Girl Meets Boy – Winna Efendi


 
 
Judul                     : Girl Meets Boy
Penulis                 : Winna Efendi
Penerbit              : Gagasmedia
Terbit                    : Cetakan pertama, September 2015
Tebal                     : 392 halaman
Rate                       : 3.5 / 5
 
 

Keindahan mimpi bisa bikin kita larut di dalamnya, sampai titik saat ia bisa menghancurkan. Kenapa kita harus memaksakan mimpi? Kenapa kita bersikeras hanya mengejar satu mimpi? Kenapa nggak membiarkan masa depan terbentang bebas, membawa kita ke mana pun kita mau pergi, kalau kita cukup berani untuk menghadapinya?”Girl Meets Boy, hlm. 264

 

Ava menemukan buku harian Rae sebelum ia pindah ke Alistaire School of Performing Arts and Music. Dengan berbekal catatan harian milik kakak perempuannya, Ava menelusuri lorong-lorong sekolah bergaya Eropa yang pernah menjadi dunia Rae. Rae mungkin telah tiada. Tetapi, nama Tirtadirga yang selalu menempel di belakang namanya tak ayal membuat Ava langsung dikenal.

Rae orang yang selalu ceria. Gemilang. Baik prestasinya dalam menyanyi maupun menari. Di mata Ava, Rae adalah seseorang yang sempurna. Sebaliknya, Ava bukan pribadi yang riang. Gaya berpakaiannya tidak menarik mata. Kasual. Dan begitu sederhana. Ia tak banyak bicara dan tidak percaya diri.

Memasuki dunia Rae, Ava disergap dengan banyak hal yang tidak terduga. Pertemuannya dengan Fido—salah satu personil The Manic Misfits, Arabel—drummer gotik yang menjadi teman sekamarnya, Sugeng—si bule Jawa. Lantas, Kai. Playboy yang menjadi pujaan seantero sekolah.

Lewat surat-surat Rae, Ava mengenal Kai. Walau pada mulanya, ia kaget, mengetahui kalau laki-laki yang dimaksud Rae dalam jurnal-jurnalnya adalah laki-laki brengsek itu. Tapi, dengan mengumpulkan segenap keberanian, Ava ingin mengetahui jawaban yang sebenarnya.

Apakah Kai sungguh-sungguh mencintai Rae?

 
 

Ada yang berbeda dari karya kesebelas Winna Efendi. Setelah membahas tentang konflik keluarga di bukunya yang kesepuluh, Winna Efendi memasukkan tema baru dalam senarai genre novel garapannya. Walau di blurb belakangnya tertulis nama Ava dan Kai sebagai tokoh utama, tapi sesungguhnya, saya menangkap kesan lain pada “Girl Meets Boy” yang lebih membicarakan topik sisterhood. Rae yang hadir pada masa lalu tak ayal selalu membayangi langkah Ava di Alistaire dan menuntunnya menemukan banyak kejutan yang bermakna.

Lewat genre sisterhood, Winna Efendi terlihat lebih berani mengeksplorasi ide-idenya walau dari segi pengemasan, gaya bahasanya masih tetap konsisten pada tipe penulisan di karya-karya sebelumnya. Seperti halnya pada “Tomodachi” dan “Happily Ever After”, pada “Girl Meets Boy”, Winna Efendi mencoba menggabungkan kedua idenya yang menyentuh sisi keluarga sekaligus keseruan kisah drama sekolah.

Sekalipun untaian kalimatnya terlihat sama, tapi yang selalu saya tunggu dari karya-karya Winna Efendi rupanya tak lagi tertangkap mata. Winna Efendi yang terkenal dengan gudang quotes-nya, tak lagi menyantumkan quotes-quotes cantik itu di pembukaan babnya, alih-alih merangkumnya dalam percakapan antar tokohnya. Kendati demikian, gaya bahasa Winna Efendi masih menjadi juara di hati. Bagaimana ia meramu kalimat-kalimat menjadi mudah dibaca sekaligus dimengerti. Walau kerapiannya dalam bercerita kadang sering disamakan dengan gaya menulis Windry Ramadhina, tetapi, Winna Efendi sesungguhnya punya gaya becerita yang tidak terlalu menggunakan bunga-bunga kata. Kalimatnya tetap lugas, sehingga deskripsi yang kadang terbilang mustahil, dengan amat mudahnya dapat langsung dibayangkan di benak pembaca.

Ada lagi sedikit kekurangan pada novel kesebelasnya ini, saya menangkap beberapa kesalahan penulisan, terutama pada susunan kalimat yang tertukar-tukar dan tidak jelas juntrungannya. Seperti pada prolog:

 

“Ava ingat pada permen warna-warni, deretan kotak biskuit aneka rasa, sementara aneka bentuk, juga sejuknya hawa dari rak-rak dingin yang menyimpan kotak susu dan makanan beku.” –Girl Meets Boy, hlm. 1

 

Dan beberapa kesalahan serupa yang sekiranya harus lebih diperhatikan pada proses penyuntingan. Akan tetapi, secara keseluruhan dan diimbangi gaya bercerita Winna Efendi yang mengalir, kesalahan-kesalahan tersebut masih dapat dinomorduakan.Terlepas dari itu, “Girl Meets Boy” punya plot yang menarik. Disampaikan dari sudut pandang orang ketiga, membuat penulis menjadi orang yang serba tahu dan mengombinasikan kehidupan Ava dan Rae secara bergantian. Sudah lama Winna Efendi tidak menerapkan plot semacam ini, mungkin terakhir kali saya ingat, plot serupa diterapkannya pada novel “Ai”, yang bergumul pada hal-hal di masa lalu, yang akhirnya punya premis di masa sekarang. Dengan begitu komposisi alurnya cukup menjebak pembaca. Akan tetapi, di bagian awal, dengan sebuah inovasi latar yang unik dan berani, “Girl Meets Boy” sedikit mengulur introduksi latarnya dan meninggalkan efek bosan. Sempat di lembar-lembar awal, saya merasa kecewa. Namun, memasuki konflik yang melibatkan tokoh pria, sudah jelas, semuanya jadi berubah.

Secara penokohan, Ava terlihat paling kontras. Tapi, diakui Winna Efendi pada halaman “Terima Kasih”, kalau The Manic Misfits adalah karakter pendamping yang paling seru. Dan hal itulah yang juga saya rasakan. Kendati sudah keluar dari friend-zone, tapi Winna Efendi punya cara yang menarik untuk menggantikan ciri khas cerita-ceritanya menjadi anggota The Manic Misfits yang punya karakter unik dan amat kontras.

Kalau sekilas dibaca, saya pikir, Fido yang bakal paling banyak dijumpai, yang mana dia seorang penggosip sejati. Lalu, Arabel—penokohannya yang saya rasa paling sempurna. Tidak muluk-muluk. Tapi, lewat dialognya, kesan sinisnya seketika langsung terasa. Ada pula, Sugeng. Dan deskripsi Sungeng adalah yang paling lucu. Walau bukan menjadi peran utama, tapi saya rasa, keseruan sesungguhnya tersimpan pada karakter-karakter The Manic Misfits.

Menaungi para tokohnya, Alistaire School of Performing Arts and Music adalah latar paling berbeda yang pernah saya jumpai dari novel-novel Winna Efendi. Kalau sebelumnya, penulis pernah menggarap “Tomodachi” dan “Remember When” yang keduanya berlatar sebuah sekolah, tapi “Tomodachi” dengan mudahnya saya bayangkan seperti manga Jepang. Dan latar “Remeber When” saya asosiasikan seperti drama-drama Indonesia pada umumnya. Berbeda dengan Alistaire yang dideskripsi begitu unik dan rill. Tiap lorongnya dijelaskan dengan baik. Aturannya, para staf pengajarnya, dan banyak hal lainnya yang dituturkan secara detail. Sayangnya, introduksi tersebut disampaikan secara bertubi-tubi sedari halaman pertama seakan-akan penulisnya ingin pembaca memiliki bayangan yang sama sebelum masuk ke dalam dunia Rae, hingga akibatnya, banyak kalimat yang mengulur-ulur ketimbang dialog yang interaktif.

Perlu kesabaran untuk melewati fase-fase bosan itu dan menemukan keseruan serta amanat-amanat indah dari “Girl Meets Boy”. Ada sedikit saran, mungkin. Dengan peletakan introduksi latar yang berjalan beriringan dengan alur konflik, agaknya bakal lebih menarik, sehingga kesannya seperti diberi tour-guide keliling yang interaktif. Tidak jenuh. Hanya duduk dan memandang ke luar jendela.

“Girl Meets Boy” merupakan hawa baru bagi pembaca setia Winna Efendi. Tidak hanya meninggalkan jejak manis, tapi ada juga pesan yang berarti. Seseorang tidak diajarkan untuk mengakui perasaannya sendiri, pun dalam menggapai mimpi. Kendati sedikit berbeda di awal, “Girl Meets Boy” masih bisa menjadi bacaan yang cukup menarik di pertengahan. Dengan bertemu dengan The Manic Misfits, saya yakin, pembaca bakal betah hingga ke lembar terakhir.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s