Falling into Place – Amy Zhang

 
 
Judul                     : Falling into Place
Penulis                 : Amy Zhang
Penerbit              : Greenwillow Books
Terbit                    : Cetakan pertama, Septermber 2014
Tebal                     : 296 halaman
Rate                       : 3.5 / 5
 
 

“Gravity is our playmate, momentum is our friend. We are blurs of motion. We are racing, and we are both winning, because we do not race each other.” Falling into Place, hlm. 168

Satu hari setelah mempelajari sederet rumusan hukum Newton, Liz mencoba mempraktikkan hal itu pada mobilnya. Mobil Mercedes Benz miliknya dipacu kencang-kencang, berlari ke luar batas jalan.

Di balik dandanan dan gaya sosialitanya yang terkenal di seantero kelas, para teman mungkin mengira Liz tidak akan mengambil keputusan naas tersebut. Tapi, nyatanya, Liz bukan gadis seceria itu, di balik kesedihan, kesendiriannya, dan kebungkamannya, tidak ada lagi yang dapat ia katakan. Kepada Monica, ibunya, yang tak hentinya bekerja seperti kaum nomaden. Telepon Liz hanya dianggapnya sebagai angin lalu.

Liz telah mengambil keputusan seutuhnya. Ia menentukan tanggal, teknik yang tepat, dan mengira seorang pun takkan pernah tahu rencananya, alih-alih, Liam Oliver sangat mengenal Mercedes milik Liz, gadis yang telah dicintainya diam-diam sedari dulu.

Read More »

Extraordinary Means – Robyn Schneider

  

Judul                     : Extraordinary Means
Penulis                 : Robyn Schneider
Penerbit              : Katherine Tegen Books
Terbit                    : Cetakan pertama, Mei 2015
Tebal                     : 324 halaman
Rate                       : 4 / 5

  

“Art is pain. And so is life.” Extraordinary Means, hlm. 23

 
 
Lane sudah memetakan hidupnya yang nyaris sempurna. Menghabiskan waktu dengan Hannah; mengikuti ujian saringan masuk untuk Universitas Stanford. Tapi, tidak dengan rencana B yang datang tiba-tiba. Diagnosis dokter mengatakan Lane terkena penyakit tuberkolosis kronis, yang membuatnya harus dikarantina selama beberapa bulan.

Hidupnya hancur. Latham House merupakan mimpi buruknya. Terlebih Dr. Barons melarangnya untuk belajar, alih-alih, ia berkeras harus mencetak skor terbaik untuk ujian saringan masuk Standford.

Di hari pertamanya menginjakkan kaki ke sanitorium itu, Lane bertemu dengan seorang gadis eksentrik dan luar biasa percaya diri, bernama Sadie.

Bukan seseorang yang ia harapkan bertemu untuk kedua kali. Ia ingat Sadie ketika tiga belas tahun dulu; Sadie dan Lane mendatangi kemah musim panas sama seperti anak-anak seumur mereka lainnya.

Tapi, apa yang membuat Sadie enggan berbicara dan menghindari Lane di Latham House? Sementara Lane begitu penasaran dengan sosok Sadie yang dulu hanya dipandanginya dari jauh.

  

Read More »

To All the Boys I’ve Loved Before – Jenny Han

Judul                     : To All The Boys I’ve Loved Before (To All The Boys I’ve Loved Before #1)
Penulis                  : Jenny Han
Penerbit                 : Simon & Schuster Books for Young Readers
Terbit                     : Cetakan pertama, April 2014
Tebal                      : 288
Rate                        : 4 /5

 

 

“You’d rather make up a fantasy version of somebody in your head than be with a real person.”  Jenny Han, To All the Boys I Loved Before

 

Sudah terlalu lama Lara Jean bersembunyi di balik reputasi Margo, kakak perempuannya yang sempurna. Semuanya terjadi terlalu cepat. Ia anak tengah dari Song bersaudara, yang gemar mengintip dari jendela rumah, memergoki Margo dan Josh, tetangga mereka yang diam-diam ia suka, berpacaran.

Sedikit aneh, tapi Lara Jean gemar menyimpan perasaannya dalam surat-surat cinta yang tidak pernah ia kirim. Tertumpuk rapi di sebuah kotak pemberian mendiang ibu mereka. Sampai suatu hari tiba-tiba saja seseorang mengirimkan surat-surat itu kepada sederet laki-laki yang pernah disukainya.

Semua menjadi kacau. Tentu saja. Peter Kavinsky—laki-laki yang pertama kali diciumnya—mendapatkan satu, lalu Josh, dan siapa lagi? Ia tak sempat berpikir lebih jauh, kala Peter K mendatangi lokernya di pagi itu. Lara Jean menjelaskan semuanya. Tentang surat konyolnya, tentang perasaannya dulu.  Semuanya berlalu. Tapi, tidak dengan Josh, tetangganya yang baru saja mencetuskan ide bahwa Lara Jean adalah cinta pertamanya sebelum Margo, ingin tahu bahwa surat itu bukan sekadar insiden salah kirim.

Lara Jean yakin, Margo dan Jean akan rujuk suatu hari nanti kendati keduanya telah berpisah di malam sebelum Margo hendak pergi ke Skotlandia. Di antara sederet laki-laki di daftarnya, ia selalu memilih Margo.

 

“Love is scary: it changes; it can go away. That’s the part of the risk. I don’t want to be scared anymore.” Jenny Han, To All the Boys I Loved Before

 

Lara Jean tak ingin menghancurkan perasaan kakak perempuannya, jadilah ia membuat sebuah siasat. Berpura-pura pacaran dengan Peter K. Toh tak merugikan keduanya; Lara Jean dapat meyakinkan Josh bahwa surat itu hanya semacam ungkapan rasa kasmaran bodohnya di masa lalu; Peter K dapat membuat Genevieve, mantan pacarnya, cemburu.

Solusi ditemukan. Dengan segala macam kontrak tolol tentang tidak boleh mengumbar PDA di depan umum. Lara Jean yakin semuanya pasti akan mengira kalau mereka sungguhan. Tapi, bagaimana jika ia sungguh jatuh cinta pada Peter? Lantas, siapakah yang akan ia pilih?

 

Read More »

Life in Outer Space – Melissa Kiel

 

Judul                     : Life in Outer Space
Penulis                  : Melissa Kiel
Penerbit                 : Hardie Grant Egmont
Terbit                     : Cetakan pertama, Februari 2013
Tebal                      : 305
Rate                        : 3.5 /5

 

 

Tidak dapat dimungkiri, yang Sam tahu hanyalah menjadi seorang geek—kecanduan permainan World of Warcraft, film, terlebih film horor. Hanya itu yang ia tahu. Menonton. Bermain. Mengoprek perangkat komputer. Nongkrong di ruang IT Bowen Lakes Secondary College. Dan menghindari Justin Zigoni. Sam hanya ingin menjauhi masalah. Tak peduli jika tidak ada orang yang menganggapnya ada. Tapi, dunianya memang keren. Dilingkupi oleh geng yang tak kalah “keren”, seperti Adrian, Mike, dan Allison.

 

“Adrian appears beside me, glaring down the corridor. He has his about-to-open-a-can-of-whoop-arse face on. Objectively, Adrian Radley has zero cans of whoop-arse to open.”

 Life in Outer Space, Melissa Kiel

 

Adrian bisa dibilang orang yang blak-blakan, berkebalikan dengan Sam yang lebih banyak diam dan menyimpan kata-katanya dalam hati, penggemar candy bar, dan ia selalu berpikir kalau ia lebih kuat daripada yang orang lain pikir. Sedangkan, Allison adalah satu-satunya perempuan di dalam grup Sam, berambut pirang dan seorang pencinta Hello Kity. Dan yang terakhir, adalah Mike.

 

“I don’t care that Mike is gay. I figure that since there’s little chance of either of us ever touching anyone else’s parts, our relative sexualities are somewhat pointless topics of conversation.” —Life in Outer Space, Melissa Kiel

 

Mike adalah gay, tapi Sam sama sekali gak peduli dengan orientasi seksualnya, tapi Sam pikir, Mike bisa jadi yang paling terbaik di antara para sahabatnya. Sam berpikir kalau seluruh ilmu kehidupan bisa ia cari dalam film-film koleksinya, bertukar aspirasi dengan para teman nerd-nya. Tidak ada yang lebih baik dari kehidupan yang damai dan tentram, semua itu tidak berlangsung lama saat Bowen Lakes Secondary College kedatangan murid baru bernama Camilia.

Bukan seorang geek; ia memperkenalkan dirinya sebagai anak dari penulis terkenal Henry Carter, datang jauh dari New York dengan aksen British yang kental. Camilia gadis yang populer, cantik, dan ceria. Penghuni dunia yang berkebalikan dengan dunia milik Sam. Dan Sam memutuskan untuk tidak menghiraukan Camilia. Hanya saja, Camilia baru saja membuat sebuah rencana akan kehidupan barunya, dan Sam mau tak mau harus bersedia untuk menjadi bagian dari rencana tersebut.

Read More »

The Half Life of Molly Pierce – Katrina Leno

 

Judul                     : The Half Life of Molly Pierce
Penulis                  : Katrina Leno
Penerbit                 : Harper Teen
Terbit                     : Cetakan pertama, Juli 2014
Tebal                      : 256 halaman
Rate                        : 5 /5

 

 

We remember them even when we don’t remember them.
We try and forget, but it’s pointless.
Even amnesia. Even comas and brain damage and traumatic shock.
Whatever makes us not remember, we still remember.
Our minds flounder like fish but our bodies…
Our bodies remember. “

Katrina Leno, The Half Life of Molly Pierce

 

Layaknya seorang remaja berusia tujuh belas tahun, Molly menjalani kehidupannya dengan baik-baik saja; kedua orangtua yang menyayanginya, kedua adik yang selalu dekat dengannya, lantas kedua sahabat yang selalu menjadi tempatnya berbicara. Molly pergi ke sekolah seperti kebanyakan remaja lainnya, menoton acara teve, pulang ke rumah. Mungkin ada satu yang berbeda, ia sempat mengalami depresi ringan beberapa bulan lalu hingga harus berjumpa dengan Alex dan menceritakan perkembangannya setiap hari. Tapi, itu bukan masalah. Semuanya baik-baik saja.

Malam itu, lagi-lagi, adalah malam biasa, Molly seolah terbangun dari mimpi panjangnya dan sadar tengah mengendarai mobil di Prince Street. Ia mencoba untuk mencari tahu. Melirik ke sekitar. Hingga sadar lampu lalu lintas berubah menjadi merah. Semua mobil mungkin berhenti, namun seorang pengendara motor dari kejauhan malah menambah kecepatannya, ia pikir ia dapat menerobos lampu di persimpangan. Molly terkesiap saat sebuah truk menabraknya.

Darah berhambur di atas aspal, Molly lekas-lekas turun dan menghampirinya, ia pasti bisa menolongnya. Wajahnya nampak asing bagi Molly, tapi tidak saat laki-laki itu memperkenalkan dirinya sebagai Lyle dan meralat panggilan Mabel dengan nama Molly. Mengapa laki-laki itu bisa tahu namanya?

Molly bertanya-tanya, ke manakah ia selama ini? Mungkin ia hidup, tapi ia tak mengingat apa-apa. Siapa Lyle? Apakah ia mengenal laki-laki itu? Dan mengapa ia memanggilnya dengan nama Mabel?

Read More »

Aristotle and Dante Discover the Secrets of the Universe – Benjamin Alire Sáenz

Judul                     : Aristotle and Dante Discover the Secrets of the Universe
Penulis                  : Benjamin Alire Sáenz
Penerbit                 : Simon & Schuster Books for Young Readers
Terbit                     : Cetakan pertama, 21 Februari 2012
Tebal                      : 359 halaman
Rate                        : 5 /5

 

“Another secret of the universe: Sometimes pain was like a storm that came out of nowhere. The clearest summer could end in a downpour. Could end in lightning and thunder.” 
― Benjamin Alire Sáenz, Aristotle and Dante Discover the Secrets of the Universe

 

Aristotle—atau bisa dipanggil Ari—adalah seorang remaja laki-laki yang pendiam dan tidak memiliki teman. Ari marah terhadap Dad, mungkin hanya masalah sepele, tetapi Ari tetap saja marah karena ayahnya menutupi masalah kakak laki-lakinya yang ini mendekam di sel penjara. Ari merasa Dad selalu membual tentang segalanya, membahas tentang hal-hal yang baik saja lantaran selama ini ia menolak untuk membicarakan perang Vietnam yang dulu pernah dilaluinya.

Dante—yang terkadang tertawa pada namanya sendiri—adalah seorang remaja laki-laki seumuran Ari. Dante selalu punya cara tersendiri dalam memandang dunia ini, bagaimana ia berpikir pelik, juga dengan cara-cara uniknya dalam menyukai segala sesuatu. Dante dan ayahnya, Sam, selalu dekat. Mereka saling menimpali omongan, begitu pun saling bertukar cium di pipi.

Ari dan Dante bertemu di suatu siang, di kolam renang, pada liburan musim panas. Semenjak pertemuan itu, keduanya kerap menghabiskan hari bersama dan menjalin pertemanan yang tidak biasa. Bercerita tentang satu hal ke hal berikutnya, dan begitulah keduanya menemukan rahasia-rahasia pada kehidupan di sekeliling mereka.

 Read More »

Every Day – David Levithan

 

Judul                     : Every Day (Every Day #1)
Penulis                  : David Levithan
Penerbit               : Knopf Books for Young Readers
Terbit                    : Cetakan pertama, 2012
Tebal                      : 322 halaman
Rate                        : 4.5 /5

 

“I am made for running. Because when you run, you could be anyone. You hone yourself into a body, nothing more or less than a body. You respond as a body, to the body. If you are racing to win, you have no thoughts but the body’s thoughts, no goals but the body’s goals. You obliterate yourself in the name of speed. You negate yourself in order to make it past the finish line.  David Levithan, Every Day

 

Ia menyebut dirinya sebagai A. A tanpa embel-embel, begitu pun tanpa wujud yang nyata. Setiap hari A berkelana, meminjam kehidupan serta tubuh seseorang untuk hidup dalam durasi dua puluh empat jam. Dan begitulah keseharian A; bangun dalam tubuh seorang asing dan mencoba hidup di dalam dunianya. Semuanya berjalan normal. A mencoba untuk tidak terlibat dalam persoalan dan perasaan individu yang ditempatinya hingga suatu kala ia terbangun dalam tubuh seorang Justin. Lantas, jatuh cinta pada pacarnya yang bernama Rhiannon. A ragu, pun Rhiannon. Terlebih saat ia tahu status A yang selalu berpindah-pindah. Mulai dari kota satu dan kota berikutnya, keduanya berusaha untuk bertemu. Menjadi dekat mungkin hal yang selalu diinginkan A, tapi bagaimana dengan Rhiannon? Rhiannon memiliki kehidupan dan ia berusaha untuk memahami A, tetapi apakah selamanya ia akan seperti itu? Mencintai seseorang dengan wajah yang tak pernah sama.

Read More »