The Rosie Project – Graeme Simsion

d04e0d67559e1b071e808c00a659dab5
 
 
Judul                     : The Rosie Project (Don Tillman #1)
Penulis                  : Graeme Simsion
Penerjemah         : Dharmawati
Penerbit               : Gramedia Pustaka Utama
Terbit                    : Cetakan pertama, Oktober 2015
Tebal                     : 368 halaman
Rate                       : 4/5
 
 

“Perhatikan emosi-emosimu selain logikamu. Emosi memiliki logika sendiri. Dan berusahalah untuk mengalir bersama suasana.”The Rosie Project, hlm. 226

 

39 tahun, berpenampilan menarik, dan punya catatan rekor gemilang dalam karier akademis. Don Till, seorang profesor genetika, berusaha mencari perempuan yang tepat untuk dinikahi. Setelah mencoba beberapa kali dengan perantara kencan buta. Don Tillman membikin teorinya sendiri. Merancang sebuah proyek bernama Proyek Istri. Cara kerjanya sangat mudah. Proyek Istri berisikan survei ilmiah mendetail sehingga mampu mendeteksi gaya hidup dan perangai hidup seseorang yang sesuai sebagai mitra hidup Don.

Lantaran Don amat serius dengan Proyek Istri, ia meminta bantuan kepada Gene, koleganya yang merupakan profesor psikologi. Gene yang menganut pernikahan terbuka bersama dengan istrinya, Claudia, tak ayal mempertemukan Don dengan seorang perempuan.

Berambut merah terang dan mahasiswa PhD bidang psikologi, penampian Rosie tak kalah menarik. Tapi tak dinyana, Rosie bukanlah tipe perempuan yang Don cari. Semuanya serba-berkebalikan, bagaimana tidak, Rosie adalah seorang perokok. Dan yang paling Don benci, perempuan itu selalu datang terlambat dan seorang vegetarian.

Rosie bukan tipikal perempuan yang dicari Don, tapi perempuan itu tanpa sangka mengusik hatinya. Impikasinya mudah: 1) bagi Proyek Istri, Rosie dapat berfungsi sebagai kelompok kontrol, 2) kandidat terpilih pun belum ditemukan, 3) Don pun tergerak membantu perempuan itu melaksanakan Proyek Ayah untuk menemukan ayah biologisnya.

 

 

Chicklit yang ditulis pria pastinya jarang dijumpai, apalagi ditulis oleh seorang ahli IT. Di samping kegemarannya menulis skrip drama, Graeme Simsion merombak ide dramanya yang menjadi cikal-bakal “The Rosie Project” menjadi sebuah novel lewat kelas kepenulisan yang dihadirinya pada RMIT. Sebagai seorang pakar IT, Graeme Simsion membuat sebuah tokoh yang tak kalah logisnya, bernama Don Tillman, yaitu seorang pakar genetika. Perangainya jelas aneh. Dan bagi yang sudah pernah menonton sitkom “The Big Bang Theory” dan merasa terkagum-kagum sekaligus pelik dengan tokoh Dr. Sheldon Cooper, bisa dibilang, Don Tillman pun karakter yang kurang-lebih serupa. Don selalu saja menilai hal-hal emosional dengan dasar yang logis. Semuanya harus dijelaskan dengan teoritis dan perhitungan yang matematis.

Namun, apa jadinya kalau teori dan perangai macam itu diterapkan pada perkara cinta? Rosie hadir menguncang hidup Don Tillman. Bukan karena ketidakcerdasannya, tapi menyinggung tentang perkara toleransi. Dan nyatanya, sebagai makhluk sosial yang perlu dan tinggal bersama manusia lainnya, setiap individu perlu kata ‘toleransi’ dan menerima orang lain apa adanya.

 

“Kau harus siap untuk menerima mereka apa adanya. Mungkin kau berharap suatu hari mereka akan sadar dan berubah karena alasan-alasan mereka sendiri.”The Rosie Project, hlm. 295

 

Banyak pihak yang mendebat “The Rosie Project” sebagai chicklit, tapi ada juga yang mempertanyakannya. Selain pada umumnya ditulis dengan karakter wanita, chicklit pun punya kisah yang bercerita tentang tokoh dengan karier pekerjaan yang sukses, rekan kerja yang gemar menghabiskan waktu bersama dengan bergosip mengenai pasangan hidup, berlatar kota metropolitan, dan satu lagi, kencan buta atau hal-hal lainnya yang punya keterlibatan dengan mencari cinta.

“The Rosie Project” tidak gamblang bercerita dengan gaya bahasa chicklit yang centil. Graeme Simsion mengungkap cerita chicklit dari seorang laki-laki. Punya karier gemilang sebagai profesor genetika. Dan pria pada umumnya pun punya gaya bercerita yang terkesan logis. Dan jika chicklit bertokoh perempuan menaruh kegemaran mereka pada dunia fesyen dan belanja, “The Rosie Project” menggambarkan Don Tillman sebagai pria paruh baya yang menyukai film komedi romantis seperti “Casablanca”. Seperti halnya chicklit ala Inggris dan Amerika yang gemar menggunakan metonimi, Don Tillman pun banyak mengomparasikan gaya berpakaian seseorang berdasarkan aktor pada film-film klasik, Humphrey Bogart dan Gregory Peck, contohnya.

Graeme Simsion mengupas setiap bagian ceritanya melalui diri Don Tillman, yang mana ia selalu saja mengimplikasikan kata-kata kajian seperti kepenulisan akademis dalam gaya narasinya. Dialognya pun kaku dan bersifat separuh-separuh. Namun, dengan begitu, sebagai pembaca yang baru mengenal dirinya, pun  langsung tahu, bagaimana perangai Don sesungguhnya. Tidak perlu penjelasan analitik. Don selalu menyinggung pekerjaannya bukan sebagai ahli genetika yang mengajar di sebuah institusi saja, tetapi di setiap aspek kehidupannya. Don selalu membikin aturan yang sistematis dan mematuhinya secara otodidak. Sehingga secara tidak langsung saat ia mencari pasangan hidup, si pasangan pun mau tak mau harus ikut patuh pada aturan tersebut. Dalam hal ini, Don bisa disimpulkan sebagai orang yang egois.

Kepenulisan ilmiah yang diselipkan Graeme Simsion dalam “The Rosie Project” pun disajikan bukan hanya dari pemilihan diksi yang bersifat kajian/akademis, tetapi dari gaya bernarasinya yang mirip survei atau langkah-langkah penetilian, yang mana ia gemar menyelipkan pilihan-pilihan a, b, c, d, seperti halnya mengisi kuesioner.

“The Rosie Project” pada dasarnya diungkapkan dengan alur maju, oleh karena itu, di bagian awal, saat Don masih menjabarkan mengenai hidupnya yang monoton dan serba-teratur, saya sempat merasa jenuh. Saya jamin, Don pun demikian. Hidupnya hanya berkenaan dengan pekerjaan, film, dan aikido. Namun, setelah bertemu Rosie, seperti yang dijelaskan pada sinopsis, kemonotonan itu menjadi terguncang. Walau sesungguhnya, pembaca sudah dapat memprediksi akhir dari kisah Don dan Rosie, seperti tipikal chicklit pada umumnya, tapi “The Rosie Project” menyuguhkan peperangan karakter yang seru. Rosie yang selalu mencari perhatian tetapi Don adalah orang yang tidak peka dan selalu berkurung dalam pemikirannya yang penuh logika. Peperangan itulah yang menjadikan cerita mirip rollercoaster, memperhatikan fase demi fase, dan menjadi gemas sendiri. Don Till, kenapa kau benar-benar mati rasa?

Selain ide cerita yang unik, “The Rosie Project” punya keunggulan dari sisi tokoh yang sudah dijabarkan sedari awal. Don Tillman dijelaskan sebagai satu paket dengan gaya bahasa yang digunakan Graeme Simsion. Jabatan pakar genetika tidak digunakan penulis hanya sebagai tempelan yang menambah inteligensi karakternya. Tapi, dari kegiatan sehari-hari dan seminar yang dibahas Ciri Genetika pada Gangguan Spektrum Autisme bisa diperkirakan seberapa jeniusnya Don Tillman.

Karakter Rosie pun tak kalah menarik untuk diulas, Rosie adalah prepresentasi perempuan metropolitan pada umumnya, yang gemar menghabiskan waktu di pesta, ke bar, dan berpenampilan trendy. Tetapi menurut  analisa Don—lewat peretemuan pertama Don dan Rosie—ia bisa langsung menyimpulkan kebiasaan Rosie yang tidak ia suka: merokok, vegetarian, dan terlambat. Tapi, diri Rosie yang sesungguhnya berada di petikan percakapannya. Rosie mungkin buruk dari segi kebiasaan dan gaya hidup, tapi Rosie orang yang cerdas dan punya rasa ingin tahu yang besar. Dialog yang dibentuk Graeme Simsion untuk karakter Rosie merupakan salah satu hal yang paling saya sukai dari “The Rosie Project”.

Gene dan Claudia pun dua karakter pendukung yang menarik. Gene yang merupakan profesor psikologi, menaruh minat besar pada hal seks, yang mana dirinya mengarang sebuah buku kumpulan gerakan seks yang jitu. Dan Claudia, sebagai istrinya sama sekali tidak keberatan dengan perangai unik suaminya. Keduanya malah menganut pernikahan yang terbuka. Bisa dibilang pasangan Gene dan Claudia secara tidak langsung adalah perpaduan antara kubu Don dan kubu Rosie, sehingga dapat menjadi penasihat yang baik dan jembatan bagi dua karakternya yang bertolak belakang.

Sekilas, saat membaca “The Rosie Project”, pada mulanya saya mengira kalau ceritanya berlatarkan sebuah kota di Amerika. New York, mungkin? Tapi, setelah mendengar kata Shepparton, well, “The Rosie Project” adalah novel kedua yang pernah saya baca, yang mengambil latar tempat Australia. Sedikit dibaca, tentunya tidak terlalu terasa, tapi jika melihat kultur dan orang-orang di sekitar kehidupan Don pastinya bisa dilihat betapa banyaknya orang-orang Asia di sana. Saya mencurgiai ini Sydney, melihat di sana memang populasi orang-orang bermata sipit kadang bisa mengalahkan jumlah orang-orang Kaukasian.

Secara keseluruhan, “The Rosie Project” adalah novel yang brilian. Chicklit terobosan baru. Bukan karena tokohnya yang laki-laki. Tapi, seperti sebuah nuklir yang dijatuhkan dari langit. Lewat “The Rosie Project”, tokoh-tokoh macam Carrie Bradshaw, Serena van der Woodsen, Becky Bloomwood bisa dianggap bukan pasangan hidup terbaik.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s