The Revenant – Michael Punke

cdesjt8uiaekndv
 
 
Judul                     : The Revenant
Penulis                  : Michael Punke
Penerjemah         : Reni Indardini & Putro Nugroho
Penerbit               : Penerbit Noura Books
Terbit                    : Cetakan pertama, Maret 2016
Tebal                     : 385 halaman
Rate                       : 4.5/5
 

“Aku merasakan ketertarikan pada petualangan ini, yang belum pernah aku rasakan pada apa pun sebelumnya dalam hidupku. Aku yakin, keputusanku melakukan ini adalah benar, meski aku tidak bisa memberitahumu dengan pasti alasannya.” The Revenant, hlm. 118

 

Di bawah pimpinan Andrew Henry, sejumlah pemuda dan penjelajah dikerahkan untuk terlibat dalam perdagangan bulu. Kala itu Agustus 1823, Hugh Glass—seorang penjelajah berpengalaman dan ahli mencari jejak, berhasil mengawal sepuluh orang pria untuk berjaga malam dan mengantisipasi serangan dari suku primitif. Namun, tiba-tiba saja serangan yang tidak diduga malah menerkam dirinya.

Seekor beruang grizzly menyerangnya satu lawan satu. Dengan satu ledakan senapan Anstadt dan besatan belati miliknya, beruang grizzly mati; pun dirinya yang terluka parah. Hugh Glass tercabik-cabik. Hidupnya tidak akan lama.

Setelah Kapten Henry menjahit lukanya. Satu per satu kru bergantian membawa tandu demi terus melanjutkan perjalanan menuju tempat tujuan mereka.  Sayangnya, medan yang perlu dilalui membuat mereka kewalahan membawa tubuh Glass yang terantuk berkali-kali. Uang $70 disayembarakan oleh Kapten Henry bagi dua orang pemuda yang rela menjaga Glass hingga ajal menjemput dan menyemayamkannya dengan adat Katolik. Fitzgerald—si Mulut Besar—rupanya tidak ingin berdusta terlalu lama. Ia ingin $70 itu. Berbeda dengan Jim Bridger yang secara sukarela ingin merawat Glass.

Itu semua akal-akalan Fitzgerald yang sudah lama mengincar Anstadt milik Glass. Ketika ia pikir Glass yang sekarat akan mati dalam hitungan detik. Pria jahat itu menakut-nakuti Bridger dan membuatnya tunggang-langgang; membawa senapan serta belati milik Glass.

Glass tidak menyerah. Dendam serta-merta menguasai dirinya. Dan di saat itulah, ia memutuskan untuk merangkak naik. Menyeret tubuhnya sejauh ratusan mil demi menutut Anstadt-nya kembali.

 
 
 

Tidak biasanya Alejandro González Iñárritu menjadikan cerita biografi historikal sebagai proyek film layar lebar. Setelah sebelumnya menggarap “Birdman” yang keluar sebagai film pemenang Oscar tahun lalu, agaknya “The Revenant: A Novel of Revenge” sukses menarik perhatiannya untuk divisualisasikan ke dalam bentuk film.

“The Revenant” karya Michael Punke lebih mirip jurnal perjalanan alih-alih sebuah novel fiksi. Keistimewaan yang saya tangkap dalam novelnya bukanlah plot dan inti ceritanya, alih-alih, pendeskripsian dan keseriusan dalam riset yang dijelaskan Punke secara detail dan primitif. Seperti yang dijelaskan pada subjudulnya: a novel of revenge, “The Revenant” punya plot yang klasik, kaku, dan sering diaplikasikan pada cerita-cerita histroikal, yaitu tentang sebuah pembalasan dendam. Tepatnya berkisah tentang tokoh Hugh Glass yang terus berupaya bertahan hidup demi membalaskan dendam kepada dua orang rekan yang secara sengaja meninggalkannya sekarat di tengah hutan.

Kendati demikian, sebelum memulai novelnya, Michael Punke mencantumkan sebuah ayat Alkitab yang begitu membekas di halaman paling depan:

 

“Pembalasan bukanlah milikmu, tetapi berilah ruang untuk kemurkaan: karena telah tertulis, Pembalasan hanyalah milik-Ku; Akulah yang akan menutut balas, firman Tuhan.”

–Roma 12: 18-20

 

Sebuah potongan ayat singkat tetapi serta-merta mencakup semua ide dan plot cerita Punke mengenai Glass, yang mana pembalasan dendam akan berakhir sia-sia pada ujungnya.

Michael Punke menjelaskan di bagian catatan kepenulisannya bahwa “The Revenant” memang secara rill diangkatnya dari sebuah cerita sejarah yang mungkin sedikit orang yang tahu. Meramunya dengan sentuhan fiksi pada tiap karakternya, hingga sanggup menarik perhatian Iñárritu dan membuat orang-orang di seluruh dunia tahu mengenai kisah petualangan Glass yang mencekam lewat media film. Seperti halnya kisah “In the Heart of the Sea” (Nathaniel Philbrick, 2001) yang merupakan cikal-bakal dari kisah klasik “Moby Dick” (Herman Melville, 1851), plot akhir “The Revenant” memang sudah dapat diprediksi lewat ayat di halaman depan, tapi yang membuat saya terus menerus membaca kisah Glass adalah sikap dan tantangan yang dilaluinya menyusuri Sungai Grand. Bagaimana tiap suku yang ia temui; bagaimana caranya bertahan hidup dengan mengandalkan sumsum bangkai hewan. Teknik barbar itu serta-merta membuat pembaca berkali-kali bergidik, terkejut, dan ketagihan melihat perjuangan Glass.

“The Revenant” yang lebih mirip jurnal perjalanan ditulis Punke lewat sudut pandang orang ketiga, yang memungkinkan pembaca melihat persoalan perdagangan bulu lewat berbagai sisi. Ada sisi yang menguntungkan, tapi ada juga sisi yang riskan. Dengan sudut pandang yang luas, Punke juga menjelaskan detail spasialnya dengan sangat runut dan jelas. Kentara risetnya tidak main-main. Bukan hanya membaca buku, Punke sendiri pun menguji perangkap-perangkap primtif yang memang pernah diaplikasikan Glass untuk keperluan ceritanya.

Seperti yang direalisasikan Iñárritu dalam filmnya, “The Revenant” karya Punke pun minim dialog. Terlebih saat menjelaskan dengan fokus tokoh Hugh Glass, yang mana tenggorokannya terluka parah saat bertarung dengan seekor grizzly. Narasi yang dibuat Michael Punke terasa kental menceritakan alam bebas, gestur, dan hal-hal yang bersifat fisik. “The Revenant” tidak terlalu membahas tentang hal yang berbau masa lalu dan membawa persoalan emosi sehingga tokoh-tokohnya terasa bergerak spontan dan sulit ditebak.

Pada mulanya, “The Revenant” terasa membingungkan. Latarnya samar. Tokoh-tokohnya muncul secara bersamaan dengan pendeskripsian yang nyaris mirip. Tertinggal satu identitas yang menjadi patokan, yaitu tanggal yang berubah-ubah tiap bab. Sejalan dengan ceritanya, “The Revenant” terasa punya alur yang stabil di bagian pertengahan. Ada kalanya Punke menarik mundur plot untuk menjelaskan latar belakang ketiga tokoh utama: Hugh Glass yang sangat tertarik dengan geografi sedari muda, Fitzgerald yang merupakan biang onar dan pintar berhitung, serta Jim Bridger yang kala itu genap berumur 19 tahun.

Terlepas dari prolognya yang membingungkan, bagian paling menarik dari “The Revenant” menurut saya adalah teknik penyajian alurnya. Dengan sebuah ide tentang pembalasan dendam yang klasik, Michael Punke sesekali memuntir dua alur yang membahas dua tokoh yang berbeda, memberikan efek mengendap-endap yang membuat tegang pembaca. Bagaimana nasib Fitzgerald nanti? Apa yang akan dilakukan Hugh Glass demi merebut senjatanya kembali?

Menulis berdasarkan arterfak sejarah memang punya tantangan sendiri. Tokoh-tokoh dalam “The Revenant” memang benar apa adanya, namun Michael Punke mengaku mengubah sedikit kepribadian mereka sehingga akhirnya terpercik sebuah konflik mendalam di antara penjelajah Rocky Mountain Furs Company.

Karakter-karakter yang dijelaskan Punke tidak secara kontras berkomunikasi lewat dialog. Di bagian awal, ketika Hugh Glass dikelilingi kawanannya, adalah satu-satunya bagian yang paling interaktif. Namun, selanjutnya ketika para tokoh dipecah lewat jalannya masing-masing, Michael Punke menghadirkan tokoh-tokohnya lewat gestur dan pengambilan keputusan-keputusan yang menentukan akhir dari cerita mereka masing-masing.

Sebagai tokoh figuran, saya menikmati pembahasan Punke mengenai suku-suku yang berada di perbatasan antara Dakota Utara dan Selatan. Suku-suku yang masih primitif dan diliputi tradisi yang nenek moyang. Dari pakaian, nama julukan, sampai ritual penyembuhan unik yang dilakukan pun dijelaskan Punke dengan sangat detail.

Untuk menuliskan sebuah kejadian historis, Michael Punke kentara punya sisi ekstrinsik yang sangat Katolik, yang mana di awal ia memulai “The Revenant” lewat sebuah penggalan ayat Alkitab, keberadaan doa Bapa Kami yang kerap dirapalkan oleh para kru Rocky Mountain Furs Company, dan pengumpaan orang Samaria yang baik hati lewat suku Sioux, sebagai penolong Hugh Glass.

Berkenaan dengan hal-hal spasial, “The Revenant” mengambil setting tempat di kawasan perbatasan Dakota Utara dan Dakota Selatan. Di masa itu tanah tersebut masih dijajah oleh suku lokal yang barbar. Namun, dengan latar belakang perdagangan bulu, orang Perancis dan kulit putih lainnya punya alasan untuk menjelajah dan berburu hewan demi mendapatkan bulu. Seperti cerita-cerita petualangan yang difilmkan, Glass sebagai pencari jejak kerap menjadikan sungai sebagai patokan, akan tetapi nama-nama sungai yang diceritakan Punke bukan serta-merta sebuah tempelan. Keadaan dan prediksinya dijelaskan sangat relevan, letaknya akurat, dan punya bukti sejarah, seperti Sungai Grand, Fort Kiowa, dan Yellowstone.

Pembaca bukan serta merta menjadi penonton, alih-alih dilibatkan untuk masuk ke dalam dunia yang dimaksud oleh Punke. Lewat media novelnya, sosok Hugh Glass yang sudah lama terlupakan mendadak menjadi terkenal. Mengenai perdagangan bulu yang tak lagi berselenting di telinga masyarakat Amerika, kini menjadi informasi baru bagi pembaca di seluruh dunia, terlebih ketika sudah difilmkan oleh Iñárritu.

 

the-revenant-poster

 

Setelah membaca “The Revenant”, rasanya tidak akan seru jika membandingkannya dengan versi film. Perlu diketahui sebelumnya, “The Revenant” versi Punke dan Iñárritu akan sedikit berbeda. Bahkan di cover buku sudah ditulis, jika skrip milik Iñárritu serta-merta terinspirasi dari novel milik Michael Punke. Mudahnya dapat diibaratkan kalau novel “The Revenant” merupakan peta utama, di mana Iñárritu bermain-main dan menambahkan lebih banyak drama dan konflik baru di dalamnya. Oleh karena itu, pada versi novel, “The Revenant” punya gaya yang lebih kaku dan berpegang teguh pada acuan sejarah.

Mengenai konflik cerita, “The Revenant” milik Iñárritu punya penambahan gagasan atas diri Glass, yang pasalnya tidak tertulis pada novel karya Michael Punke, yaitu kemunculan sosok Hawk—anak Hugh Glass. Hawk yang merupakan anak keturunan suku lokal membawa Glass bermain-main dalam alam ilusi dan emosinya. Memperlihatkan masa lalunya dengan seorang perempuan Indian. Dan juga membuat alasan pembalasan Hugh Glass terasa lebih membara dan relevan, tidak seperti di bukunya, Hugh Glass ingin balas dendam karena merasa Fitzgerald merampok senjata kesayangannya .

Dalam filmnya, “The Revenant” punya pengemabangan karakter yang lebih kontras. Tiap tokohnya dijelaskan dengan sentuhan emosi yang mendalam. Berbeda dengan novel yang hanya berfokus pada pertahanan diri Glass.

Sayangnya dengan banyaknya efek dramatisir dan penokohan yang emosional, “The Revenant” garapan Iñárritu menonjolkan alur yang demikian lambat. Semuanya dijelaskan sangat sunyi, logis, dan matematis. Seperti halnya ketika Hugh Glass melewati fase demi fase dalam menyelamatkan hidup. Kemungkinan yang dijelaskan Punke dalam bukunya seperti dicacah, lantas digarap dengan serius dan sangat rill.

Yang agak saya kecewakan pada novelnya adalah pelompatan beberapa adegan sekaligus penjelasan luka Glass yang tidak separah di buku. Kendati Leonardo DiCaprio didandani dengan sangat ‘hancur’ di dalam filmnya, perlu diketahui bahwa dalam bukunya Hugh Glass diceritakan lebih parah daripada yang divisualisasikan.

Secara keseluruhan, Iñárritu berhasil menggarap “The Revenant” dengan begitu serius. Bahkan ketika saya menonton filmnya, saya merasa ada beberapa bagian dalam buku tidak diceritakan seindah yang dipaparkan dalam cinematografi filmnya. Dan untuk akting Leonardo DiCaprio sendiri, jelas tidak perlu dikomparasikan lagi, bahkan berkat aktingnya dalam “The Revenant”, DiCaprio dapat merebut piala Oscar secara bertahun-tahun.

Jika dibilang ‘jangan menonton filmnya dulu sebelum membaca bukunya’, menurut saya itu tidak berlaku untuk “The Revenant”. Menonton film dan membaca buku menimbulkan dua efek yang berbeda. Pada bukunya Punke mengajak pembaca untuk mengenal sejarah, tapi pada filmnya, Iñárritu mengajak penonton untuk selalu awas dan menebak kontemplasi Glass soal masa lalunya.

 

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s