Antalogi Rasa – Ika Natassa

12290008
 
 
Judul                     : Antologi Rasa
Penulis                 : Ika Natassa
Penerbit              : Gramedia Pustaka Utama
Terbit                    : Cetakan pertama, Agustus 2011
Tebal                     : 344 halaman
Rate                       : 3 / 5
 
 

“I still have Ruly colonializing my mind, and now I have Harris’ handprints all over my body.”Antologi Rasa, hlm. 86

 

Membuat Keara tertawa lepas adalah kebahagiaan tersendiri bagi Harris Risjad. Sekalipun cewek itu punya cowok lain di hatinya. Pertemuan keempatnya dimulai dari beberapa tahun silam, bekerja dalam satu gedung; berbeda divisi. Ruly, Harris, Keara, dan Denise menjadi dekat satu sama lain.

Tapi siapa yang tahu, kalau  diam-diam di antara mereka malah ada yang saling lempar perasaan. Harris yang diam-diam ingin membahagiakan sahabatnya sendiri, lebih dari seorang sahabat. Dan Keara yang ingin keluar dari senarai cowok berengsek yang pernah menjadi kekasihnya. Ruly memang bukan tipe Keara. Tapi, Keara ingin mencari cowok baik-baik sekarang. Bukan menjadi party animal seperti sebelum-sebelumnya.

Harris tahu benar ke mana Keara akan melangkah—bukan ke arahnya, pastinya. Ia berusaha menghibur perempuan itu dalam sebuah trip ke Singapura. Namun, dalam keadaan mabuk, Keara malah tanpa sadar merayu orang yang salah.

Read More »

Critical Eleven – Ika Natassa


 
 
Judul                     : Critical Eleven
Penulis                 : Ika Natassa
Penerbit              : Gramedia Pustaka Utama
Terbit                    : Cetakan pertama, Agustus 2015
Tebal                     : 344 halaman
Rate                       : 4.5 / 5
 
 

“Jakarta itu labyrinth of discontent. Dan semua orang, termasuk aku dan kamu, setiap hari berusaha untuk keluar dari labirin itu. The funny thing is, ketika kita hampir berhasil menemukan pintu keluar labirin ini tapi malah ketemu hambatan lagi, pulling us back into the labyrinth, Kita justru senang karena nggak perlu tiba di titik nyaman. It’s the hustle and bustle of this city that we live for. Comfort zone is boring, right?” –Critical Eleven, hlm. 11

 
 

Masih teringat di benak Anya ketika pertama kali bertemu Ale di sebuah penerbangan menuju Sydney. Mereka duduk bersebelahan. Dan tanpa sadar, Anya tertidur, menumpang bahu pria asing di sebelahnya selama tiga jam. Saat bertemu dengan Ale, Anya tahu, he’s the one. Satu-satunya pria yang membuatnya nyaman mengobrol panjang lebar. Pun dengan Ale, yang terpukau dengan kecantikan dan kepandaian Anya.

Tidak perlu lama-lama pacaran, Ale melamar Anya di jok belakang mobil. Walau Anya tahu, peretemuannya dengan Ale memang tidak biasa. Hanya tipe meet-cute yang kerap terjadi di rom com. Namun, hubungan mereka sudah kepalang sempurna.

Setelah lima tahun bersama, Anya dan Ale nyatanya tidak baik-baik saja. Anya yang tadinya gemar tertawa menjadi muram dan gemar menyendiri. Di balik pilihan-pilihan yang pernah ia ambil, benaknya kembali mempertanyakan masa lalu; menduduki jok penumpang di pesawat Jakarta-Sydney.

Lantas, apakah pilihan mereka benar-benar tepat?
 
 

Read More »