Red Queen – Victoria Aveyard

ciz7chsu4aalrfy
 
 
Judul                     : Red Queen (Red Queen #1)
Penulis                  : Victoria Aveyard
Penerjemah         : Shinta Dewi
Penerbit               : Penerbit Noura Books
Terbit                    : Cetakan pertama, April 2016
Tebal                     : 516 halaman
Rate                       : 4.5/5
 
 

 “Kau juga sesuatu yang lain. Sesuatu yang tidak dapat kupahami. Kau adalah Merah sekaligus Perak, sebuah keganjilan dengan konsekuensi mematikan yang tidak bisa kau pahami.” Red Queen, hlm. 114

 

Mare Barrow tidak lebih dari sekadar pencopet kaum Merah. Dari ketidak terampilannya untuk mengabdi pada kaum Perak, ia hanya tinggal mengunggu waktunya untuk ditarik ke medan perang seperti kakak-kakaknya terdahulu. Dari antara kelima saudara, Gisa memang yang paling terampil. Mare yakin, lewat benang dan jarum yang menjadi senjata Gisa, setidaknya keluarga Barrow akan aman dari sentuhan kekejian kaum Perak.

Mare Barrow punya waktu satu tahun untuk menunggu, sementara Kilorn, sahabat baiknya, hanya punya beberapa hari. Mare tak ingin melihat Kilorn pergi seperti ketiga kakaknya. Kilorn punya pria handal dalam bersenjata, alih-alih mati konyol di garda depan.

Semua orang di Desa Jangkungan tahu satu cara untuk mendapatkan hal yang mustahil. Will si Penyelundup berjanji akan menyelundupkan Kilorn lewat tengah malam, dengan satu syarat, yaitu bayaran yang amat sangat mahal. Mare, yang kehabisan akal, meminta bantuan Gisa untuk menyusup ke daerah kaum Perak; berniat mencuri koin-koin mereka yang bernilai tinggi. Namun, tanpa disengaja semuanya terjadi dengan begitu gegabah. Mare menghancurkan segalanya, hingga mengakibatkan Gisa kehilangan pekerjaannya.

Mare malu untuk pulang. Ia pergi ke bar dan bertemu dengan pria asing sembari menceritakan kisah hidupnya. Pria itu bisa aja pelayan kerajaan. Dengan semua kemewahan itu lalu koin-koinnya yang bernilai tinggi. Mare pulang dengan satu tujuan: menyelamatkan Kilron.

Namun tanpa disangka, lewat tengah malam pintu kediaman Barrow malah disatroni pengawal kerajaan. Mare Barrow kehilangan satu tahun waktu penantiannya. Tepat ketika ia memasuki lantai licin itu, ia tahu, hidupnya takkan lagi sama, terlebih saat ia tahu siapa pria semalam yang ia jumpai dan memberikan dua keping koin Perak.

Read More »

The Young Elites – Marie Lu

e88cbe9d0ce6f9471166b8d19f8de864
 
 
Judul                     : The Young Elites (The Young Elites #1)
Penulis                  : Marie Lu
Penerjemah         : Prisca Primasari
Penerbit               : Mizan Fantasi
Terbit                    : Cetakan pertama, November 2015
Tebal                     : 428 halaman
Rate                       : 4/5
 
 

“Kita semua adalah kesalahan.” The Young Elites, hlm. 317

 

Separuh wajah Adelina Amouteru rusak semenjak serangan epidemik berdarah itu. Mata kirinya kehilangan kemampuan untuk melihat; rambutnya berubah warna sewarna perak. Ayah memperlakukannya begitu berbeda dengan Violetta, sang adik. Sementara Violetta selalu dijunjung, Adelina lekas-lekas ingin dijual secepatnya.Adelina adalah seorang malfetto, dengan rupa yang menakutkan dan kekuatan magis, keberadaannya disamakan dengan jelmaan iblis. Saat ia berusaha melarikan diri dari rumah, Adelina tak sengaja membunuh sang ayah, dan tertangkap pasukan inkuisisi.

Sudah seharusnya kaum malfetto dimusnahkan dari tanah Kenettra. Adelina pun harus dijatuhi hukuman mati. Namun saat detik-detik penentuan, Sang Pencabut Nyawa yang misterius malah menyelamatkannya. Enzo dengan identitasnya di balik topeng dan tudung Pencabut Nyawa menjelaskan jabatannya sebagai pemimpin Perkumpulan Belati (Dagger Society), yaitu perkumpulan Elite Muda yang berencana memberontak dan menggulingkan pemerintahan. Tak ada pilihan lain untuk pulang, Adelina ikut bergabung dengan perkumpulan itu dan melatih kekuatan magisnya dalam menciptakan ilusi.

Pilihan sulit itu datang di suatu kala, ketika seorang bernama Teren Santoro, sang pemimpin pasukan inkuisisi, mengendus kemampuan hebatnya, laki-laki jahat itu mengancamnya dengan dua pilihan: kehilangan sang adik atau menjadi mata-mata pasukan inkuisisi dalam Perkumpulan Belati.

 
 
Read More »

The Walled City ‘Kota di Balik Tembok’ – Ryan Gaudin

646495f224836f8db92d4fff3013f463
 
 
Judul                     : The Walled City ‘Kota di Balik Tembok’
Penulis                  : Ryan Graudin
Penerjemah         : Harisa Permata Sari
Penerbit               : Gramedia Pustaka Utama
Terbit                    : Cetakan pertama, November 2015
Tebal                     : 488 halaman
Rate                       : 4/5
 
 

“Kupejamkan mata, berusaha tidak melihat gadis boneka-rusak yang tergeletak di lantai. Berusaha tidak mengingat kalimat yang dulu dicuapkan sang master di tengah malam. Kalimat itu menembus waktu, mengikatku seperti tambang. Tak ada jalan keluar.” –The Walled City ‘Kota di Balik Tembok’, hlm. 30

 

Yang tersisa tinggal 18 hari dan Dai kembali memutar otak untuk mencari jalan keluar. Sementara Tsang selalu datang menagih janji. Siang itu Dai menemukan Jin, sebagai salah seorang pencuri ulung yang ia cari.

Tawarannya mudah, Dai memerlukan bantuan Jin sebagai seorang kurir narkotika. Memasuki salah satu rumah bordil terbesar di Hak Nam Walled City dan mengantarkan paket rahasia itu kepada Longwai.

Longwai bukan pengelola rumah bordil pada umumnya. Koneksinya yang besar dan kekejiannya sudah tersohor ke penjuru Hak Nam, bahkan Seng Ngoi. Namun, kehidupan Jin yang keras membuatnya mengambil tawaran berbahaya itu. Jin sudah lama penasaran dengan rumah bordil Longwai sebagai alasan mencari saudara perempuannya yang telah dijual oleh ayah mereka.

Dengan menyamar sebagai laki-laki, Jin pun membuat kesepakatan dengan Dai. Namun, siapa sangka jika pekerjaan rendahan sebagai kurir narkotika malah menggiringnya kepada persoalan yang lebih besar. Masalahnya bukan lagi membantu Dai mencari jalan keluar, tetapi mempertanyakan siapa Dai yang sesungguhnya dan apa yang ia inginkan dengan buku neraca Longwai?

Read More »

Shades of Earth ‘Bayang-Bayang Bumi’ – Beth Revis

  

Judul                     : Shades of Earth ‘Bayang-Bayang Bumi’ (Across the Universe #3)
Penulis                 : Beth Revis
Penerjemah       : Barokah Ruziati
Penerbit              : Gramedia Pustaka Utama
Terbit                    : Cetakan pertama, April 2015
Tebal                     : 496 halaman
Rate                       : 5 / 5

  

“Semua yang sudah kita lakukan, semua yang sudah kita korbankan—semuanya percuma. Bumi sudah menaklukkan planet ini. Mereka datang, mereka melihat, mereka pergi. Dan sekarang kita di sini.”Shades of Earth ‘Bayang-Bayang Bumi’, hlm. 226

 
 
Separuh awak Godspeed bersuka ria; pendaratan bisa terbilang tidak terlalu mulus, namun Elder berhasil mendaratkan kapsul utama di Bumi-Centauri, planet yang akan menjadi rumah baru mereka. Tabung-tabung kronik mulai dibuka. Elder masih dihantui petuah Orion, prajurit atau budak, mengingat para manusia beku akan segera dicairkan.

Bumi-Centauri nyatanya berbeda dari yang selama ini mereka pikirkan. Dengan dua matahari yang menggantung di pucuk langit dan keberadaan para ptero yang agresif. Para koloni mencoba bertahan dan meneliti tentang planet baru mereka. Namun, semakin hari, keadaan tak bertambah baik.

Satu per satu korban berjatuhan. Elder tahu, Kolonel Robertson, Ayah Amy, memang pria yang keras kepala, tapi ia tak berhak menyembunyikan sebuah rahasia di balik danau sana. Rahasia tentang sebuah peradaban yang ada sebelum mereka tiba.

Elder tak bisa membiarkan koloninya musnah, pun dijadikan budak-budak FRX. Seiring dengan penggembokan kapsul yang dilakukan secara otomatis, tabung kronik Orion mencair tanpa bisa dicegah. Napasnya terengah. Ia sekarat. Tapi, agaknya pria itu belum berhenti bermain. Orion berpesan, bahwa masih ada satu petunjuk lagi yang tertinggal. Bukan di Bumi-Centauri, lantas apakah dengan petunjuk itu, mereka dapat menyelamatkan koloni dari serangan makhluk asing?

Read More »

A Million Suns ‘Sejuta Matahari’ – Beth Revis

 

Judul                     : A Million Suns ‘Sejuta Matahari’ (Across the Universe #2)
Penulis                 : Beth Revis
Penerjemah       : Barokah Ruziati
Penerbit              : Gramedia Pustaka Utama
Terbit                    : Cetakan pertama, Februari 2015
Tebal                     : 473 halaman
Rate                       : 4.5 / 5

  

Godspeed sudah tua. Pesawat ini mulai rusak.” A Million Suns ‘Sejuta Matahari’, hlm. 23

 
 
Kematian Eldest bukan perkara mudah bagi Elder. Sosok tua berjanggut putih itu masih membayangi dirinya; di Level Penjaga, di Ruang Agung, kini tak ada lagi yang sosok yang dapat ia tanyai. Sementara bersikeras Elder menghentikan penggunaan Phydus—substansi yang dapat mengontrol emosi dan pemikiran awak pesawat. Para awak pesawat menjadi kian menutut idealisme tertinggi terhadap diri mereka. Godspeed sudah terlalu lama berlayar. Dan tanpa Phydus, mereka dapat melakukan apa pun yang mereka mau.

Elder—yang enggan dipanggil Eldest—masih berunding dengan para awak kelas satu, para ahli mesin, dan memutuskan untuk membentuk polisi untuk meredam perlakuan membabi-buta para awak pesawat; di saat yang bersamaan, Marae, berkata kalau mereka telah menipu terlalu banyak pihak selama ini. Penundaan waktu pendaratan Godspeed di Bumi-Centauri bukan disebabkan oleh mesin yang kian uzur. Alih-alih, Godspeed memang tidak pernah bergerak. Sudah berpuluh tahun lamanya. Dan pesawat mereka pun mulai rusak.

 

“Dia mati, sendirian dan ketakutan. Aku tidak mati, tapi aku tetap sendirian dan ketakutan.” A Million Suns ‘Sejuta Matahari’, hlm. 134

 
 
Amy masih mengingat perkataan Luthor siang itu. Para awak pesawat semakin bebas dan mengincarnya sebagai penyebab utama yang selalu mendapat perlakuan spesial dari Elder. Amy ketakutan. Tiap pagi ia mengunjungi kedua orangtuanya di ruang kronika. Berharap Godspeed cepat-cepat mendarat di Bumi-Centauri. Namun, betapa kaget dirinya kala Orion memberikannya sebuah cenderamata; sebuah komnir spesial dengan kata-kata mutiara.

Berhari-hari Amy penasaran dengan kuotasi pendek yang Orion kutip dari sebuah karya klasik karangan Dante. Sebuah video rahasia berhasil diselundupkan Orion lewat kartu mem. Dengan sederet petunjuk Orion, Amy terpaksa harus memecahkan kode-kode penting itu, karena Amy satu-satunya yang dilahirkan di planet Bumi-Surya, dan Amy adalah satu-satunya yang dapat mengambil keputusan.

 
 
Read More »

Trash ‘Anak-Anak Pemulung’ – Andy Mulligan

 

 

Judul                     : Trash ‘Anak-Anak Pemulung’
Penulis                 : Andy Mulligan
Penerjemah       : Nina Andiana
Penerbit              : Gramedia Pustaka Utama
Terbit                    : Cetakan pertama, Juli 2012
Tebal                     : 256 halaman
Rate                       : 4 / 5

 

 

“Siapa yang tahu apa yang bakal kautemukan selagi memilah-milah sampah! Mungkin saja ini hari keberuntunganmu.” Trash ‘Anak-Anak Pemulung’, hlm. 3

 

Hari itu mungkin hari keberuntungan Raphael Fernández. Di antara tumpukan sampah, tempatnya bekerja, ia menemukan hal lain selain tinja dalam bungkusan kering. Gardo, sahabat terbaiknya, sudah mengamati dari jauh ketika ia memasukkan tas kulit itu secara diam-diam. Seulas cengiran tersungging di sudut bibir. Isi tas itu seribu seratus peso dan mereka akan mengadakan makan malam meriah malam petang itu.

Namun, siapa sangka jika sekonyong-konyong sirine nyaring malah mengepung Behala, kota sampah tempat mereka bermukim, malam itu. Para kepala keluarga dikumpulkan di lapangan. Dan Thomas, pemimpin kecil mereka mengumumkan kalau polisi tengah mencari sebuah tas kulit yang sangat penting.

Raphael bergidik ngeri; Gardo menatapnya waswas; bibi Raphael buru-buru berkata jika keponakannya menemukan sesuatu siang itu. Alih-alih mengaku, Raphel bilang ia menemukan sepatu. Namun, ia tahu, jika tas kulit yang ia temukan pasti mengarah ke petunjuk lain yang lebih besar ketimbang imbalan yang diangsurkan polisi.

Nyatanya ia membawa tas itu jauh ke gorong-gorong gelap milik Tikus—Jun-Jun—dan memintanya menyimpan benda itu untuk sementara waktu. Raphael dan Gardo menyadari, selain seribu seratus peso yang mereka gunakan untuk berpesta, ada hal lain ditanggalkan oleh José Angelico, yang diduga sebagai pemilik tas kulit itu. Di dalam dompet lusuh yang ia tinggalkan terdapat sebuah peta dan anak kunci bertuliskan 101, yang Tikus tahu ke mana mereka akan menemukan petunjuk selanjutnya.

 

“Kami tidak menyadari fakta bahwa jika polisi mengira kau memiliki sesuatu, mereka tidak akan berhenti sebelum berhasil mendapatkannya darimu.” Trash ‘Anak-Anak Pemulung’, hlm. 42

 

 Read More »

Across the Universe ‘Melintasi Semesta’ – Beth Revis

 

Judul                     : Across the Universe ‘Melintasi Semesta’ (Across the Universe #1)
Penulis                 : Beth Revis
Penerjemah       : Barokah Ruziati
Penerbit              : Gramedia Pustaka Utama
Terbit                    : Cetakan pertama, Januari 2015
Tebal                     : 488 halaman
Rate                       : 5 / 5

 

 

“Seluruh pesawat ini disatukan oleh logam dan kebohongan, semua orang entah ditipu atau menipu.”
Across the Universe ‘Melintasi Semesta’, hlm. 479

  

Seluruh rangkaian perjalanan itu disponsori oleh Financial Resource Exchange. Persekutuan multinasional yang menyediakan sumber daya bagi kelompok ilmuan dan Awak Kapal militer terpilih untuk melakukan perjalanan lintas semesta dalam rangka mencari lebih banyak sumber daya.

Amy bisa dibilang beruntung, tetapi juga tidak di sisi lain. Kedua orangtuanya yang berprofesi sebagai ilmuan dan awak militer secara kebetulan terpilih menjadi Awak Kapal Godspeed. Tubuhnya dibekukan secara kriogenik sebagai kargo nonesensial. Dijadwalkan akan bangun pada tiga ratus tahun mendatang; menjejaki sebuah planet baru yang bernama Bumi-Centauri.

Tubuh-tubuh beku itu disimpan dengan kecanggihan mutakhir dalam ruang rahasia pesawat. Namun, suatu insiden misterius terjadi, lodong kriogenik nomor 42, tempat di mana Amy terbaring diputus begitu saja.

Amy terbangun dari tidur bekunya. Dirinya terjebak di antara manusia-manusia asing yang tidak pernah ia kenal sebelumnya. Wajah mereka mirip antara satu sama lain, sedang dirinya nampak pucat sepias kertas.

 

“Semua orang di pesawat memiliki kulit warna zaitun kelam yang sama, rambut dan mata cokelat gelap yang sama.” Across the Universe ‘Melintasi Semesta’, hlm. 43

 

Eldest mengancam Amy untuk mengikuti aturan. Ia pemimpin kapal raksasa itu. Mengendalikan 2.312 orang di dalamnya dengan cara yang amat menakutkan. Sekali saja Amy melampaui batas, Eldest tidak segan-segan melemparnya ke ruang angkasa. Namun, sebaliknya, sebagai penerus Eldest, Amy mengenali Elder sebagai remaja pemberontak yang dapat dipercaya.

Insiden pencabutan lodong krio tidak berhenti sampai di nomor 42. Nomor 10 tidak terselamatkan, meninggal lantaran tenggelam dalam cairan krionya sendiri. Amy semakin waswas, ia tak ingin hal tersebut terjadi kepada kedua orangtuanya.

Elder membantu Amy memecahkan kasus tersebut, namun di kala insiden itu terjadi kom-nir (alat komunikasi nirkabel) pesawat mendeteksi kehadiran Eldest di ruang krio. Amy tak bisa serta-merta menuduh pria tua itu sebagai pelaku utama. Alih-alih, Eldest selalu membagi akses ke seluruh ruangan kapal dengan penerusnya, Elder.

Lantas, siapa yang melakukan pencabutan lodong krio tersebut? Dan atas tujuan apa ia melakukan hal itu?

Read More »

Requiem (Delirium #3) – Lauren Oliver

 
 

Judul                     : Reqiuem (Delirium #3)
Penulis                  : Lauren Oliver
Penerjemah         : Prisca Primasari
Penerbit               : Mizan Fantasi
Terbit                    : Cetakan pertama, Desember 2014
Tebal                     : 488 halaman
Rate                       : 3.5/5

 

“Dia memang bukan milikku lagi—aku pun tidak berhak untuk merasa kehilangannya. Tetapi aku tetap berduka, merasa sulit memercayai kepergiannya.”Requiem, hlm. 301

 
 
Mereka kembali dari New York City, setelah Lena berhasil menyelamatkan Julian dari hukuman mati. Bergerak dengan para Invalid lain. Lena pun menemukan Alex—cinta pertamanya—yang ia kira mati, ditangkap oleh para Regulator kala pengepungan di 37 Brooks.  Alex memang berhasil melarikan diri dari Kriptus, tapi Lena tak lagi mengenal dirinya yang baru. Alih-alih mengacuhkan keberadaannya, Alex malah lebih tertarik dengan Coral, anggota baru yang tak sengaja mereka temukan di tengah Alam Liar.

Di balik Tembok, Hana hidup nyaman setelah dipasangkan dengan Fred Hangrove.  Ia telah disembuhkan. Tinggal hitungan hari sampai ia resmi menjadi istri sang gubernur muda. Namun, kala malam menjelang, Hana selalu dihantui perasaan bersalah. Kejadian 37 Brooks silam; wajah Lena yang dirundung sengsara; Alex yang dikabarkan mati. Ia tak bisa tinggal diam.

Lena masih mempertanyakan suara hatinya, menanti tatapan Alex yang dulu bersirobok dengan rona matanya; kehangatan Julian yang selalu menyelimutinya tiap malam. Siapakah yang harus ia pilih? Julian? Atau jangan-jangan ia masih mencintai Alex? Namun, di balik semua pertanyaan itu, ia harus terus bergerak. Alam Liar tak lagi aman. Fred Hangrove punya rencana jahat. Ia ingin semua Alam Liar dihancurkan. Para Invalid harus balik melawan alih-alih menunggu untuk diburu.

Read More »

Never Fade ‘Takkan Pernah Pudar’ – Alexandra Bracken

Judul                     : Never Fade (The Darkest Minds #2)
Penulis                 : Alexandra Bracken
Penerjemah       : Linda Boentaram
Penerbit              : Fantasious (Ufuk Publishing House)
Terbit                    : Cetakan pertama, November 2014
Tebal                     : 624 halaman
Rate                       : 4.5 / 5
   

“Kau akan pergi dan menemukan Liam. Kau akan membawa pulang informasi itu. Aku tak pernah meragukannya. Karena, Permataku.” Never Fade ‘Takkan Pernah Pudar’, hlm. 106

 
 
Setelah menghapus jejaknya dalam ingatan Liam dan meninggalkan Chubs dalam keadaan tertembak, Ruby sepakat mengikuti perjanjiannya dengan Cate; bergabung dengan Liga Anak—sebuah organisasi yang dikepalai John Alban. Dalam Liga Anak, Ruby tak sulit mendapatkan perhatian, kemampuannya sebagai Oranye, membuatnya ditugaskan untuk memimpin sebuah regu kecil.

Suatu hari di sebuah Op penyelamatan yang dilakukannya bersama Rob Meadow, muncul sebuah serangan yang nyaris mengancam nyawa Ruby dan Vida. Serangan balik itu menuai kecurigaan bahwa Rob sendirilah yang merancang hal tersebut bersama para pemberontak baru, yang berambisi menggunakan para anak Psi sebagai sasaran untuk menjatuhkan kekuasaan Presiden Gray.

Ruby rupanya menemukan Cole Stewart, kakak laki-laki Liam, pada sebuah Op penangkapan terbaru. Cole yang tengah menjalankan misi penelitannya mengenai penawar penyakit IAAN (Idiopathic Adolescent Acute NeurodegenerationDegenerasi Saraf Akut Remaja’) meletakkan seluruh bahan penelitiannya pada flash drive yang dijahitkan di dalam jaket. Akan tetapi, lantaran panik dan menyuruh Liam lekas pergi, adik laki-lakinya malah salah mengganjur jaket miliknya dan menghilang.

Cole menyuruh Ruby mengambil risiko terbesar dan menemukan flash drive itu secara diam-diam. Ia perlu menemukan Liam, yang seharusnya tak pernah ia temui kembali. Namun, menembus barikade Liga Anak tanpa sepengetahuan Rob pun tentunya tidak mudah. Ia perlu mengemban tanggungjawab untuk melindungi anggota regunya, begitu juga dengan serangan sok tahu dari Vida yang menguntit secara diam-diam. Hingga mereka bertemu dengan Chubs, Ruby tak tahu, apakah hatinya siap untuk kembali bertemu dengan Liam.
 
 

“Aku tak ingin tahu pendapat Chubs tentangku setelah tahu apa yang telah kulakukan untuk Liga. Aku tidak ingin tahu yang dipikirkan Liam tentangku atau bau asap di ruambutku yang tak pernah hilang, sebanyak apa pun aku telah mencucinya.”Never Fade ‘Takkan Pernah Pudar’, hlm. 213

Read More »

Under The Never Sky – Veronica Rossi

  

Judul                     : Under the Never Sky (Under the Never Sky #1)
Penulis                  : Veronica Rossi
Penerjemah         : Dina Begum
Penerbit               : Mizan Fantasi
Terbit                    : Cetakan pertama, September 2014
Tebal                     : 492 halaman
Rate                       : 3.5/5

 
 

 “Sebuah dunia yang benuh dengan tidak pernah di bawah langit yang tak pernah ada” —Under The Never Sky, hlm. 168

 

Aria tak pernah menyangka kalau ia akan berada sangat dekat dengan Gerai Maut, dunia di balik dinding Pod, di mana badai Aether berdengung kencang menaungi mereka. Dunia sudah terlanjur kacau balau saat Aria dilahirkan, manusia terbagi atas dua kubu; kubu yang mendekam di balik naungan kubah Pod—disebut sebagai Tikus Mondok—dan Orang Luar, suku-suku liar yang primitif dan kanibal.

Setelah insiden kebakaran yang menimpa Ag 6, Aria mendapati Smarteye-nya raib. Ia ingat kalau malam itu Soren dan kedua antek-anteknya mengajaknya memasuki tertorial terlarang di Ag 6. Perilaku mereka sungguh pelik. Soren ingin menujukkan kalau mereka bisa bebas tanpa status Penghuni Pod. Membuktikan bahwa api adalah sesuatu benda yang luar biasa. Tapi, Aria tahu, tindakan itu telah melanggar kebijakan yang berlakukan oleh Direktur Keamanan. Aria berniat merekam, namun sekonyong-konyong surel dengan subyek “Burung Ketilang” dari Lumina, ibunya, muncul di layar Smarteye. Sesuatu yang tidak beres sudah terjadi. Aria tidak dapat mengecek surel itu lebih lanjut, seseorang kepalang membuatnya tak sadarkan diri.

Direktur Keamanan Reverie menuduh Aria sebagai penyebab kebakaran di Ag 6 dan membuangnya ke Gerai Maut. Aria pikir, ia akan segera mati. Hidup di antara desir pepohonan dan kegelapan di tengah malam. Semuanya terasa menjijikkan. Namun, takdir berkata lain dan mempertemukannya dengan seorang pemuda dari Suku Tide bernama Perry. Seseorang yang angkuh, tak banyak bicara, tetapi ia perlu bantuan Aria, pemilik Smarteye yang diambilnya tempo hari.

Read More »