86 – Okky Madasari

 
 

Judul                     : 86
Penulis                 : Okky Madasari
Penerbit              : Gramedia Pustaka Utama
Terbit                    : Cetakan kedua, April 2014
Tebal                     : 256 halaman
Rate                       : 4.5 / 5

 

“Sudah nggak usah sungkan-sungkan. Memang kita baru kenal, tapi ya sama-sama tahulah, delapan enam aja deh!”86, hlm. 94

 
 
Berangkat dari generasi keluarga petani, orangtua Arimbi bangga bukan kepalang, anak perempuannya bisa menjadi juru ketik di pengadilan negeri. Bukan menjadi buruh, tapi menjadi pegawai kantoran. Tiap pagi berjibaku menembus gang sempit, berdesak-desakan menaiki metromini, Arimbi terkadang bingung, mengapa semua orang di kampung mengelu-elukan jabatannya yang sekadar juru ketik.

Tapi, bagi semua orang, mereka menganggap tak ada yang tak bisa dilakukan oleh pegawai pengadilan. Mulai dari berprofesi sebagai juru ketik biasa, diam-diam lingkungan menghasutnya, Arimbi yang polos tak lagi punya urat malu seperti Anisa dan Bu Danti. Semua orang sudah keburu tahu, tak perlu ditutupi dan pura-pura tak ingin. Kalau ingin segalanya licin dan berjalan sesuai rencana, tinggal geser amplop dan buat skenario.

Pejabat bisa lolos dengan mudah, semuanya hanya tergantung pada uang pelicin. Arimbi yang mulanya duduk-duduk di ruang pengadilan, lama-kelamaan tahu, semuanya sudah dirangkai sesuai rencana. Tangannya tak lagi sekadar menari di atas keyboard, ia pun ingin minta bagian.

Read More »

Trash ‘Anak-Anak Pemulung’ – Andy Mulligan

 

 

Judul                     : Trash ‘Anak-Anak Pemulung’
Penulis                 : Andy Mulligan
Penerjemah       : Nina Andiana
Penerbit              : Gramedia Pustaka Utama
Terbit                    : Cetakan pertama, Juli 2012
Tebal                     : 256 halaman
Rate                       : 4 / 5

 

 

“Siapa yang tahu apa yang bakal kautemukan selagi memilah-milah sampah! Mungkin saja ini hari keberuntunganmu.” Trash ‘Anak-Anak Pemulung’, hlm. 3

 

Hari itu mungkin hari keberuntungan Raphael Fernández. Di antara tumpukan sampah, tempatnya bekerja, ia menemukan hal lain selain tinja dalam bungkusan kering. Gardo, sahabat terbaiknya, sudah mengamati dari jauh ketika ia memasukkan tas kulit itu secara diam-diam. Seulas cengiran tersungging di sudut bibir. Isi tas itu seribu seratus peso dan mereka akan mengadakan makan malam meriah malam petang itu.

Namun, siapa sangka jika sekonyong-konyong sirine nyaring malah mengepung Behala, kota sampah tempat mereka bermukim, malam itu. Para kepala keluarga dikumpulkan di lapangan. Dan Thomas, pemimpin kecil mereka mengumumkan kalau polisi tengah mencari sebuah tas kulit yang sangat penting.

Raphael bergidik ngeri; Gardo menatapnya waswas; bibi Raphael buru-buru berkata jika keponakannya menemukan sesuatu siang itu. Alih-alih mengaku, Raphel bilang ia menemukan sepatu. Namun, ia tahu, jika tas kulit yang ia temukan pasti mengarah ke petunjuk lain yang lebih besar ketimbang imbalan yang diangsurkan polisi.

Nyatanya ia membawa tas itu jauh ke gorong-gorong gelap milik Tikus—Jun-Jun—dan memintanya menyimpan benda itu untuk sementara waktu. Raphael dan Gardo menyadari, selain seribu seratus peso yang mereka gunakan untuk berpesta, ada hal lain ditanggalkan oleh José Angelico, yang diduga sebagai pemilik tas kulit itu. Di dalam dompet lusuh yang ia tinggalkan terdapat sebuah peta dan anak kunci bertuliskan 101, yang Tikus tahu ke mana mereka akan menemukan petunjuk selanjutnya.

 

“Kami tidak menyadari fakta bahwa jika polisi mengira kau memiliki sesuatu, mereka tidak akan berhenti sebelum berhasil mendapatkannya darimu.” Trash ‘Anak-Anak Pemulung’, hlm. 42

 

 Read More »