Orange – Windry Ramadhina


 
 
Judul                     : Orange
Penulis                 : Windry Ramadhina
Penerbit              : GagasMedia
Terbit                    : Cetakan pertama, 2015
Tebal                     : 306 halaman
Rate                       : 4 / 5
 
 

“Kalau begitu, kita jodohkan saja Diyan dan Faye.” Orange, hlm. 36

 
Situasi menjadi serba-pelik ketika ide itu terbersit dari benak Indra Adnan. Dan Meilanie Muid kini mulai mempertanyakan dirinya. Mengapa ia setuju atas ide kawan bisnisnya? Faye mungkin sempat menjadi pemberontak keluarga Muid, tapi mereka perlu seseorang untuk menjadi penerus bisnis Ahmad Muid.

Faye terpaksa ditunangkan. Setelah janji tololnya mengenai sekolah fotografi di New York dan bekerja di studio Erod Matin. Ia harus mendengarkan kata-kata orangtuanya; bertemu dengan Diyan Adnan, eligible bachelor nomor satu di ibukota. Bukan perawakannya saja yang tampan, kekayaannya berlimpah, tak ada tender yang tak bisa dimenangkan olehnya. Tapi sayang, setahun lalu hatinya hancur, mengejar cinta Rera yang meninggalkannya lepas landas ke Paris.

Diyan masih terbelit perasaan di masa lalu, kendati Faye mencoba untuk mendekati dirinya. Tidak ada kata cinta di antara keduanya, alih-alih, dijodohkan. Sementara Zaki Adnan mengincar perempuan mungil itu dari jauh. Siapa yang akan Diyan pilih? Rera atau Faye?

 
 

Membaca “Orange” dan melihat takhta kerajaan bisnis Adnan yang dielu-elukan, sempat mengingatkan saya akan kerajaan keluarga Hanafie yang dibangun oleh Sitta Karina. Hanya bedanya, Sitta Karina lebih ceriwis dengan gaya semi-chicklitnya, Windry Ramadhina dengan “Orange” cetakan terbarunya lebih kuat dari segi permainan alur dan kerapiannya dalam bercerita. Jika dibandingkan dua novel Windry Ramadhina yang pernah saya baca sebelumnya, “London: Angel” dan “Montase”. Entah kenapa, saya lebih menyukai “Orange”. Mungkin dari bahasanya yang terasa lebih luwes. Sedangkan “Montase” dulu yang pernah saya baca, yang mengambil sudut pandang bercerita seorang laki-laki terkesan kaku, sendu, dan sedikit suram.

“Orange” memang terasa seperti novel debut Windry Ramadhina, kendati dibalut dengan sampul baru yang lebih menarik dan ilustrasi yang keren. Tapi, dari idenya dan  pemilihan latar, sesungguhnya sangat sederhana. Intinya tentang perjodohan. Faye yang tidak pernah berpikir untuk menikah dan lebih mengejar karier fotografinya, malah diperhadapkan pada keharusannya untuk menikahi Diyan Adnan. Dan alur cerita selanjutnya memang bisa ditebak. Walau ada dua orang lain yang menjadi biang pengganggu hubungan keduanya, tapi sedari awal menilik sinopsis, pastinya bakal tahu, seperti apa “Orange” akan berakhir.

Kenikmatan membaca “Orange” sesungguhnya bukan terletak pada ide yang sederhana. Alih-alih menjadi sutradara kisah cinta Faye dan Diyan, saya mencoba tetap mengapresiasi eksekusi Windry Ramadhina dalam membungkus kisah sederhana tersebut. Seperti halnya dalam membuka cerita, “Orange” disajikan Windry Ramadhina dengan prolog yang disusul oleh segmen introduksi. Cukup unik. Rata-rata novel lain, penulisnya lebih sering langsung masuk ke dalam alur cerita. Tapi, Windry Ramadhina membuat setiap segmen perkenalan untuk tiap karakternya. Mulai dari Faye, Diyan, Zaki, dan Rera. Dan di segmen ini juga ia menyelipkan ilustrasi keren karyanya sendiri. Dan untuk ceritanya, lantaran perkenalan—namun tidak serta merta kalimatnya dibuat seperti kolom deskripsi job-desk—alurnya tetap berjalan, hingga akhirnya ia membuka cerita lewat peretemuan Indra dan Meilanie yang merupakan rekan bisnis.

Dulu saya pernah berpikir, apakah Windry Ramadhina selalu menulis dengan sudut pandang orang pertama yang seorang laki-laki? Kali ini, di “Orange”, saya menangkap sisi lain dari Windry Ramadhina. Ia menggunakan sudut pandang orang ketiga serba tahu secara maksimal. Tidak seolah menjadi kamera yang mengutamakan Diyan dan Faye, tapi ia pun turut memasukkan tokoh-tokoh yang lain, juga tokoh sampingan untuk menjadi mata rantai yang saling berkait. Gaya berceritanya menjadi lebih luwes. Tidak dibebani untuk mengemban citra kaku seorang laki-laki yang tengah bernarasi. Dan yang takkan pernah lekang dari tulisan-tulisan Windry Ramadhina, yaitu kerapiannya dalam menulis. Banyak karya dari penulis Gagasmedia lain yang saya baca, tapi Windry Ramadhina saya pikir yang paling rapi dan paling matang dalam meletakkan tiap adegan, pun tiap diksinya. Mungkin di “Orange” sebagai novel pertamanya, Windry Ramadhina menggunakan diksi yang lebih sederhana, tidak banyak majas dan metafora, tapi bukan berarti plot-twistnya menjadi kendur dan terasa datar.

Membaca “Orange” terasa seperti menonton drama young-adult. Selain permainan alur antara prolog dan epilognya yang bertaut, penuturan-penuturan tiap adegannya berhasil mempermainkan emosi pembaca. Kalau dibandingkan dengan novel Windry Ramadhina yang pernah saya baca sebelumnya, “Orange” memang terasa cepat dalam bertutur. Tapi, mungkin itu dikarenkan dari banyaknya eksplorasi yang dilakukan Windry Ramadhina kepada karakter-karakternya. Seolah satu per satu dapat perhatian khusus, sehingga terkadang interaksi tokoh satu dan lainnya harus dipotong dan beranjak ke tokoh lainnya.

Dari awal mula pendakian, konflik, hingga pemecahan masalah. Ending adalah bagian kesukaan saya. Tidak bermaksud untuk membocorkan, saya hanya suka dengan pengemasan alur di bagain penutupnya unik, benar-benar dibuat seperti film. Selain sebagai episentrum prolog dan epilog, penyelipan bagian sebelumnya yang berupa surat terasa seperti jargon yang selalu diungkapkan Faye, bittersweet. Antara ingin menyeret pembaca untuk maju, mengejar langkah Faye ke dalam Meadow, pun memaku pembaca untuk diam bersama Diyan dan merenungi kata-kata hatinya. Kompleks tapi sangat keren 🙂

Selain dari alur yang menarik, Windry Ramadhina berhasil mempermainkan emosi saya lewat tokoh-tokohnya. Tapi, seperti yang saya sebutkan di awal tentang keluarga Hanafie di cerita seri milik Sitta Karina, sama halnya dengan keluarga Adnan di ”Orange”. Di awal, ketika membaca intro, sempat kesal juga sih, mengapa ada Adnan di mana-mana? Dan lewat adanya kepala pelayan seperti Victor dan Seno, Windry Ramadhina memang menciptakan keluarga Adnan seperti negeri khayalan. Agak hiperbolis dan dibuat-buat. Dari hal ini saya lagi-lagi mendeteksi, “Orange” sebagai karya debut Windry Ramadhina. Tapi, lewat karakter yang dibuat sangat jomplang tersebut, karakter kerasa kontras, antara satu dan lain mudah dibedakan. Job desk dan latar belakang tiap tokohnya pun dideskripsikan dengan main. Mulai dari pernak-pernik dunia fotografi, kentara sekali penulisnya paham benar tentang apa yang akan dilakoni oleh karakternya. Tidak hanya kepada karakter Faye dan Diyan, tapi untuk Erod Martin, Niela, dan sederet peran pendukung lainnya. Sehingga, walau karakternya banyak, bukan masalah besar bagi pembaca untuk tetap membaca dan menikmati alurnya.

Di samping tokohnya yang terasa muluk, Windry Ramadhina rupanya memilih latar sentral yang mudah dibayangkan, yaitu Kota Jakarta. Memang ada Paris dan Hong Kong, tapi Jakarta dan macet adalah Jakarta yang sesungguhnya. Saya yang membaca terbitan barunya sedikit curiga, mungkin ini bagian yang sedikit adisi oleh Windry Ramadhina untuk mereparasi cetakan terbaru “Orange”. Tapi, peletakan fenomena macet dan banjir di “Orange” terasa realistis untuk mendukung latar ceritanya.

Secara keseluruhan, “Orange” saya beri empat dari lima bintang. Tapi, untuk novel di genre­-nya (young adult), saya rasa, “Orange” adalah saingan terbesar bagi “Melbourne” karya Winna Efendi di hati saya 🙂 Di terbitan barunya dengan ide yang sederhana, gaya bahasa yang luwes, serta pemilihan sudut pandangnya yang berbeda, “Orange” masih terasa sangat Windry Ramadhina. Plotnya dibuat sangat rapi kendati karkaternya banyak dan saling berkait. Jadi, sekalipun idenya sederhana, plotnya pun mampu mengguncang emosi pembaca.

 

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s