A Thousand Miles in Broken Slippers – Rosi L. Simamora

e85fccbdde95d3e643357a34f85e3a65
 
 
Judul                     : A Thousand Miles in Broken Slippers
Penulis                 : Rosi L. Simamora
Penerbit              : Gramedia Pustaka Utama
Terbit                    : Cetakan pertama, Januari 2016
Tebal                     : 210 halaman
Rate                       : 4.5 / 5
 
 

“Jangan biarkan sandalmu menentukan jati dirimu, Dong. Jangan pernah merasa malu ke sekolah hanya mengenakan sandal dan lungusran yang sudah pudar putihnya. Hanya ada satu cara untuk memperbaiki takdirmu—sekolah. Timbalah ilmu setinggi mungkin, Nak.”A Thousand Miles in Broken Slippers, hlm. 187

 

Ia dipanggil Dong. Dilahirkan di Bolinao, salah satu kota paling miskin di wilayah utara Filipina. Lahir di tengah keluarga yang tidak berada, membuatnya harus bekerja keras mencari nafkah. Di umur delapan tahun, bersama dengan Rabbit Boys lainnya ia mengejar bus kotor demi dapat mencucinya dengan upah sepuluh peso (yang setara dengan dua ribu rupiah).

Masa kecil Dong begitu getir. Sebagaimana anak seumurnya pergi bersekolah, ia pun pergi dengan beralaskan sandal jepit dan seragam menguning, bekas lungsuran orang lain. Ma’m Violetta gurunya sering sekali memergokinya menghabiskan waktu istirahat di dalam perpustakaan, bukan serta-merta gemar membaca, tapi karena ia tak memiliki uang untuk membeli makanan.

Hidup Dong yang sulit sesungguhnya telah berasal dari rahim ibunya. Berkali-kali Nila, sang ibu, berniat menggugurkan kandungan. Tapi, Dong malah lahir dengan selamat. Dong kecil sudah menjadi akar permasalahan semuanya. Para saudara boleh mengejeknya dengan sebutan anak haram, tapi Erning, sang ayah, malah menyayangi Dong seperti buah hatinya sendiri.

Bagi Dong, Erning adalah segalanya. Ayah yang membuatnya berani untuk bermimpi. Melalui nasihat Erning, Dong selalu berusaha menjadi yang terpandai. Tidak hanya di bidang akademis, tapi menang di berbagai kompetisi.

Mulai dari sebuah buku yang ia intip di perpusatakaan sekolah, mimpi Dong selalu sederhana. Ia ingin menjadi yang berhasil di dalam keluarganya.

 

“Jadi, itukah alasanmu memburu Paris dan Eiffel?” ada nada mengerti dalam suara Ma’am Pamintuan, “Karena kau ingin meninggalkan tempat ini, dan Eiffel adalah lambang keberhasilanmu…” A Thousand Miles in Broken Slippers, hlm. 12

 
 
Read More »