[Blogtour & Review] Gravity – Rina Suryakusuma

Cagn3ikUEAA8M_n
 
 
Judul                     : Gravity
Penulis                 : Rina Suryakusuma
Penerbit              : Gramedia Pustaka Utama
Terbit                    : Cetakan pertama, Februari 2016
Tebal                     : 328 halaman
Rate                       : 4 / 5
 
 

“Tidak ada orang sibuk, Cee. Waktu orang mengatakan padamu bahwa mereka sibuk, itu bukan mengacu pada jadwal mereka, melainkan pada urutan prioritas mereka.”Gravity, hlm. 150

 

Cecilia selalu menyukai kejutan. Terutama kejutan menakjubkan di kotak surelnya atau sebuah suvenir cantik yang mungkin saja bertengger di mejanya. Sudah nyaris satu lemari penuh Declan mengirimi perempuan itu suvenir dari negara yang menjadi tempat tujuannya. Dan hal itu malah tak lagi terasa spesial. Berulang kali Cecila mencoba mengerti, Declan akan selalu datang dan pergi. Terutama perihal kecintaannya pada traveling dan profesinya sebagai fotografer.

Hingga pagi itu, Cecilia tak sengaja bertemu dengan Bernard lewat sebuah kecelakaan kecil. Kehadiran laki-laki itu tak ayal menggoyahkan hati Cecilia. Bernard mungkin bukan sosok yang penuh kejutan seperti Declan. Tidak ada hadiah kecil atau pun kemunculan tiba-tiba di Joyride, namun Bernard punya gaya hidup yang stabil dan selalu membuat Cecilia merasa aman.

Cecilia berusaha percaya bahwa Bernard adalah pria yang selama ini ia cari. Tetapi, siapa sangka, ketika ia hendak mempersilakan laki-laki itu masuk ke dalam kehidupannya, Declan yang tak pernah memberinya kabar, serta-merta mengajaknya untuk berkomitmen.

Cee bimbang. Lantas, siapa yang harus ia pilih? Declan dengan seluruh petualangannya atau Bernard yang selalu menyapanya di lantai lima?

 
 

Rina Suryakusuma selalu menyajikan topik inspiratif untuk menjadi topik bercerita. Setelah mengangkat isu LGBT di buku sebelumnya, “Gravity” pun tak kalah seru mengangkat topik yang kerap disinggung oleh wanita paruh baya pada umumnya. “Gravity” tidak saja mengangsurkan bacaan hiburan, alih-alih, tersemat pesan, yang mana perempuan boleh saja disuguhkan kejutan, tapi hidup bukanlah hiburan, hidup adalah masa depan. Dan masa depan tentu saja penuh perencanaan.

Tema “pernikahan” adalah tema klise yang kerap menjadi latar belakang wedding-lit dari sederet buku roman di toko buku, tapi yang membuat Rina Suryakusuma dan “Gravity”-nya berbeda adalah pola pengeksekusiannya yang menarik. Setelah membaca “Falling” tahun lalu, satu hal yang saya simak sebagai keunggulan Rina Suryakusuma, yaitu plotnya yang konstan yang terasa profesional. Namun, kata “profesional” dalam “Gravity” bukanlah sekadar tempelan. “Gravity” diliputi oleh rasa profesionalitas dari pekerjaan para tokohnya yang berbeda-beda. Mulai dari foto editor, fotografer, dan juga business analyst, Rina Suryakusuma menjelaskan job desc masing-masing secara rinci dan penuh istilah, sehingga ketika membaca, pembaca pun seolah-olah seperti dituntun masuk ke dalam kantor Jakarta Channel Week, tempat Cee bekerja. Melihat satu per satu apa yang dilakukannya pada foto-foto yang akan di-layout ke dalam halaman majalah.

Rina Surayakusuma pun punya trademark tersendiri dalam pembentukan karakter dilematis karakter utamanya. Seperti halnya Carly pada “Falling”, karakter Cee di “Gravity” pun cukup membuat pembaca bimbang, kira-kira siapa yang akan dipilih oleh Cee? Terlebih dengan didukung gaya menulis yang runtun dan mendayu-dayu, kesan dilematis pada diri Cee menjadi kuat dan cukup menjengkelkan karena mampu mempermainkan perasaan kedua tokoh laki-lakinya.

Dan menyangkut tema pernikahan, Rina Suryakusuma pun melibatkan banyak pihak untuk berperan dalam “Gravity”. Tidak seperti “Falling” yang menyangkut perasaan dua orang, Cee dalam “Gravity” mempertimbangkan banyak hal mulai dari keluarga, sahabat, dan juga hewan peliharannya. Dengan melibatkan banyak aspek, saya merasa, “Gravity” digarap dengan pemikiran yang begitu serius dan rill, bukan sekadar fiksi cinta, yang mana pernikahan hanyalah didasarkan pada rasa cemburu, cinta, dan kangen ingin bertemu, pernikahan punya kompleksitas yang lebih tinggi lantaran menyatukan dua pemikiran dan dua latar belakang dari dua keluarga yang berbeda.

Menyapa gaya menulis yang selalu dipakai Rina Suryakusuma, walau masih terasa konstan dan dirangkul hawa profesional. “Gravity” bisa dibilang lebih santai ketimbang “Falling”. Pemilihan bahasa yang dipilih Rina Suryakusuma terkesan luwes, juga diintervensi frasa asing dan istilah dunia fesyen yang mirip pemilihan bahasa pada genre chicklit.

Adapun kesamaan gaya menulisnya seperti pada “Falling”, yaitu pada pembukaan, yang mana Rina Suryakusuma membuka ceritanya dengan adegan pertemuan dua orang perempuan di kafe, membicarakan keganjilan terbaru pada hidup mereka, hingga cerita pun bergulir balik ke masa-masa sebelum perbincangan itu terjadi.

Dengan begitu, dapat disimpulkan jika “Gravity” pun disusun dengan alur campuran, yang melibatkan alur maju dan alur mundur. Namun, penggunaan alur tersebut tidaklah mengganggu pembaca, alih-alih, berhasil membuat penokohan yang baik bagi karakter Cee sebagai perempuan yang bimbang, penakut, dan sangat introvert.

Pada bagian awal, “Gravity” mungkin agak nampak membosankan, tidak seperti “Falling” yang langsung disergah seorang karakter super-galak dan suasana ruang kerja yang serba-misterus. “Gravity” menjelaskan sebuah keseharian yang repetitif antara hubungan Bernard dan Cee, sedangkan masalah antara Cee dan Declan yang awalnya dianggap waswas oleh pembaca, malah dikesampingkan dulu begitu saja. Walau demikian, dengan alur yang sedikit mengulur, saya kira, hubungan Bernard dan Cee yang diungkap begitu bertahap terlihat sangat natural, tidak dibuat-buat, dan dituturkan sewajarnya sebagai hubungan yang kerap terjadi di masyarakat.

Mengupas bagian penokohan pada “Gravity”, kentara pemilihan namanya memiliki kesamaan seperti pemilihan nama karakter pada “Falling”. Declan, Cee, dan Bernard, nama-nama yang masih bergaya ke-barat-baratan. Namun, karakter ketiga tokoh pada “Gravity”, menurut saya, nampak lebih variatif dan menantang untuk dieksplorasi. Terlihat dari latar belakangnya yang berbeda satu sama lain, pun dengan sifat yang dominan dan terasa sepaket dengan pekerjaan mereka. Seperti halnya, Declan, seorang fotografer yang cinta travelling,  punya sifat yang impuslif, berani ambil risiko, dan penuh kejutan. Sebaliknya, Bernard si business analyst, punya sifat yang stabil, persisi, dan selalu terencana. Cee yang punya pekerjaan sebagai photo editor profesional, sesungguhnya adalah perpaduan keduanya, sebagai seorang photo editor, ia menyukai kejutan dan inovasi-inovasi baru, namun sebagai orang yang profesional di bidangnya, mau tak mau Cee hadir sebagai sosok yang ingin segalanya tepat, terencana, dan memiliki tenggat waktu.

Kentara kalau Cee memang digariskan memerlukan dua orang itu untuk mengisi prioritas dalam hidupnya. Namun, yang mana pernikahan harus terjadi, ia pun harus memilih satu dari dua “gravitasi” yang bakal menariknya lebih kuat.

 

For me, you’re my gravity. Kamu selalu menarikku kembali. No matter which part I choose, there’s something that leads me back to you.Gravity, hlm. 316

 

Dalam “Gravity”, Rina Suryakusuma pun menghadirkan tokoh side-kick yang cukup lucu dan atraktif. Memang tak dijelaskan secara detail mengenai Nolan, tapi dari tutur bicara dan tingkahnya, Rina Suryakusuma seperti membeberkan dunia majalah yang sesungguhnya. Seorang laki-laki metroseksual dengan pacar laki-laki yang diam-diam ia obrolkan dengan rekan semeja. Namun, demikian, Nolan adalah teman yang baik, saya paling menyukai adegan dialog dan ejekan yang kerap ia lempar kepada Cee, walau terkesan menjengkelkan, tapi kata-katanya cukup quotable untuk membuat seorang teman tercenung.

Membahas latarnya, “Gravity” kentara memiliki latar yang lebih eksploratif ketimbang “Falling”. Walau masih menjadikan Jakarta sebagai lokasi gedung dan rumah kedua tokoh utamanya, namun dengan adanya tokoh Declan, Rina Suryakusuma pun terlihat lebih menantang pembaca melalui nama-nama spot travelling yang atraktif.

Pemilihan kantor Jakarta Channel Week sebagai salah satu latar utama pun memberikan kesan santai pada “Gravity”. Namun, pemilihan kota kedua yang menjadi tempat tujuan Cee, agak terasa kasual, Bali yang dipilih sebagai tempat tujuan wisata sekaligus spot pernikahan yang menarik, terlalu sering diekspos oleh kebanyakan orang. Baiknya, pembaca jadi tidak perlu terlalu lama untuk berimajinasi;  narasi yang disantunkan penulis pun tidak perlu bertele-tele, karena nyaris semua orang tahu, seperti apakah Bali itu. Namun, opini pribadi saya berharap jika Rina Suryakusuma mencari spot untuk lainnya untuk menjadi latar tempat kisahnya, agar pembaca mendapatkan informasi baru sekaligus memperkenalkan tempat yang setidaknya jarang dikunjungi orang.

Secara keseluruhan, “Gravity” memang bisa dibilang lambat di bagian awal, tapi cukup menghibur dan dapat menghanyutkan pembaca di bagian pertengahan. “Gravity” mampu membawa pembaca kepada sebuah kisah yang nyata, jika hidup memang penuh dengan pilihan.

 
 
CagpqBEUsAE88AX

Advertisements

10 thoughts on “[Blogtour & Review] Gravity – Rina Suryakusuma

  1. Menurutku sih, rasanya Gravity ini lebih berwarna daripada Falling. Aku belum selesai baca Falling 😞 tapi emang bener kalau bahasa di Falling cukup berat. Ah, aku jadi pengen Gravity juga 😀

    reviewnya lengkap banget, ketelitian kak Anastasia tinggi juga 😃

  2. Suka sama reviewnya. Aku belum pernqh baca karya Mba Rina sih, tapi dari review ini nth kenapa kok aku jadi berbunga2 gini yah bayangin cerita novel ini? So sweer gimana gitu…

  3. Baru ini aku baca review yang membahas karakter-karakternya dengan sangat dalam. Ditambah lagi memperbandingkan antara Gravity ini dengan karya penulis sebelumnya. Aku selalu suka dan tertarik dengan buku yang tokoh-tokohnya bekerja di industri kreatif. Ada begitu banyak dinamika yang dapat kita nikmati dari kehidupan tokoh-tokoh tersebut.

  4. Kemarin pas Study Tour rencana mau beli novel Gravity ini ke toko buku belakang Taman Pintar di Jogja.Eh lagi pas lg di jalan udh dipanggil aja suruh cepat² kembali ke bus.Rese bgt!Trus nyebelinnya lg ternyata temen aku enggak ke Taman Pintar eh malah belanja buku.Nyebelin bgt!!!
    Semoga dpt deh ni novel soalnya dikotaku tdk ada

  5. aduhai, it’s been a long time since saya baca review model beginian! Sukses bikin saya penasaran sama bukunya tanpa harus kena spoiler yang bikin sakit hati. Kereeen.

  6. Yo, reviewnya keren…lengkap dan mendalam 😀 aku jadi berasa langsung kenal gitu sama novelnya *hohoho~ tapi bener, ngalir aja gitu, ga kerasa*

    Aku belum pernah baca karya Kak Rina. Tapi baca review-an di sini, kayanya kudu nyari juga novel yg pertama deh, penasaran 🙂

  7. Suka banget sama covernya sejak awal diworo-woro. Masih Metropop, penasaran banget dengan kisah cinta yang diangkat di dunia kerja ini. Selain itu, judulnya yang cuma sekata itu menarik banget, aku suka banget dengan judul yang hanya sekata. Tagline di bawah judul juga nyenengin, wishlist banget novel ini.
    Belom baca Falling sih, tapi aku suka dengan metropop sih 😀 Semoga aku berkesempatan baca Gravity >_< Aamiin.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s