Falling – Rina Suryakusuma

9c9b6f0bf1eddaef945e70858a6c740d
 
 
Judul                     : Falling
Penulis                 : Rina Suryakusuma
Penerbit              : Gramedia Pustaka Utama
Terbit                    : Cetakan pertama, Maret 2015
Tebal                     : 320 halaman
Rate                       : 4 / 5
 
 

“Aku tidak menyesal dilahirkan berbeda. Aku cinta setiap jengkal kehidupanku kini. Kalau ada yang kusesalkan, itu hanya satu. Aku terlambat mengenal kamu.” –Falling, hlm. 214-215

 
 

Semuanya akan berlangsung dalam hitungan bulan. Carly dan Seth sudah mempersiapkan semuanya. Mulai dari memilih gedung untuk resepsi pernikahan mereka, suvenir-suvenir lantas mencicipi satu per satu makanan yang akan dihidangkan. Namun, kian lama Carly menjalani rutinitasnya, hatinya kian merasa gundah.

Sebagai salah satu karyawan ODP (Organizational Development Program) angkatan kedua, Carly mungkin bukan orang yang beruntung. Mentor barunya—Maggie—memiliki karier sukses dan etos kerja yang melebihi karyawan lainnya. Sikapnya dingin dan tidak tanggung-tanggung menegur bawahan dengan kalimat pedas.

Pertemuan Carly dan Maggie tidak menuai impresi yang baik. Selain kerjaan yang luar biasa menumpuk, Carly tak lagi memiliki waktu bersama Seth. Maggie memang orang yang kejam saat berkata-kata. Namun, malam itu, ketika Carly diam-diam mencuri dengar pembicaraan telepon atasannya dengan seseorang. Carly tahu, Maggie punya sisi lain, hal yang orang lain tak pernah tahu, namun membuat dirinya selalu berdebar-debar.
 
 

Rina Suryakusuma tak bisa dibilang wajah baru dalam kancah kepenulisan roman. Namun, membaca “Falling” karyanya, yang terbit beberapa bulan lalu, merupakan sebuah jendela yang memberikan hawa baru bagi dunia Metropop Indonesia. Jika sebelumnya di resensi “Critical Eleven” karya Ika Natassa, saya sempat menyinggung masalah gaya bahasa novel Metropop yang cerkas dan ceriwis khas chicklit-chicklit Amerika dan Inggris, nyatanya, walau punya label yang serupa, Rina Suryakusuma bercerita dengan gaya yang amat berbeda.

Dari cover-nya yang manis dan elegan, “Falling” berbicara jauh dari ekspektasi calon pembaca Metropop pada umumnya.  Rina Suryakusuma mencoba mengangkat tema yang masih dianggap tabu di Indonesia dengan pengemasan yang begitu dewasa dan terasa santai, yaitu sebuah genre  L dari LGBT. Yang mana saya nyaris tak pernah menemukannya dikemas dengan gaya Metropop. Kendati sebelumnya pernah menjumpai tema unik tersebut diangkat menjadi sebuah ide cerita, tapi kerap kali hanya sebuah cerita pendek, jarang ada yang memadukannya dengan sebuah latar  berkultur kosmopolit.

Melalui “Falling”, Rina Suryakusuma tidak hanya ingin berbicara tentang romantisme. Dilema hati Carly dan karakter Maggie dengan amat jelas menggambarkan isu LGBT yang masih dicap sebagai keganjilan di mata masyarakat dan para kerabat. Karakter-karakternya berusaha berekspansi—mengabaikan hal tersebut, sembari memasang topeng agar tidak menuai curiga.

Setiap tindakan, solusi, perdebatan antar tokoh, dan premis ceritanya, juga banyak menyuarakan pelajaran hidup.  Moral-moral yang bercerita tentang hubungan dua orang wanita, bagaimana keputusan harus diambil, sekaligus hubungan orangtua dan anak yang tengah merengang selama bertahun-tahun.

Mengingat genre-nya yang menyinggung LGBT, pembaca tak lantas disuguhkan pada adegan-adegan yang tidak senonoh. Dengan penggunaan gaya bercerita melalui sudut pandang orang ketiga, Rina Suryakusuma bercerita dengan begitu rapi, kalimat-kalimatnya mengalir indah dengan diksi yang sangat profesional. Dengan begitu suasana perkantoran yang dibangun penulis sekejap langsung terasa kala memasuki deskripsi pada bagian pertama. Detail-detail mengenai dunia properti diperhatikan Rina Suryakusuma dengan amat saksama. Kentara kalau penulis mengenal benar ruang lingkup setiap karakter yang ia ciptakan. Walau ada sedikit kesulitan bagi saya, yang awam pada dunia pekerjaan Carly, seperti istilah-istilahnya yang bersangkutan dengan penyewaan properti-properti di mall, tapi ceritanya masih dapat ditangkap dengan deskripsi teknis yang dilakukan para tokohnya.

Rina Suryakusuma membuka “Falling” dengan sebuah prolog yang cukup tricky. Solusi yang menurut saya lucu, menjebak, sekaligus sebuah inovasi yang baik. Terlebih bagi pembaca yang belum tahu latar belakang tema buku ini sebelumnya. Pertemuan Carly dan Jo Anne mengingatkan saya dengan adegan pembuka novel “Romansick” karya Emilya Kusnaidi. Duduk bersama sahabat, berbincang sepanjang siang, mengobrolkan hal sembari ditemani kopi. Adegan yang cukup klise. Namun, pada “Falling”, Rina Suryakusuma menyelipkan sedikit demi sedikit klu tentang dilema yang dialami Carly sehingga pembaca bertanya-tanya, apa sih yang sesungguhnya membuat Carly ragu akan pernikahannya dengan Seth? Lantas, cerita pun bergulir mundur ke arah tiga bulan sebelumnya, saat semuanya dimulai.

Secara pola, Rina Suryakusuma lebih menerapkan plot yang kaku, yang pas dengan hubungan profesional antara mentor dan karyawan baru. Hingga menyerempet ke konflik utama, adegan roman yang dibuat oleh Rina Suryakusuma pun tidak ditulis dengan terburu-buru. Penulis membahas sebuah part yang paling saya sukai dari banyak film LGBT, yaitu sebuah fase diorientasi, yang mana tokohnya merasa bimbang, mencari jati diri sebenarnya, dan bertanya-tanya pada diri sendiri, apa yang salah pada dirinya?

Sedari awal hingga penutup, plotnya terasa konsisten. Kedua tokohnya tidak digebah untuk lekas mencari sebuah premis. Banyak adegan tarik-ulur yang membikin para pembaca jungkir balik dan kesal, pastinya. Ada adegan-adegan yang saya kira bakal menjadi adegan yang menyenangkan, alih-alih, Rina Suryakusuma berhasil menyulapnya dengan begitu mengejutkan. Kendati saya bilang pembawaan penulisnya tenang, tapi justru ketengan itu yang menjebak pembaca agar tidak antisipasi, alhasil, konflik-konfliknya malah bermunculan tanpa dapat ditebak.

Dalam “Falling”, saya menangkap sebuah benang merah daripada nama-nama tokohnya, yaitu pemilihan nama yang sedikit kebarat-baratan untuk para tokoh utama, seperti Carly, Seth, Maggie, dan Veronica. Secara penokohan, lantaran dilingkupi sebuah narasi sudut pandang orang ketiga yang tenang, rapi, dan penuh istilah kajian dunia properti, para tokohnya menjadi punya citra yang dewasa dan elegan. Sekalipun ada di titik terendah dalam hidupnya, seperti halnya seorang Carly yang berdilema, tapi deskripsi elegan, pendiam, dan cangung selalu saja melekat pada dirinya.

Kalau pun membahas teknik penokohan yang unik dari sebuah novel LGBT, saya kira, semuanya ada pada Seth. Seth yang digambarkan klise seperti tokoh laki-laki pada novel Metropop pada umumnya; tampan, perhatian, dan mapan—agaknya di sini malah menjadi tokoh yang ‘digusur’, dan dianggap sedikit menyebalkan.

Terlepas dari keunikan tokoh dan tema yang diangkat, Rina Suryakusuma sesungguhnya sedikit menolerir latar ceritanya. Penulis menggunakan Jakarta sebagai lingkup latar secara general. Dan menempatkan sebuah pusat perbelanjaan sebagai latar tempat Carly dan Maggie bekerja. Kultur-kultur yang menyinggung dunia chicklit ibukota pun masih ada sempat terlintas lewat kultur-kultur ngopi di sore hari di Starbucks dan ngerumpi saat makan siang. Tapi, seperti yang telah dijelaskan di awal, Rina Suryakusuma terasa amat mempertahankan suasana profesional dari sebuah ruang perkantoran dan kecanggungan yang kerap memagari hubungan antara atasan dan bawahan.

Sedikit saran saya, sesungguhnya saya berharap “Falling” digarap dengan lebih panjang. Seperti ingin tahu sudut pandang yang lain mengenai isu serupa, yang datang bukan dari masalah moral dan norma di tengah masyarakat tetapi pengenai penerimaan dari pihak orangtua, yang mana pada “Falling” dipremiskan dengan berlandaskan sesuatu yang terlalu sederhana. Terlebih dengan tokoh Papa yang dijelaskan penuh dengan rasa sabar, yang agaknya terlalu drama, padahal ruang lingkup yang dibuat Rina Suryakusuma berkata mendekati realita.

Secara keseluruhan, “Falling” merupakan buku yang menarik dibaca. Rina Suryakusuma menyuguhkan sebuah tema yang serius dengan komposisi bahasa yang mudah dibaca. Banyak adegan yang menjebak di tengah alurnya yang indah. Ada kalanya pembaca dimanjakan dan diperolok oleh sikap Carly dan keputusan-keputusannya. Tapi ada kalanya juga pembaca malah dijebak oleh adegan yang mengejutkan. Lewat sebuah isu yang unik, “Falling” seperti berhasil melontarkan pembaca kepada sebuah situasi baru yang jarang dijumpai pada Metropop lainnya.

 
 
cukzcrjucaa8lpf

Advertisements

14 thoughts on “Falling – Rina Suryakusuma

  1. Uhmmm, aku belum pernah nyeruput tulisan Rina Suryakusuma sebelumnya. 😦

    Seingatku novel ini sudah terbit sejak beberapa bulan yang lalu karena aku ingat Rina Suryakusuma sempat bikin giveaway novel ini di twitternya sendiri waktu baru terbit. Eh, ternyata ada lagi giveaway-nya. 😀 Tapi sangat nggak nyangka kalau ini tentang LGBT. Baru tahu di sini setelah baca review-nya.

    Entah ini karena memang udah penasaran sama novel Falling atau penuturan review-nya yang bikin baper ya? Baca review ini kayak lagi berkemul dan mengelus selimut berbahan bludru di tengah hujan salju: empuk! XD

    • Ini juga pertama kalinya saya membaca karya Rina Suryakusuma sih, tapi setelah membaca novel Falling, saya suka sekali dengan gaya menulisnya. Bisa dibilang tenang dan gak neko-neko, tapi tetap aja mengalir.

      Covernya bisa dibilang menipu sih. Saya juga penasaran karena genrenya yang LGBT itu. Terima kasih ya untuk partisipasinya sudah mengikut giveaway 🙂

  2. Ooo, novel yang nggak sesimpel kavernya. Love it. “Aku tidak menyesal dilahirkan berbeda. Aku cinta setiap jengkal kehidupanku kini. Kalau ada yang kusesalkan, itu hanya satu. Aku terlambat mengenal kamu.” –Falling, hlm. 214-215. Belum baca, tapi kutipan ini udah ngajarin keikhlasan, bener-bener Great Novel! Falling punya daya tarik yang luarbiasa. Salut. Top!

  3. Kebetulan aku udah baca di awal2 Juli lalu. Ceritanya baguus. Unique. Novel pertama yg selesai ku baca dalam 6 jam an saja! Meski mengangkat topik yg org awam memandang sebelah mata (L), tapi gue suka dan menghargai sekali karya ini. Dalem banget perasaan2 yg dilukiskan. Memang begitu adanya. Seperti itulah cinta. Perasaan Carly, kebingungannya, kejujurannya, kelemahannya yg tidak bisa melupakan Maggie sekaligus kekuatannya yg luar biasa untuk akhirnya memilih Maggie, her true love. Semuanya begitu hidup. Semuanya berkenyataan. Apa adanya. Dua orang yg saling menemukan. Saling mencintai. Romantismenya tidak jorok, tapi sangat elegan. Dalam novelnya yg ini Rina mampu menghanyutkan saya. Seperti realita.. bahwa hanya dengan duduk bersisian dengan orang yang kamu sukai kamu bisa bahagia luar biasa, sakit perut, atau perasaan absurd lainnya.

    Novel ini ngga basi. Novel ini ngga munafik. “Bukan hal yang menyenangkan untuk tahu bahwa orang yang bisa membangkitkan hasrat terdalammu ternyata bukan kekasihmu. Apalagi jika orang tersebut adalah orang yang benar-benar ‘keliru’ di mata dunia.” #Falling page 131.
    “Dan ketika jari mereka bertaut, Carly benar-benar percaya, ia memang telah pulang.” #Falling page 315. Bukankah memang demikian esensi cinta yang sesungguhnya? Rina Suryakusuma melukiskannya dengan begitu tepat dan mengena.

    Bolehkah aku menjadi temanmu kak Rina Suryakusuma? Aku tidak ingin menjadi fansmu tapi ingin menjadi temanmu. 😊 You did a good work.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s