan Lily Franky, Alicia Lidwina pun sukses menjebak saya pada karakter Nakamura yang tenang dan hidup bersoliter. Dengan celotehan otaknya yang kacau-balau dan minta disisir ulang. Tapi, untuk memunculkan kesan metropop, keberadaan cinta diam-diam tersebut pun bisa dibilang menjadi penghibur yang jitu. Entahlah. Ada sesuatu yang kompleks yang berkerubung di antara tiga sahabat tersebut, bukan sekadar cerita remaja yang saling tertawa dan memergoki lawan jenisnya menolak perempuan yang tengah menyerahkan surat cinta, tapi ia lebih kepada pemikiran yang bermetafora yang gelap dan penuh masa lalu yang kelam.

“Tiga” boleh dikata sangat Jepang, bukan dari latar tempat saja, tapi dari suasana, tradisi, seperti yang saya sebutkan sebelumnya, “Tiga” memang pas dilabel sebagai novel dewasa. Sebagaimana lingkungannya yang metropolis, saya menikmati keberadaan kebiasaan merokok, bir, rumah bordil, dan tradisi bunuh diri yang menjadi latar belakang ceritanya. Seolah tiap kepala yang muncul di lembaran kertasnya punya pemikiran yang berat dan perlu dituntaskan dengan bantuan asap. “Tiga” menjadi punya kesan elegan, berbobot, dan ditutup dengan sebuah premis yang pendek tapi sedemikian menyentil hati kecil.

Dari keseluruhan saya plot, penokohan, gaya bahasa, hingga premis penutupnya, saya ingin memberikan empat dari lima. Dari ide yang sederhana, pengemasan Alicia Lidwina bisa dibilang top. Untuk ukuran novel debut, jelas, potensinya perlu diperhitungkan di anatara novel kontemporer lainnya. Bukan sekadar novel roman picis, yang bisa menyebutkan kemesraan di tiap lembarnya, tapi tak ayal membawa pembaca kepada pemikiran selanjutnya, apa makna cinta sesungguhnya?

 

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s