The Seven Good Years – Etgar Keret

31186945
 
 
Judul                     : The Seven Good Years
Penulis                  : Etgar Keret
Penerjemah         : Ade Kumalasari
Penerbit               : Bentang Pustaka
Terbit                    : Cetakan pertama, Juni 2016
Tebal                     : 198 halaman
Rate                       : 5/5
 
 

Sebagai mana nama Etgar Keret kian terkenal, kini ia ingin berbagi mengenai hidupnya sebagai seorang ayah yang tinggal di kawasan penuh konflik. Mulai hari pertama ketika ia menemani sang istri melahirkan di rumah sakit, rupanya tak sengaja ia malah bertemu dengan seorang wartawan yang tengah meliput korban bom massal. Etgar sempat dikiranya sebagai salah seorang kerabat korban yang selamat.

Wartawan jelas menjadi kecewa saat Etgar berbicara mengapa ia berdiri di lorong rumah sakit kala itu. Namun, celotehan Etgar mengenai keadaan negerinya tak berhenti sampai di sana. Sebagai seorang Yahudi yang tinggal di tanah Israel, Etgar selalu dapat menambahkan sedikit humor di tengah kisah hidupnya yang penuh konflik dan perang politik.

Seperti yang dikatakan Eka Kurniawan di pengantarnya pada buku ini, kendati penuh dengan aral dan rintangan, tapi Etgar malah menamai memoarnya dengan nama “Seven Good Years”. Sebuah titel bermakna positif menurut versinya sendiri.

Lantas, bagaimana jungkir balik Etgar Keret dalam menghadapi setiap permasalahan dan tingkah jenaka dari Lev, anak laki-lakinya?

 

Read More »

The Kite Runner – Khaled Hosseini

92438491
 
 
Judul                     : The Kite Runner
Penulis                  : Khaled Hosseini
Penerjemah         : Berliani M. Ngurahani
Penerbit               : Penerbit Qanita
Terbit                    : Cetakan pertama, Agustus 2010
Tebal                     : 496 halaman
Rate                       : 5/5
 
 

“Hanya ada satu macam dosa, hanya satu. Yaitu mencuri. Dosa-dosa yang lain adalah variasi dosa itu. Kalau kau membunuh seorang pria, kau mencuri kehidupannya. Kau mencuri seorang suami dari istrinya, merampok seorang ayah dari anak-anaknya. Kalau kau menipu, kau mencirui hak seseorang untuk mendapatkan kebenaran. Kalau kau berbuat curang, kau mencuri hak seseorang untuk mendapatkan keadilan. Mengerti?”The Kite Runner, hlm. 34-35

 

Amir mencoba mengingat musim dingin yang sama di tahun 1975. Kala ia masih berusia dua belas tahun. Menghabiskan waktu di bawah naungan rumah Baba yang luas dan berlarian di padang rumput bersama Hassan, si pengejar layangan berbibir sumbing.

Hassan yang merupakan anak Hazara, telah dianggap Amir sebagai sahabat dan saudaranya. Namun, di hari itu, kala ia memenangkan kompetisi layangan mengalahkan yang lainnya, Amira teramat menyesal membiarkan Hassan mengejar layangannya untuk keseribu kali.

Amir selalu memiliki pilihan. Ketika ia mendapati Hassan yang tersudut di sebuah gang, Amir bisa melangkah masuk untuk membela sahabatnya. Tapi, di benak kecilnya, Amir malah pergi melarikan diri.

Amir telah mengkhianati Hassan. Sejauh pandangannya melirik kepergian Hassan dan Ali, rasa bersalah yang tengah mengimpit dadanya menjadi tak tertahankan. Jarak dapat diberai samudera, namun Amir selalu kehabisan kata-kata untuk memungkir. Setiap kali ia mengenang sebuah ingatan yang indah. Memori itu selalu saja berimajikan Hassan. Berlari mengejar layangan, menyusuri lembah-lembah di Kabul.

Kala itu tahun 2001, di suatu musim panas, kawan Baba yang bernama Rahim Khan menelepon dari Pakistan. Meminta Amir mengunjunginya. Seperempat sudah Amir berusaha melupakan tempat kelahirannya. Kota Kabul yang tengah diinjaknya tengah mengalami penjajahan. Mengunjungi relung yang tengah menjadi batu dan puingan tembok, Rahim Khan, yang sekarat, pun menceritakan hal sesungguhnya terjadi di antara Baba dan Hassan yang teramat disayanginya.

 
Read More »

Malam-Malam Terang – Tasniem Fauzia Rais & Ridho Rahmadi

151e5f184bdea584fe31c81977cd7470
 
 
Judul                     : Malam-Malam Terang
Penulis                 : Tasniem Fauzia Rais & Ridho Rahmadi
Penerbit              : Gramedia Pustaka Utama
Terbit                    : Cetakan pertama, Desember 2015
Tebal                     : 245 halaman
Rate                       : 3.5 / 5
 
 

“Jadikan kegagalan sahabat setiamu. Bukan berarti kamu harus selalu gagal, namun ketika kegagalan datang, sambutlah ia sebagai sahabat. Mengapa? Karena kegagalan adalah cermin yang mengingatkan kita untuk berusaha lebih baik. Tanpa cermin itu kita tidak bisa melihat diri sendiri, tidak bisa mengevaluasi diri.”Malam-Malam Terang, hlm. 66

 

Sebagai anak keempat dari lima bersaudara, Tansiem sangat ingin mengikuti jejak kakak laki-lakinya, Mumtaz, yang masuk ke SMA 3. Akan tetapi, kala pengumuman hasil EBTANAS dibagikan. Dunianya seakan runtuh. NEM yang bakal ia bangga-banggakan nyatanya tak memenuhi kriteria untuk masuk ke SMA Negeri.

Tasniem dirundung mimpi buruk. Sampai kunjungannya ke rumah sang nenek di Solo, ia pun disadarkan oleh sebuah ide yang tak henti-hentinya mengusik pikiran. Nim, begitu ia sering dipanggil, meminta izin kepada ibunya untuk merantau ke Singapura.

Berbekal restu kedua orangtua, yang rela menjual sepetak tanah, Tansiem pun berangkat menuju sekolah barunya, Globe College. Globe College adalah sekolah asrama yang akhirnya mempertemukan Nim dengan ketiga sahabat dari berbagai belahan dunia. Cecilia dari China, Aarin berasal dari India, dan Angelina yang juga berasal dari Indonesia.

Sebagai seorang Muslim yang taat, bermukim di luar negeri dengan banyak perbedaan kultur, awalnya  Tansiem merasa sedikit segan. Namun, lantaran toleransi dan sikap saling menghormati ketiganya, Tansiem, Aarin, Cecilia, dan Angelina berhasil membangun sebuah lingkaran persahabatan.

Bukan sekadar teman sekamar, bersama ketiga sahabatnya Tansiem melewati setiap ujian yang membuatnya bergadang bermalam-malam, mengelilingi negeri Malaysia untuk mencari sebuah alamat, dan memenangkan seuatu yang pernah direbut darinya.

 
 
Read More »

A Thousand Miles in Broken Slippers – Rosi L. Simamora

e85fccbdde95d3e643357a34f85e3a65
 
 
Judul                     : A Thousand Miles in Broken Slippers
Penulis                 : Rosi L. Simamora
Penerbit              : Gramedia Pustaka Utama
Terbit                    : Cetakan pertama, Januari 2016
Tebal                     : 210 halaman
Rate                       : 4.5 / 5
 
 

“Jangan biarkan sandalmu menentukan jati dirimu, Dong. Jangan pernah merasa malu ke sekolah hanya mengenakan sandal dan lungusran yang sudah pudar putihnya. Hanya ada satu cara untuk memperbaiki takdirmu—sekolah. Timbalah ilmu setinggi mungkin, Nak.”A Thousand Miles in Broken Slippers, hlm. 187

 

Ia dipanggil Dong. Dilahirkan di Bolinao, salah satu kota paling miskin di wilayah utara Filipina. Lahir di tengah keluarga yang tidak berada, membuatnya harus bekerja keras mencari nafkah. Di umur delapan tahun, bersama dengan Rabbit Boys lainnya ia mengejar bus kotor demi dapat mencucinya dengan upah sepuluh peso (yang setara dengan dua ribu rupiah).

Masa kecil Dong begitu getir. Sebagaimana anak seumurnya pergi bersekolah, ia pun pergi dengan beralaskan sandal jepit dan seragam menguning, bekas lungsuran orang lain. Ma’m Violetta gurunya sering sekali memergokinya menghabiskan waktu istirahat di dalam perpustakaan, bukan serta-merta gemar membaca, tapi karena ia tak memiliki uang untuk membeli makanan.

Hidup Dong yang sulit sesungguhnya telah berasal dari rahim ibunya. Berkali-kali Nila, sang ibu, berniat menggugurkan kandungan. Tapi, Dong malah lahir dengan selamat. Dong kecil sudah menjadi akar permasalahan semuanya. Para saudara boleh mengejeknya dengan sebutan anak haram, tapi Erning, sang ayah, malah menyayangi Dong seperti buah hatinya sendiri.

Bagi Dong, Erning adalah segalanya. Ayah yang membuatnya berani untuk bermimpi. Melalui nasihat Erning, Dong selalu berusaha menjadi yang terpandai. Tidak hanya di bidang akademis, tapi menang di berbagai kompetisi.

Mulai dari sebuah buku yang ia intip di perpusatakaan sekolah, mimpi Dong selalu sederhana. Ia ingin menjadi yang berhasil di dalam keluarganya.

 

“Jadi, itukah alasanmu memburu Paris dan Eiffel?” ada nada mengerti dalam suara Ma’am Pamintuan, “Karena kau ingin meninggalkan tempat ini, dan Eiffel adalah lambang keberhasilanmu…” A Thousand Miles in Broken Slippers, hlm. 12

 
 
Read More »

9 dari Nadira – Leila S. Chudori

9-dari-nadira
 
 
Judul                     : 9 dari Nadira
Penulis                 : Leila S. Chudori
Penerbit              : Kepustakaan Populer Gramedia
Terbit                    : Cetakan pertama, Oktober 2009
Tebal                     : 270 halaman
Rate                       : 4.5 / 5
 
 

“Jakarta tidak memiliki seikat seruni. Tetapi, aku akan mencarinya sampai ke ujung dunia, agar ibu bisa mengatupkan matanya dengan tenang.”Mencari Seikat Seruni, “9 dari Nadira”

 

 

Dua tahun bekerja sebagai jurnalis surat kabar Tera, Nadira dikenal sebagai sosok yang begitu dikagumi di kantornya. Ia cerdas, pemikirannya selalu brilian, dan juga hobinya yang terlampau hemat kata.Namun, pagi itu semua orang bergunjing, teman-teman kantornya, atasannya, begitu juga dengan Jakarta. Tidak ada seorang pun yang tahu, apa alasan ibu Nadira, Kemala Yunus, mengakhiri hidupnya.

Kemala bukan orang sembarangan, menurut Nadira. Ibunya selalu dikenal sebagai perempuan yang berani, melangkahi pemikiran kolot dari para mertua, dan berpikiran bebas. Tapi, sekali lagi pertanyaan itu menyembul, apa yang sesungguhnya terbersit di benak Kemala?

Semenjak kematian Kemala, Nadira pun berubah. Tak hanya Nadira, tetapi keluarga Suwandi. Tidak ada pemikiran mudah untuk dicerna. Selalu saja kerumitan dan kepelikan yang berkelindan di sekitar mereka.

 

  1. Mencari Seikat Seruni
  2. Nina dan Nadira
  3. Melukis Langit
  4. Tasbih
  5. Ciuman Terpanjang
  6. Kirana
  7. Sebilah Pisau
  8. Utara Bayu
  9. At Pedder Bay

 
 
Read More »

Kambing & Hujan: Sebuah Roman – Mahfud Ikhwan

 

Judul                     : Kambing & Hujan: Sebuah Roman
Penulis                 : Mahfud Ikhwan
Penerbit              : Bentang Pustaka
Terbit                    : Cetakan pertama, Mei 2015
Tebal                     : 374 halaman
Rate                       : 4 / 5
 
 

“Sebab tak ada biografi tanpa sebuah roman!”Kambing dan Hujan, hlm. 72

 

Mifathul Abrar bertemu dengan Nurul Fauzia Jumat siang itu. Hatinya berdebar sembari menumpangi bus yang sama dengan seorang warga Centong. Sejauh apa ia merantau, ia selalu tahu gadis mana yang sekampung halaman dengannya. Mif lekas jatuh hati dengan Fauzia, pun dengan gadis itu, tapi siapa sangka kalau keduanya dibesarkan dengan dua aliran berbeda. Sama-sama Islam, namun berbeda adat, pun penempatan Hari Raya. Mif dibesarkan dengan tradisi Islam modern, Fauzia dengan Islam tradisional.

Sayangnya, Mif dan Fauzia tak bisa menyembunyikan perasaan itu terlalu lama, terlebih keduanya sudah memikirkan soal akad nikah. Centong bukan wilayah yang besar. Sedikit desas-desus, mau tak mau Fauzia harus buka mulut kepada Pak Fauzan, ayahnya. Sambil bermanja-manja, ia ingin minta restu, tapi di lain sisi Ibu Yatun, istrinya, malah diam seribu bahasa. Bukan persoalan Islam modern atau tradisional, tapi hatinya pedih saat mendengar nama Mif terucap dari bibir anak gadisnya.

Sedang Mif meminta kejelasan dengan Pak Kandar. Apa hanya lantaran persoalan Masjid Selatan dan Utara lantas keduanya tak bisa menikah? Atau pelanggaran norma agama hanya sekadar akal-akalan bapaknya yang ingin menutupi rahasia di masa lalu?

 

”Kita dulu mengira bapak-bapak kita adalah dua musuh bebuyutan yang tak terdamaikan. Ternyata, mereka dua sahabat karib, bahkan memanggil dengan panggilan “saudara”. Bukannya itu justru sangat menggembirakan?”Kambing dan Hujan, hlm. 152

Read More »

The Palace of Illusions ‘Istana Khayalan’ – Chitra Banerjee Divakaruni

 

Judul                     : The Palace of Illusions ‘Istana Khayalan’
Penulis                 : Chitra Banerjee Divakaruni
Penerjemah       : Gita Yuliani K.
Penerbit              : Gramedia Pustaka Utama
Terbit                    : Cetakan pertama, Juli 2009
Tebal                     : 496 halaman
Rate                       : 5 / 5

   

“Bukankah kita semua bidak di dalam tangan Waktu, pemain terbesar itu?” The Palace of Illusions ‘Istana Khayalan’, hlm. 93

 
 
Dropadi tidak pernah bosan mendengar kisah kelahirannya dari mulut Dhai Ma; detik-detik paling sunyi, sekaligus paling lucu ketika seorang gadis berkulit gelap melompat dari luapan api pengorbanan. Perangainya yang tergesa-gesa, membuat ia nyaris terjungkal lantaran menginjak kain sari-nya seorang diri.

Dropadi diperlakukan sangat spesial oleh Raja Panchala, sebagai satu-satunya Putri di antara kakak-kakaknya yang laki-laki. Tapi, Dropadi kecil bukan putri yang ingin diperlakukan sebagaimana seorang putri raja. Ia benci pelajaran seorang putri, alih-alih, menyelinap ke pelajaran-pelajaran penuh strategi milik kakaknya, Dre. Ditegur berulang kali dan nyaris membuat Raja Panchala yang pemarah kehabisan akal. Dropadi dekat dengan Khrisna, sahabat kakaknya, pun sahabat Arjuna, seorang pejuang tangguh dari Hestinaputra.

Sedari kecil, Dropadi tak sabar ingin bertemu dengan pangeran tampannya. Terlebih ketika mendengar cerita-cerita Khrisna. Tanpa sepengetahuan siapapun, Dhai Ma membawa Dropadi kepada seorang suci. Memperdengarkannya pada sebuah ramalan:

 

“Kau akan mengawini lima pahlawan terbesar di masamu. Kau akan menjadi ratu segala ratu, dicemburui semua dewi. Kau akan menjadi pelayan. Kau akan menjadi penguasa istana paling hebat, lalu kehilangan itu. Kau akan diingat karena menyebabkan perang terbesar pada masamu. Kau akan menyebabkan kematian raja-raja jahat—dan anak-anakmu, dan kakakmu. Sejuta perempuan akan menjadi janda karena kau. Ya, memang, kau akan meninggalkan jejak pada sejarah. Kau akan dicintai, meskipun kau tidak selalu siapa yang mencintaimu. Meskipun kau mempunyai lima suami, kau akan mati sendirian, ditinggalkan pada akhirnya—sekaligus tidak ditinggalkan.” The Palace of Illusions ‘Istana Khayalan’, hlm. 67-68

 
 
Jantungnya berdebar-debar. Tahun demi tahun berjalan, Raja Panchala akhirnya menggelar sebuah sayembara sulit bagi para ksatriya yang hendak menikahi putrinya. Dropadi menunggu kehadiran Arjuna; Dre dan Khrisna mengantisipasi kehadiran Karna.

 
 
Read More »