Ke mana Kau Pergi, Bernadette? – Maria Semple

9aa41fc81e095ec79f482ee588b6fa08
 
 
Judul                     : Where’d You Go, Bernadette? ‘Ke Mana Kau Pergi, Bernadette?’
Penulis                  : Maria Semple
Penerjemah         : Nurkinanti Laraskusuma
Penerbit               : Gramedia Pustaka Utama
Terbit                    : Cetakan pertama, Oktober 2015
Tebal                     : 408 halaman
Rate                       : 3.5/5
 
 

“Kalian bosan. Dan aku akan memberitahu kalian rahasia kecil tentang kehidupan. Kalian pikir sekarang membosankan? Yah, nanti akan semakin membosankan. Semakin cepat kalian belajar bahwa kalianlah yang bisa membuat hidup kalian semakin menarik, semakin baik.”Ke mana Kau Pergi Bernadette?, hlm. 56

 

Bernadette dan Elgie sudah berjanji, jika Bee meraih nilai sempurna saat kelulusan, maka mereka harus mengabulkan satu permintaan dari putri mereka. Dan, apa boleh buat, Bee memang luar biasa cerdas. Ia meminta paket liburan sekeluarga ke Antartika. Bernadette Fox sempat enggan mengenai keputusan itu, Bee memang putri mereka yang luar biasa, hanya saja, liburan ke Antartika bakal menyusahkan dirinya. Sebagai penderita agorafobia, sudah bertahun-tahun ia menutup diri dari masyarakat.

Bernadette boleh jadi senang untuk Bee, tapi ia mencoba memikirkan dirinya; tentang perjalanan dan ketakutannya. Lantas, tanpa sepengetahuan siapa pun, ia meminta seorang teman virtual dari India untuk memesakan beberapa persiapan, termasuk obat-obatan yang mampu membuatnya tenang di sepanjang perjalanan menuju Antartika.

Dengan sebuah arsip tagihan, Elgie mencurigai kelakuan istrinya. Bernadette yang selalu tampak sempurna memang punya segudang masalah. Padahal di Los Angeles dulu, ia tidak begitu. Rekan-rekan arsiteknya amat memuji seluruh karyanya. Bahkan dengan honor sebuah kemenangan, ia mampu mendirikan rumah idamannya untuk keluarga mungil mereka.

Tepat di suatu malam, Bernadette kembali menghilang. Malam itu ketika Elgie membawa seseorang psikiater di ruang tamu, Bernadette tak benar-benar tahu apa yang tengah berpusar di kepala suaminya.

Sementara banyak rekan ternama menanyakan kepergian Bernadette dari dunia arsitektur, Bee pun mencari ibunya lewat berkas-berkas email, tagihan, dan memo sekolah.
 
 

Di mata seorang anak, ibu adalah sosok heroik yang selalu berusaha melindungi diri mereka dalam segala situasi. Namun, karakter yang serba-sempurna itu pastinya punya sisi rahasia. Dan lewat  “Ke mana Kau Pergi, Bernadette?” Maria Semple ingin membocorkan rahasia kecil Bernadette di balik penampilannya yang eksentrik.
Ada yang bilang kalau buku ini lucu. Tapi, menurut saya, “Ke mana Kau Pergi, Bernadette?” malah memiliki makna yang berbeda. Plotnya digagas dengan begitu indah. Penegemasan eksekusinya pun tergolong unik dan cukup menarik. Tetapi, “Ke mana Kau Pergi, Bernadette?” sesungguhnya ingin berbicara mengenai sisi kerapuhan seorang ibu—sosok wanita super yang menjadi pahlawan di setiap keluarga.

Selain judulnya yang menipu (dan membuat orang menerka ini buku racikan roman komedi), lagi-lagi ilustrasi cover-nya pun membuat saya sempat mengira kalau sosok Bernadette adalah seorang remaja. Tidak bisa disalahkan juga. Terlebih beberapa bulan sebelum versi terjemahannya rilis, Gramedia pun sempat menerbitkan buku lain yang punya tema pengidap agorafobia.

Masih ingat dengan Audrey yang anti-sosial itu? Pada mulanya saya berusaha membandingan “Ke mana Kau Pergi, Bernadette?” dengan “Finding Audrey” (Kinsella, 2015). Tapi, jelasnya, kedua buku tersebut membahas dua hal yang amat berbeda. Audrey adalah seorang remaja yang diperhadapkan pada masalah-masalah seputar cinta pertama dan lingkungan sekolah, sedangkan Bernadette adalah sosok seorang ibu. Dan bagaimana jadinya kalau seorang ibu yang seharusnya mengambil kendali atas semua hal menjadi seorang yang punya ketakutan atas lingkungan di sekitarnya?

Pengusungan ide melarikan diri yang terbersit di benak Bernadette tentunya tidak sesimpel ketakutan Audrey dalam menghadapi kasus bullying di sekolah. “Ke mana Kau Pergi, Bernadette?” cenderung membahas masalah yang menyangkut keutuhan sebuah keluarga, mempertahankan bahtera rumah tangga, dan kasus perselingkuhan suami-istri.

Dalam membuka satu per satu rahasia milik Bernadette, Maria Semple punya cara yang unik dan cukup membingungkan. Bernadette yang menjadi pemeran utama bukanlah narator utama pada kisah miliknya, melainkan Bee sebagai seorang pembuka cerita, merengek minta diikutsertakan dalam acara liburan sekeluarga menuju Antartika. Pemilihan narator yang menjebak, membuat saya sempat berpikir kalau Bee adalah kependekan Bernadette, namun, jika sudah melihat blurb di cover belakang bukunya, saya yakin, kasus seperti ini tidak akan terjadi. Alih-alih, dapat disimpulkan kalau blurb-nya merupakan sebuah prolog singkat yang berusaha mengantar pembaca ke bagian selanjutnya, yaitu menyadari kalau sesungguhnya semua lembar bertanggal tersebut adalah arsip-arsip lama milik Bernadette, dan sebagai pembaca, saya diminta untuk mengikuti napak tilas tentang hari-hari sebelum perempuan itu menghilang dari rumahnya sendiri.

Secara sederhana, “Ke mana Kau Pergi, Bernadette?” bisa digolongkan sebagai novel chicklit. Bahasanya mungkin tidak secentil chciklit kebanyakan. Namun, lewat naratornya yang berpindah-pindah, saya menemukan sebuah pola, yang mana para tokohnya gemar sekali bergunjing di belakang orang lain, alias bergosip. Konflik yang diangkat pun memiliki kesamaan dengan novel chicklit pada umumnya, masih berfokus pada konflik seorang perempuan, yang mana ada orang ketiga yang masuk ke dalam hubungan suami-istri mereka. Klise. Namun, dari lempar-lemparan surat yang dirangkai Maria Semple, hal-hal klise menjadi punya kesan berbeda, seperti halnya ada bumbu misteri yang mengajak pembaca untuk terus mengikuti arsip-arsip tersebut dan melacak keberadaan Bernadette.

Hanya saja ada sedikit kekurangan yang saya rasakan untuk tipe gaya bercerita semacam itu. Bisa jadi di beberapa part alurnya melompat. Dan bisa juga diceritakan secara repetitif dari sudut pandang yang berbeda. Hal tersebutlah yang menyebabkan adanya kejenuhan ketika membaca “Ke mana Kau Pergi, Bernadette?” di bagian awal.

Perjalanan mencari Bernadette Fox, sengaja dibagi Maria Semple menjadi beberapa sub-bab kecil, hal ini mengingatkan saya pada buku “Gone Girl” karya Gillian Flynn, yang mana judul tiap sub-bab adalah klu tersendiri untuk mengetahui kasus apa yang akan dibahas Bee tentang ibunya. Bisa jadi itu menuntun pembaca kepada plot yang berisfat maju, tapi bisa saja beralur mundur.

Dan untuk mengobati rasa lambat di bagian introduksi yang penuh misteri, Maria Semple pun memanfaatkan kekonyolan interaksi antar tokohnya untuk menggubah bukunya yang serius menjadi penuh tawa.

 

AYAH PETUALANG: Aku bekerja untuk Messenger.

AKU: Apa itu?

AYAH PETUALANG: Kau tahu Windows Live?

AKU: Mmmm…

AYAH PETUALANG: Kau tahu laman muka MSN?

AKU: Agak….

AYAH PETUALANG: (Habis kesabaran) Waktu kau menyalakan komputermu, apa yang muncul?

AKU: New York times.

AYAH PETUALANG: Yah, ada laman muka Windows yang biasanya muncul.

AKU: Maksudmu yang otomatis muncul waktu kau membeli PC? Maaf, aku pakai Mac.

 
Ke mana Kau Pergi Bernadette?, hlm. 154

 

Walau baru pertama kalinya membaca novel karya Maria Semple, secara keseluruhan, yang saya paling sukai dari “Ke mana Kau Pergi, Bernadette?” adalah teknik penokohan yang memegang andil cukup besar dalam plotnya. Bernadette sebagai seorang ibu rumah tangga yang berpenampilan eksentrik tidak saja dibikin menarik karena kacamata hitam raksasanya. Latar belakang karakter Bernadette dibuat menarik dari segi yang konyol sekalipun rapuh di saat yang bersamaan.Walau diceritakan sebagai arsitektur yang mengasingkan diri, tapi latar belakang arsitektur pun tidak dianggap Maria Semple sebagai hal yang sepele. “Ke mana Kau Pergi, Bernadette?” malah banyak membahas tentang teknis dan penghargaan-penghargaan unik, serta tata cara dalam pembangunan sebuah rumah.

Begitu juga dengan latar belakang tokoh-tokoh lainnya, seperti tokoh Elgie memiliki pekerjaan yang menarik pada perusahaan Microsoft. Sebagia seorang programmer sukses tapi memiliki beban tersendiri dalam menghadapi keganjilan sang istri.

Dan terakhir, Bee sebagai sang narator. Bee agaknya tidak bisa dibilang sebagai karakter anak yang tidak mudah dibohongi. Memasuki sebuah tema yang dewasa, karakter Bee dibuat dengan penuh pengertian dan selalu mencoba memahami ibunya. Karakter yang unik tapi sedikit menjebak, hingga membuat saya bertanya-tanya, berapa umur Bee yang sesungguhnya?

Secara keseluruhan, “Ke mana Kau Pergi, Bernadette?” mirip roller-coaster, ada bagian yang membuat saya merasakan semilir angin melalui hawa sebuah keluarga yang sejahtera. Ada pula tanjakan kecil dan gangguan dari seorang tetangga. Tapi, ketika Maria Semple membuka kartu atas hal-hal lalu yang menimpa karakter-karakternya, “Ke mana Kau Pergi, Bernadette?” bukan lagi kisah yang menghibur, alih-alih, sebuah kisah yang mampu membuat tertegun para pembacanya.

Advertisements

2 thoughts on “Ke mana Kau Pergi, Bernadette? – Maria Semple

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s