9 dari Nadira – Leila S. Chudori

9-dari-nadira
 
 
Judul                     : 9 dari Nadira
Penulis                 : Leila S. Chudori
Penerbit              : Kepustakaan Populer Gramedia
Terbit                    : Cetakan pertama, Oktober 2009
Tebal                     : 270 halaman
Rate                       : 4.5 / 5
 
 

“Jakarta tidak memiliki seikat seruni. Tetapi, aku akan mencarinya sampai ke ujung dunia, agar ibu bisa mengatupkan matanya dengan tenang.”Mencari Seikat Seruni, “9 dari Nadira”

 

 

Dua tahun bekerja sebagai jurnalis surat kabar Tera, Nadira dikenal sebagai sosok yang begitu dikagumi di kantornya. Ia cerdas, pemikirannya selalu brilian, dan juga hobinya yang terlampau hemat kata.Namun, pagi itu semua orang bergunjing, teman-teman kantornya, atasannya, begitu juga dengan Jakarta. Tidak ada seorang pun yang tahu, apa alasan ibu Nadira, Kemala Yunus, mengakhiri hidupnya.

Kemala bukan orang sembarangan, menurut Nadira. Ibunya selalu dikenal sebagai perempuan yang berani, melangkahi pemikiran kolot dari para mertua, dan berpikiran bebas. Tapi, sekali lagi pertanyaan itu menyembul, apa yang sesungguhnya terbersit di benak Kemala?

Semenjak kematian Kemala, Nadira pun berubah. Tak hanya Nadira, tetapi keluarga Suwandi. Tidak ada pemikiran mudah untuk dicerna. Selalu saja kerumitan dan kepelikan yang berkelindan di sekitar mereka.

 

  1. Mencari Seikat Seruni
  2. Nina dan Nadira
  3. Melukis Langit
  4. Tasbih
  5. Ciuman Terpanjang
  6. Kirana
  7. Sebilah Pisau
  8. Utara Bayu
  9. At Pedder Bay

 
 
Read More »

Negeri van Oranje – Wahyuningrat, dkk.

 

Judul               : Negeri van Oranje
Penulis           : Wahyuningrat, Adept Widiarsa, Annisa Rijadi, Rizki Pandu Permana
Penerbit        : Bentang Pustaka
Terbit             : Cetakan Pertama Edisi II, Juni 2014
Tebal              : 584 halaman
Rate                : 3.5 / 5

 

Negeri Van Oranje bercerita tentang petualangan lima orang mahasiswa Indonesia yang mengejar gelar S2 di Belanda. Lintang, Banjar, Wicak, Daus, dan Geri; kelimanya pertama kali bertemu di stasiun Amersfoort, terjebak di dalam situasi tak enak menunggu badai mereda. Banjar yang pertama kali menjerit saat kotak kreteknya habis. Lantas, di balik kerumunan berwajah Kaukasia dan berambut blonde, ia menemukan sosok Wicak, yang menyuguhi rokok linting. Maklum, di Belanda rokok menjadi benda yang paling sulit didapatkan, selain larangan merokok di tempat umum, rokok filter bungkusan pun menjadi benda yang kerap membuat kantong mahasiswa cekak.

Dari perbincangan kecil, memang rokoklah yang seharusnya diberi penghargaan sebagai pemersatu. Ada Daus, yang sekonyong-konyong muncul, dan Geri, yang langsung ditatap sinis oleh ketiganya lantaran wajah gantengnya, mengangsurkan rokok kretek yang baru saja dibawa oleh salah satu kawan dari Indonesia. Terakhir, Lintang muncul. Ia satu-satunya perempuan di Aagaban, pemerkasa sekaligus pencetus nama konyol itu sebagai kependekan: Aliansi Amersfoort Gara-Gara Badai di Netherlands.

Kelimanya serta-merta akrab, tak pernah absen nongol di chatroom sekaligus bertemu dan melakukan ritual-ritual seru. Susah-senang ditanggung bersama. Iri-dengki pun dicetuskan tanpa malu-malu. Kelimanya berjanji untuk menjadi sahabat melampaui rintangan-rintangan di dunia perkuliahan. Hanya satu yang paling sulit untuk dijalani, dari satu hati ke hati lain, tiga di antaranya diam-diam memperebutkan satu hati yang selalu menjadi arah mata angin bagi persahabatan mereka.

 

Read More »