To All the Boys I’ve Loved Before – Jenny Han

Judul                     : To All The Boys I’ve Loved Before (To All The Boys I’ve Loved Before #1)
Penulis                  : Jenny Han
Penerbit                 : Simon & Schuster Books for Young Readers
Terbit                     : Cetakan pertama, April 2014
Tebal                      : 288
Rate                        : 4 /5

 

 

“You’d rather make up a fantasy version of somebody in your head than be with a real person.”  Jenny Han, To All the Boys I Loved Before

 

Sudah terlalu lama Lara Jean bersembunyi di balik reputasi Margo, kakak perempuannya yang sempurna. Semuanya terjadi terlalu cepat. Ia anak tengah dari Song bersaudara, yang gemar mengintip dari jendela rumah, memergoki Margo dan Josh, tetangga mereka yang diam-diam ia suka, berpacaran.

Sedikit aneh, tapi Lara Jean gemar menyimpan perasaannya dalam surat-surat cinta yang tidak pernah ia kirim. Tertumpuk rapi di sebuah kotak pemberian mendiang ibu mereka. Sampai suatu hari tiba-tiba saja seseorang mengirimkan surat-surat itu kepada sederet laki-laki yang pernah disukainya.

Semua menjadi kacau. Tentu saja. Peter Kavinsky—laki-laki yang pertama kali diciumnya—mendapatkan satu, lalu Josh, dan siapa lagi? Ia tak sempat berpikir lebih jauh, kala Peter K mendatangi lokernya di pagi itu. Lara Jean menjelaskan semuanya. Tentang surat konyolnya, tentang perasaannya dulu.  Semuanya berlalu. Tapi, tidak dengan Josh, tetangganya yang baru saja mencetuskan ide bahwa Lara Jean adalah cinta pertamanya sebelum Margo, ingin tahu bahwa surat itu bukan sekadar insiden salah kirim.

Lara Jean yakin, Margo dan Jean akan rujuk suatu hari nanti kendati keduanya telah berpisah di malam sebelum Margo hendak pergi ke Skotlandia. Di antara sederet laki-laki di daftarnya, ia selalu memilih Margo.

 

“Love is scary: it changes; it can go away. That’s the part of the risk. I don’t want to be scared anymore.” Jenny Han, To All the Boys I Loved Before

 

Lara Jean tak ingin menghancurkan perasaan kakak perempuannya, jadilah ia membuat sebuah siasat. Berpura-pura pacaran dengan Peter K. Toh tak merugikan keduanya; Lara Jean dapat meyakinkan Josh bahwa surat itu hanya semacam ungkapan rasa kasmaran bodohnya di masa lalu; Peter K dapat membuat Genevieve, mantan pacarnya, cemburu.

Solusi ditemukan. Dengan segala macam kontrak tolol tentang tidak boleh mengumbar PDA di depan umum. Lara Jean yakin semuanya pasti akan mengira kalau mereka sungguhan. Tapi, bagaimana jika ia sungguh jatuh cinta pada Peter? Lantas, siapakah yang akan ia pilih?

 

Read More »

The Half Life of Molly Pierce – Katrina Leno

 

Judul                     : The Half Life of Molly Pierce
Penulis                  : Katrina Leno
Penerbit                 : Harper Teen
Terbit                     : Cetakan pertama, Juli 2014
Tebal                      : 256 halaman
Rate                        : 5 /5

 

 

We remember them even when we don’t remember them.
We try and forget, but it’s pointless.
Even amnesia. Even comas and brain damage and traumatic shock.
Whatever makes us not remember, we still remember.
Our minds flounder like fish but our bodies…
Our bodies remember. “

Katrina Leno, The Half Life of Molly Pierce

 

Layaknya seorang remaja berusia tujuh belas tahun, Molly menjalani kehidupannya dengan baik-baik saja; kedua orangtua yang menyayanginya, kedua adik yang selalu dekat dengannya, lantas kedua sahabat yang selalu menjadi tempatnya berbicara. Molly pergi ke sekolah seperti kebanyakan remaja lainnya, menoton acara teve, pulang ke rumah. Mungkin ada satu yang berbeda, ia sempat mengalami depresi ringan beberapa bulan lalu hingga harus berjumpa dengan Alex dan menceritakan perkembangannya setiap hari. Tapi, itu bukan masalah. Semuanya baik-baik saja.

Malam itu, lagi-lagi, adalah malam biasa, Molly seolah terbangun dari mimpi panjangnya dan sadar tengah mengendarai mobil di Prince Street. Ia mencoba untuk mencari tahu. Melirik ke sekitar. Hingga sadar lampu lalu lintas berubah menjadi merah. Semua mobil mungkin berhenti, namun seorang pengendara motor dari kejauhan malah menambah kecepatannya, ia pikir ia dapat menerobos lampu di persimpangan. Molly terkesiap saat sebuah truk menabraknya.

Darah berhambur di atas aspal, Molly lekas-lekas turun dan menghampirinya, ia pasti bisa menolongnya. Wajahnya nampak asing bagi Molly, tapi tidak saat laki-laki itu memperkenalkan dirinya sebagai Lyle dan meralat panggilan Mabel dengan nama Molly. Mengapa laki-laki itu bisa tahu namanya?

Molly bertanya-tanya, ke manakah ia selama ini? Mungkin ia hidup, tapi ia tak mengingat apa-apa. Siapa Lyle? Apakah ia mengenal laki-laki itu? Dan mengapa ia memanggilnya dengan nama Mabel?

Read More »