The Martian ‘Si Penghuni Mars’ – Andy Weir

e42232f64e088a2015dc757693edf128
 
 
Judul                     : The Martian ‘Si Penghuni Mars’
Penulis                  : Andy Weir
Penerjemah         : Rosemary Kesauly
Penerbit               : Gramedia Pustaka Utama
Terbit                    : Cetakan pertama, Desember 2015
Tebal                     : 528 halaman
Rate                       : 5/5
 
 

“Ancaman terbesar tentunya kehilangan harapan. Kalau Mark memutuskan dia tidak punya harapan untuk bertahan, dia akan berhenti berusaha.”The Martian ‘Si Penghuni Mars’, hlm. 137

 

 

Mark Watney terbangun di Sol 6 dengan antena yang tertancap di perut. Sakitnya bukan main. Ia masuk ke dalam Hab, nyatanya para teman sejawat sudah meninggalkannya sendirian. Enam hari yang lalu, seharusnya mereka berenam. Namun, ketika terjadi badai pasir, Lewis—sang komandan kapal—mengira dirinya sudah mati.

Mark benar-benar seorang diri. Hubungan komunikasi ke bumi terputus, begitu juga dengan persediaan makanan yang menipis. Dari seluruh rangkaian misi perjalanan yang ada, ia hanya akan hidup beberapa bulan di Mars. Dan toh akhirnya ia akan mati juga, tanpa seorang pun tahu tentang keberadaannya.

Namun, Mark tidak menyerah. Dengan kecerdasannya dalam bidang botani dan selera humornya yang kelewat tinggi, Mark memulai misi pribadinya untuk bertahan hidup.

Hidup di planet lain memang sulit, Mars yang awalnya mudah ditebak, nyatanya menyimpan banyak pertanyaan sekaligus kejutan. Bahkan di saat Mark sudah menemukan jaringan untuk membangun komunikasi ke bumi, Airlock 1 yang ia fungsikan melindungi tanaman kentangnya meledak lantaran mal-fungsi.

 
 

Andy Weir memang seorang novelis yang kelewat sinting. Dengan menggabungkan dua kutub yang nyaris tak pernah bersatu, ia menulis “The Martian” bersama karakter fiksi konyol, tapi jenius. Sebagian orang memang berpikir, sci-fi dan komedi tak pernah bersatu, tapi Andy Weir malah membuat genre paradoks itu menjadi saling mengisi.

Membaca “The Martian” dengan deretan teori-teori sains dan kalkulasi matematisnya, meningatkan sebagian pembaca pada karya-karya Michael Crichton terdahulu, yang juga terkenal dengan genre-nya yang berbau elemen komputer dan sains. Namun, dengan rasa humor yang tinggi, “The Martian” dibuat begitu riang, tidak penuh kontemplasi dan emosional seperti yang selalu digambarkan Crichton melalui karakternya, Andy Weir menuliskan Watney sebagai ilmuan yang gemar bercanda tetapi banyak akal. Oleh karena itu, jangan heran jika eksperimen-eksperimen Watney sebagian besar unik dan terlihat mustahil.

Seperti halnya ketika Watney menanam kentang di Mars—di atas tanah yang tidak pernah ada kehidupan tumbuh sebelumnya. Tapi, Andy Weir punya penjelasan tersendiri, mengapa hal itu bisa terjadi. Berikut dengan detail bantuan mesin-mesin di dalam Hab dan MAV yang luar biasa mutakhir. Walau “The Martian” merupakan cerita fiksi, namun kebohongan yang diungkap Andy Weir lewat ceritanya selalu bisa ia buktikan dengan kalkulasi dan teori-teori ilmiah, jadi … siapa yang hendak membantah?

Dari bagian yang ilmiah, “The Martian” rupanya memang dimaksudkan untuk membuat konflik selanjutnya, yaitu misi penyelamatan Watney dari para penghuni bumi. Yang menurut saya, sedikit fiktif. Misi penyelamatan Watney mengingatkan saya pada cerita “Saving Pravite Ryan”, yang mana perlu satu batalion prajurit untuk menyelamatkan satu orang komandan, yaitu Private Ryan. Mirip “The Martian”, Mark Watney diperjuangkan begitu hebat supaya bisa kembali ke bumi, sampai-sampai NASA pun perlu mengeluarkan lebih banyak orang, biaya dan tenaga untuk seorang botanis yang tersangkut di luar angkasa.

Dalam menuturkan cerita logis seperti “The Martian”, Andy Weir memulai kisah pertahanan hidup Watney dengan banyak deskripsi mengenai keadaan Mars. Aksi-aksi rumit melibatkan mesin dan alat berat dengan istilah asing pun dijelaskan begitu detail. Sehingga jika pembaca awam melirik ke dalam halaman-halaman awal, agaknya mereka akan memilih untuk menonton “The Martian” ketimbang membaca bukunya. Namun, hal yang saya suka dari narasi seorang Watney adalah sikap optimisnya yang selalu beranimo, yang mana dalam menjelaskan hal yang terlanjur luluhlantak, Watney selalu menanggapinya dengan ceria dan memiliki akal untuk mencari jalan keluar.

Didukung oleh diksi penerjemah yang sederhana, setidaknya bahasa planet Watney dapat digubah menjadi bahasa manusia yang mudah dimengerti. Tidak seperti versi aslinya, yang melibatkan bahasa Inggris akademis dan istilah alat-alat berat khas NASA, well, mau tak mau saya pun jadi mundur ketika disugguhkan versi aslinya. Sayangnya, dalam versi terjemahan, Gramedia tidak menyelipkan peta Mars seperti yang pada versi Inggris-nya, padahal menurut saya, dengan adanya peta tersebut setidaknya pembaca menjadi bisa tahu letak Acidalia Planitia dan Schiaparelli.

“The Martian” ditulis dengan kombinasi dua sudut pandang. Sudut pandang Mark Watney lewat log entry-nya, seperti jurnal video di dalam Hab, yang bercerita mengenai petualangan dan kegilaannya bereksperimen di Mars. Dan sudut pandang orang ketiga, yang memiliki fokus berpindah dan menyoroti kegitan NASA, khususnya Venkart Kapoor dalam menyelamatkan Watney. Dari kedua sudut pandang, menurut opini pribadi, saya selalu menunggu sudut pandang yang dihadirkan melalui Watney, selain mengocok perut, petualangannya selalu ajaib dan penuh kejutan, ketimbang menyimak perdebatan para dewan di NASA yang punya opini lain mengenai kelanjutan hidup Watney.

Andy Weir pun menulis “The Martian” dengan alur yang maju mundur. Dan sebagian besar memang punya alur maju, yang saya analogikan sebagai lambang optimis dari Watney. Seperti halnya ketika cerita dibuka, Watney langsung bergerak maju, tidak pernah melihat ke belakang, dan selalu berpikir cepat untuk bertahan hidup. Alur yang dihadirkan dari sudut pandang Watney terkesan cepat, lantaran diungkap lewat video log yang mana seolah-olah dituturkan Watney sebagai jurnal pribadinya dari Sol ke Sol. Berbeda dengan alur dari sudut pandang orang ketiga, yang menjelaskan segalanya dengan terperinci, dan banyak mengungkapnya dialog debat kusir.

Mengenai penokohan, agaknya inilah yang menjadi mood booster bagi sebagian besar pembaca. Andy Weir lebih sering menceritakan tokoh-tokohnya secara analitik, terlebih ia ingin berbicara mengenai misi penyelamatan, semuanya harus serba-cepat. Tapi, berbeda dengan Watney yang ia tuturkan lewat sudut pandang orang pertama. Sosok Watney pun bisa dibayangkan melalui dialog dan monolognya yang penuh humor dan sikap arogan yang tinggi.

Dan dari seluruh kru di dalam pesawat Hermes, penokohan yang dibangun oleh Andy Weir memiliki kesatuan dengan setiap anggotanya. Seperti latar belakang pekerjaan yang dimiliki setiap kru memang punya andil yang besar untuk mendukung misi perjalanan tersebut. Contohnya: Watney dijelaskan sebagai botanis, Lewis seorang biologis, Vogel seorang ahli kimia, dan sebagainya. Penokohan-penokohan yang melibatkan pekerjaan dijelaskan Andy Weir melalui keadaan terdesak, sehingga para kru pun harus mengeluarkan keahlian masing-masing untuk bertahan hidup.

Andy Weir tidak sekadar menyebutkan Mars sebagai lokasi terdamparnya Mark Watney. Mars dijelaskan dengan kacamata sains, melalui tingkat oksigen, suhu, kelembapan, lalu fenomena-fenomena alam yang kerap terjadi di sana, seperti halnya: badai pasir. Mars pun tidak dijelaskan sekadar menjadi hamparan tanah merah, tapi relung-relungnya punya nama ilmiah tersendiri seperti Acidalia Planitia, Schiaparelli, dan kawah-kawahnya.

 
the-martian-movie-poster2
 

Setelah membaca bukunya, tentunya tidak lengkap kalau tidak menonton film “The Martian”. Setelah membandingkan keduanya, filmnya dapat terbilang salah satu contoh adapatasi novel yang bagus. Banyak deskripsi rumit yang dituturkan Andy Weir lewat kata-kata direpresentasikan secara jelas dalam visual yang nyata. Walau humor Watney sedikit diminimalisir ketimbang di novel, tapi saya menanggap itu sebagai kesan realistis yang ingin dihadirkan ke mata penonton.

Akting Matt Damon sebagai Watney terkesan lebih emosional di adaptasi filmnya. Tapi, itu lebih masuk di akal ketimbang Watney di buku yang selalu riang gembira walaupun apa yang ia hadapi menyangkut kelangsungan hidupnya.

Dan pada filmnya, “The Martian” punya alur yang lebih tertata. Tidak bolak-balik seperti di novel, pada film, kisah Watney yang ditinggal para kru dijelaskan sedari awal, yang mana penonton sudah tahu, jika pada mulanya mereka berenam, sampai akhirnya Watney hanyut diterjang badai pasir. Sehingga kesan yang dihadirkan pada filmnya terasa penuh kekecewaaan, tidak seperti bukunya yang punya satu tujuan: selalu optimis.

Ada banyak perubahan titel dan nama pada filmnya juga, seperti: nama Venkart Kapoor yang diganti menjadi Vincent Kapoor dan istilah Sol 6 pada buku digubah menjadi Sol 21. Pun dengan akhir ceritanya—tidak akan ada spoiler untuk ending, tapi pada film, kisah Mark Watney ditutup lebih luwes dan menyentuh, tidak seperti novelnya, yang menurut saya dituturkan mirip makalah ilmiah, hanya dengan sebuah konklusi yang merangkum kejadian konyol bin fantastis yang baru saja dilalui Watney.

Keseluruhan, “The Martian” patut dinikmati lewat dua media, novel dan filmnya. Novel mungkin akan terasa lebih menantang, tapi jika berniat membaca, lebih baik tidak menonton filmnya dahulu daripada nanti terlanjur goyah menghadapi hitung-hitungan matematis dan deskripsi panjang-lebar mengenai alat-alat hebat Mars. Tapi, film pun bukan preferensi buruk untuk mengerti keseluruhan alur ceritanya, lantaran terlalu banyak menulis, kadang imajinasi pembaca agak sulit menangkap visualisasi yang diinginkan Weir.

Advertisements

5 thoughts on “The Martian ‘Si Penghuni Mars’ – Andy Weir

  1. Hallo Kak Ching, mampir kesini setelah lihat link ini ada di timeline hehehe.
    Jujur, aku belum baca versi novelnya dan aku belum punya novelnya. Aku bahkan baru tahu kalau The Martian itu adaptasi dari novel, aku memang kurang gaul banget untuk masalah kaya gini hehehe, mungkin karena aku lebih ke movie freak :)))))

    Untuk masalah review, Kak Ching selalu buat aku jadi tertarik untuk ngebaca versi novel yang Kak Ching review–karena again, Kak Ching selalu bisa ngereview semua novel/buku dengan realistis dan jujur.

    Udah sih, gitu aja. Ini komentar memang rada gapenting, tapi mungkin aku akan kesini lagi setelah baca The Martian versi novelnya hihihi last, you’re my fav reviewer 🙂

    • Halo, IJaggys. Eh, kamu mampir lagi 🙂
      Iya, The Martian yang beberapa pekan kemarin sempat jadi box office di bioskop itu memang adaptasi dari novelnya. Menurut saya, novelnya luar biasa sekali. Karena kerumitan yang tergambar di filmnya, benar-benar dituliskan dengan kata-kata sama penulisnya. Jadi, kalau ingin membaca, mungkin agak sedikit bikin ciut hati awalnya. Tapi, bukunya tetap menarik kok. Dan lebih komedi sih, menurut saya.

      Terima kasih lho sudah menyukai reviewnya.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s