The Seven Good Years – Etgar Keret

31186945
 
 
Judul                     : The Seven Good Years
Penulis                  : Etgar Keret
Penerjemah         : Ade Kumalasari
Penerbit               : Bentang Pustaka
Terbit                    : Cetakan pertama, Juni 2016
Tebal                     : 198 halaman
Rate                       : 5/5
 
 

Sebagai mana nama Etgar Keret kian terkenal, kini ia ingin berbagi mengenai hidupnya sebagai seorang ayah yang tinggal di kawasan penuh konflik. Mulai hari pertama ketika ia menemani sang istri melahirkan di rumah sakit, rupanya tak sengaja ia malah bertemu dengan seorang wartawan yang tengah meliput korban bom massal. Etgar sempat dikiranya sebagai salah seorang kerabat korban yang selamat.

Wartawan jelas menjadi kecewa saat Etgar berbicara mengapa ia berdiri di lorong rumah sakit kala itu. Namun, celotehan Etgar mengenai keadaan negerinya tak berhenti sampai di sana. Sebagai seorang Yahudi yang tinggal di tanah Israel, Etgar selalu dapat menambahkan sedikit humor di tengah kisah hidupnya yang penuh konflik dan perang politik.

Seperti yang dikatakan Eka Kurniawan di pengantarnya pada buku ini, kendati penuh dengan aral dan rintangan, tapi Etgar malah menamai memoarnya dengan nama “Seven Good Years”. Sebuah titel bermakna positif menurut versinya sendiri.

Lantas, bagaimana jungkir balik Etgar Keret dalam menghadapi setiap permasalahan dan tingkah jenaka dari Lev, anak laki-lakinya?

 

 

Bagi saya, nama Etgar Keret bukanlah nama yang asing. Mulai dari cerpen-cerpennya yang kerap diterjemahkan secara kecil-kecilan oleh Eka Kurniawan di blognya maupun M. Aan Masyur di laman Medium-nya, saya pun sedikit demi sedikit menaruh minat pada tulisan Etgar Keret yang jenaka. Oleh karena itu, saat menjumpai memoarnya diterjemahkan dan dikemas dengan cover yang tidak kalah kocaknya, saya pun langsung berminat untuk membeli.

Kendati “The Seven Good Years” adalah sebuah memoar, namun yang berbeda dari versi Etgar Keret adalah cara mengemasnya. Alih-alih menjadi sebuah cerita perjalanan hidup, “The Seven Good Years” ditulis Etgar Keret menjadi tujuh bagian dengan tiap episode pendek di dalamnya—jadi bisa bilang tak jauh beda dengan kumpulan cerpen.

Mulai dari kelahiran anak pertama, Etgar menulis babak baru dalam hidupnya dengan sangat jenaka. Temanya begitu sehari-hari, mudah ditemukan pada kehidupan orang pada umumnya. Jadi janganlah memandang Etgar Keret sebagai penulis hebat. Di samping tulisannya yang banyak dipuja, nyatanya ia pun mengalami episode-epsiode kurang baik dalam hidupnya. Terutama saat istrinya mengalami keguguran di hari yang sama saat kanker lidah ayahnya yang kembali kambuh. Tapi, di balik semua itu, Etgar Keret bisa bicara secara gamblang dan santai membangun opininya. Melalui “The Seven Good Years”, ia berhasil menyampaikan sudut pandangnya yang tajam, lugu, sekaligus satir dalam menyindir konflik keagamaan dan perihal perdamaian. Kendati sepintas, saya sempat menganggap “The Seven Good Years” sebagai buku yang ringan, namun jangan disangka, di balik kalimat yang mulus dan meluncur bak cerita keseharian, Etgar Keret sesungguhnya tak pernah lupa menyelipkan makna sekaligus ironi yang dalam mengenai konflik kemanusiaan.

“The Seven Good Years” ditulis Etgar dengan gaya bercerita yang sangat sederhana. Diksinya sengaja dipermudah, seperti temanya yang berlatar cerita keseharian. Bagaimana ia harus terbang dari negara ke negara lain, bagaimana bertukar pikiran dengan Lev, dan bagaimana ia mengungkit kenangan dari masa lalunya. Dari paragraf yang saya cermati, Etgar Keret banyak menggunakan pola kalimat yang repetitif, komparatif, dan mengandung alegori. Kebanyakan tema rumit yang coba ia angkat sengaja ia alegorikan secara mudah lewat cerita kesehariannya yang unik dan jenaka, lalu di akhir cerita, plot twist akan memuncak pada sebuah teguran satir. Oleh karena itu, membaca tulisan Etgar bisa jadi tertawa di awal cerita, kendati di akhir, maksudnya lebih kepada mengetuk nurani manusia maupun menertawakaan keboborokan moral mereka.

Selain tema dan plot yang lucu, sesungguhnya hal lucu lainnya pun bergantung kepada sang narator, yaitu Etgar sendiri. Sebagai sudut orang pertama yang berbicara, saya bisa melihat diri Etgar Keret yang berbeda pada orang pada umumnya. Dari deskripsinya terhadap latar tempat tinggal maupun lingkungan hidupnya, Etgar seolah hidup pada lini opininya sendiri, kendati kaum di sekitarnya telah didoktrin dan menganut norma keagamaan yang kental dan penuh tipu muslihat.

Di samping Etgar Keret, adalah Lev, anak laki-laki Etgar yang tak kalah polos dan sangat jenaka di usianya. Entah Etgar menambahkan sedikit bumbu ataupun tidak, tapi cerita Lev tidak berbeda dari celotehan anak-anak berusia lima hingga tujuh tahun lainnya. Tanpa berpikir, Lev berbicara jujur mengenai hitam-putih yang ada di sekitarnya. Hanya saja yang menarik dari kejujurannya, adalah lantaran sang ayah, Etgar, mampu memanfaatkan kepolosan itu dan mengolahnya menjadi materi untuk turut menegur para orang dewasa. Lagi-lagi, dari yang tadinya tertawa, kadanya Lev ini malah jadi ada benarnya juga.

Melalui “The Seven Good Years”, Etgar bukan sekadar ingin berbagi mengenai hidupnya dari sudut pandang berbeda. Etgar Keret sebagai seorang Yahudi ingin mengajak seluruh umat di dunia untuk turut hidup dalam damai, kendati banyak kebudayaan yang kerap menjadi penghalang, tapi justru lewat keberagamaan tersebut dapat tercipta sebuah rasa toleransi. Seperti yang diceritakannya saat ia harus berpindah tempat dalam konteks mempromosikan bukunya maupun diundang pada acara literasi.

Etgar Keret dan “The Seven Good Years” berbicara mengenai kontradiksi. Bagaimana seseorang yang berada di tengah area perang malah justru berbicara tentang damai. Bagaimana seseorang yang tumbuh di bawah sederet peraturan malah berbicara tentang rasa toleran.

Advertisements

2 thoughts on “The Seven Good Years – Etgar Keret

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s