The Young Elites – Marie Lu

e88cbe9d0ce6f9471166b8d19f8de864
 
 
Judul                     : The Young Elites (The Young Elites #1)
Penulis                  : Marie Lu
Penerjemah         : Prisca Primasari
Penerbit               : Mizan Fantasi
Terbit                    : Cetakan pertama, November 2015
Tebal                     : 428 halaman
Rate                       : 4/5
 
 

“Kita semua adalah kesalahan.” The Young Elites, hlm. 317

 

Separuh wajah Adelina Amouteru rusak semenjak serangan epidemik berdarah itu. Mata kirinya kehilangan kemampuan untuk melihat; rambutnya berubah warna sewarna perak. Ayah memperlakukannya begitu berbeda dengan Violetta, sang adik. Sementara Violetta selalu dijunjung, Adelina lekas-lekas ingin dijual secepatnya.Adelina adalah seorang malfetto, dengan rupa yang menakutkan dan kekuatan magis, keberadaannya disamakan dengan jelmaan iblis. Saat ia berusaha melarikan diri dari rumah, Adelina tak sengaja membunuh sang ayah, dan tertangkap pasukan inkuisisi.

Sudah seharusnya kaum malfetto dimusnahkan dari tanah Kenettra. Adelina pun harus dijatuhi hukuman mati. Namun saat detik-detik penentuan, Sang Pencabut Nyawa yang misterius malah menyelamatkannya. Enzo dengan identitasnya di balik topeng dan tudung Pencabut Nyawa menjelaskan jabatannya sebagai pemimpin Perkumpulan Belati (Dagger Society), yaitu perkumpulan Elite Muda yang berencana memberontak dan menggulingkan pemerintahan. Tak ada pilihan lain untuk pulang, Adelina ikut bergabung dengan perkumpulan itu dan melatih kekuatan magisnya dalam menciptakan ilusi.

Pilihan sulit itu datang di suatu kala, ketika seorang bernama Teren Santoro, sang pemimpin pasukan inkuisisi, mengendus kemampuan hebatnya, laki-laki jahat itu mengancamnya dengan dua pilihan: kehilangan sang adik atau menjadi mata-mata pasukan inkuisisi dalam Perkumpulan Belati.

 
 
Read More »

[CLOSED] Birthday Giveaway

Dalam rangka ulang tahun saya di bulan November, kali ini saya ingin mengadakan giveaway perdana. Hadiahnya ada dua buku fantasi terjemahan yang baru rilis beberapa minggu lalu dan bakal saya berikan untuk satu orang yang berutung.

Buku apakah itu?

  1. Magnus Chase and the Gods of Asgard #1: The Sword of Summer karya Rick Riordan
  2. The Last Dragonslayer karya Jasper Fforde

Syarat untuk ikutan giveaway ini mudah:

  1. Follow twitter saya: @frostbitiggy
  2. Share link postingan ini di timeline Twitter dengan hashtag #HBDAzura dan mention @frostbitiggy
  3. Dan jawab dua pertanyaan ini di kolom komentar dengan menuliskan nama, email, dan akun Twitter:
     

    1. Buku apa yang kamu ingin Jane Bookienary review di Bulan Desember? Sebutkan alasannya ya.
    2. Rekomendasikan satu buah lagu yang pas didengarkan sembari membaca untuk saya.
  1. Event giveaway ini berlangsung selama lima hari: Kamis, 29 Oktober 2015-Senin, 2 November 2015. Pemenang akan diumukan pada hari Selasa, 3 November 2015.

Semoga beruntung 🙂

Half Wild – Sally Green


 
 
Judul                     : Half Wild (The Half Bad Trilogy #2)
Penulis                 : Sally Green
Penerjemah       : Reni Indardini
Penerbit              : Mizan Fantasi
Terbit                    : Cetakan pertama, April 2015
Tebal                     : 459
Rate                       : 3.75 / 5
 
 

“Kalau begitu, sambutlah Anugerahmu dengan hati lapang dan belajarlah dari hewan itu. Jangan hakimi ia. Hewan malang itu pasti kebingungan karenanya. Kau menginginkannya karena sama dengan Anugerah ayahmu, tapi kau tidak menginginkannya karena alasan yang sama pula.” –Half Wild, hlm. 151

 
 
Nathan masih perlu berkelit dengan Anugerahnya. Setelah menerimanya dari sang Ayah, ia malah kehilangan kendali atas dirinya sendiri. Sementara Mercury merasa kecewa dengan keputusan Nathan. Perempuan tua itu sengaja menahan Annalise dan menidurkannya selama berbulan-bulan. Mercury menghilang. Dan Nathan tahu, ia harus mempertaruhan nyawanya untuk menemukan perempuan yang ia cintai.

Di satu sisi ia perlu bantuan, tapi Gabriel agaknya sudah meninggal. Tidak ada tanda-tanda kehidupan darinya. Nathan berulang kali bertandang ke Pondok Mercury, alih-alih, menemukan Nesbitt di dalam gua. Nesbitt bilang, ia suruhan Victoria van Dal, partner-nya yang kini tengah merawat Gabriel.

Nathan harus terus berlari dari kejaran para Pemburu. Pun para Penyihir Hitam yang selalu menganggapnya sebagai ancam dari putra Marcus. Namun, satu tujuan Nathan, ia perlu mempersatukan keduanya untuk melawan Dewan.
 
 
Read More »

Half Bad – Sally Green

 
 
Judul                     : Half Bad (The Half Bad Trilogy #1)
Penulis                 : Sally Green
Penerjemah       : Reni Indardini
Penerbit              : Mizan Fantasi
Terbit                    : Cetakan pertama, Maret 2015
Tebal                     : 444
Rate                       : 4 / 5
 
 

“Kau tidak jahat, Nathan. Kau sama sekali tidak membawa-bawa sifat jahat. Kau akan memiliki Anugerah nan perkasa—kita semua bisa melihatnya—tapi yang akan menunjukkan dirimu baik atau jahat adalah caramu menggunakan Anugerah itu.” Half Bad, hlm. 124

 

Nathan Byrn lahir sebagai Bastar. Ibunya seorang Penyihir Putih dengan Anugerah penyembuh; Ayahnya, Marcus adalah buron, seorang Penyihir Hitam yang terkenal membunuh banyak jiwa-jiwa tak bersalah. Sedari kecil, Nathan dibesarkan oleh neneknya. Jessica, saudara perempuannya yang tertua, kerap mengejek dan mengucilkannya sama seperti teman-teman di sekolah. Sementara, Deborah dan Arran menyayanginya.

Nathan Byrn terpaksa hidup di dalam kurungan sedari umur empat belas tahun. Setelah Dewan tak lagi percaya kepadanya, ia dilatih secara khusus oleh Celia, wanita yang pernah bertemu dengan Marcus. Celia memperlakukannya dengan buruk. Menanyainya dengan pertanyaan-pertanyaan bodoh, mengurungnya di kala gusar, merantai lehernya layaknya anjing.

Dewan Penyihir Putih berharap di separuh jiwa Nathan, ia sungguh-sungguh berpihak kepada Penyihir Putih. Namun, seiring bertambah umur, Nathan sadar kalau fisiknya benar-benar mirip Marcus. Ia perlu melarikan diri. Mengumpulkan kepingan teka-teki yang dirangkaikan seseorang bernama Marry padanya; ia perlu mencari Mercury. Mercury akan memberinya tiga Anugerah seperti penyihir-penyihir muda lain ketika mereka berumur tujuh belas tahun.

Sayang, reputasi Mercury teramat sadis di telinga penyihir lain. Nathan harus mengambil risiko. Mercury bisa saja membunuhnya; bisa membantunya tapi dengan sebuah imbalan—yang pasti hal itu tidaklah mudah.

 
 
Read More »

Requiem (Delirium #3) – Lauren Oliver

 
 

Judul                     : Reqiuem (Delirium #3)
Penulis                  : Lauren Oliver
Penerjemah         : Prisca Primasari
Penerbit               : Mizan Fantasi
Terbit                    : Cetakan pertama, Desember 2014
Tebal                     : 488 halaman
Rate                       : 3.5/5

 

“Dia memang bukan milikku lagi—aku pun tidak berhak untuk merasa kehilangannya. Tetapi aku tetap berduka, merasa sulit memercayai kepergiannya.”Requiem, hlm. 301

 
 
Mereka kembali dari New York City, setelah Lena berhasil menyelamatkan Julian dari hukuman mati. Bergerak dengan para Invalid lain. Lena pun menemukan Alex—cinta pertamanya—yang ia kira mati, ditangkap oleh para Regulator kala pengepungan di 37 Brooks.  Alex memang berhasil melarikan diri dari Kriptus, tapi Lena tak lagi mengenal dirinya yang baru. Alih-alih mengacuhkan keberadaannya, Alex malah lebih tertarik dengan Coral, anggota baru yang tak sengaja mereka temukan di tengah Alam Liar.

Di balik Tembok, Hana hidup nyaman setelah dipasangkan dengan Fred Hangrove.  Ia telah disembuhkan. Tinggal hitungan hari sampai ia resmi menjadi istri sang gubernur muda. Namun, kala malam menjelang, Hana selalu dihantui perasaan bersalah. Kejadian 37 Brooks silam; wajah Lena yang dirundung sengsara; Alex yang dikabarkan mati. Ia tak bisa tinggal diam.

Lena masih mempertanyakan suara hatinya, menanti tatapan Alex yang dulu bersirobok dengan rona matanya; kehangatan Julian yang selalu menyelimutinya tiap malam. Siapakah yang harus ia pilih? Julian? Atau jangan-jangan ia masih mencintai Alex? Namun, di balik semua pertanyaan itu, ia harus terus bergerak. Alam Liar tak lagi aman. Fred Hangrove punya rencana jahat. Ia ingin semua Alam Liar dihancurkan. Para Invalid harus balik melawan alih-alih menunggu untuk diburu.

Read More »

Under The Never Sky – Veronica Rossi

  

Judul                     : Under the Never Sky (Under the Never Sky #1)
Penulis                  : Veronica Rossi
Penerjemah         : Dina Begum
Penerbit               : Mizan Fantasi
Terbit                    : Cetakan pertama, September 2014
Tebal                     : 492 halaman
Rate                       : 3.5/5

 
 

 “Sebuah dunia yang benuh dengan tidak pernah di bawah langit yang tak pernah ada” —Under The Never Sky, hlm. 168

 

Aria tak pernah menyangka kalau ia akan berada sangat dekat dengan Gerai Maut, dunia di balik dinding Pod, di mana badai Aether berdengung kencang menaungi mereka. Dunia sudah terlanjur kacau balau saat Aria dilahirkan, manusia terbagi atas dua kubu; kubu yang mendekam di balik naungan kubah Pod—disebut sebagai Tikus Mondok—dan Orang Luar, suku-suku liar yang primitif dan kanibal.

Setelah insiden kebakaran yang menimpa Ag 6, Aria mendapati Smarteye-nya raib. Ia ingat kalau malam itu Soren dan kedua antek-anteknya mengajaknya memasuki tertorial terlarang di Ag 6. Perilaku mereka sungguh pelik. Soren ingin menujukkan kalau mereka bisa bebas tanpa status Penghuni Pod. Membuktikan bahwa api adalah sesuatu benda yang luar biasa. Tapi, Aria tahu, tindakan itu telah melanggar kebijakan yang berlakukan oleh Direktur Keamanan. Aria berniat merekam, namun sekonyong-konyong surel dengan subyek “Burung Ketilang” dari Lumina, ibunya, muncul di layar Smarteye. Sesuatu yang tidak beres sudah terjadi. Aria tidak dapat mengecek surel itu lebih lanjut, seseorang kepalang membuatnya tak sadarkan diri.

Direktur Keamanan Reverie menuduh Aria sebagai penyebab kebakaran di Ag 6 dan membuangnya ke Gerai Maut. Aria pikir, ia akan segera mati. Hidup di antara desir pepohonan dan kegelapan di tengah malam. Semuanya terasa menjijikkan. Namun, takdir berkata lain dan mempertemukannya dengan seorang pemuda dari Suku Tide bernama Perry. Seseorang yang angkuh, tak banyak bicara, tetapi ia perlu bantuan Aria, pemilik Smarteye yang diambilnya tempo hari.

Read More »

Tempest – Julie Cross


 
 
 

Judul                     : Tempest (Tempest #1)
Penulis                  : Julie Cross
Penerjemah         : Angelic Zaizai
Penerbit               : Mizan Fantasi
Terbit                    : Cetakan pertama, Oktober 2014
Tebal                     : 477 halaman
Rate                       : 4.5 /5

 
 

“Oke, itu benar. Aku bisa berkelana melintasi waktu. Tapi tunggu dulu, ini tidak semenarik yang mungkin kau bayangkan. Aku tak bisa kembali ke masa lalu dan membunuh Hitler. Aku tak bisa pergi ke masa depan dan melihat siapa yang memenangkan Kejuaran Bisbol World Series di tahun 2038. Sampai saat ini, paling hebat aku melompat sejauh sekitar enam jam di masa lalu. Superhero macam apa itu, iya, kan?” —Tempest, hlm. 8

 

 

Di tahun 2009, Jackson Meyer, remaja 19 tahun itu tahun akan kemampuannya setahun lalu, kala dirinya tak sengaja tertidur di kelas dan melompat menuju masa lalu. Tapi, selama ini, lompatan yang diujicobakan tak lebih dari enam jam, berikut dengan eksperimen-eksperimen amatir yang dipraktikkan Adam, si Sahabat Jenius. Jackson menimpan jurnal eksperimen itu dengan seperti silabus praktikum. Tak lebih. Itu semua hanya sekadar lompatan waktu anak bawang. Bermain-main, melihat sekitar, lantas kembali lagi ke home base.

Tapi, ada yang tak beres dengan malam itu. Ketika ia mengubah rencananya secara sepihak dengan Adam, dan mengunjungi tempat tinggal Holly. Orang-orang asing mulai merangsek masuk. Jackson pikir, itu pasti mata-mata ayahnya. Kevin Meyer, sang CEO, yang selalu menyimpan rahasia. Tapi, betapa kagetnya Jackson saat tahu, bahwa orang-orang itu tahu, ia bisa melompat sewaktu-waktu. Jackson begitu mengkhawatirkan Holly. Apa yang harus ia lakukan?

 

“Bunyi letusan berdentam di telingaku, diikuti oleh jeritan Holly. Kemudian semuanya seolah berhenti—jantungku, napasku … waktu.” —Tempest, hlm. 36

 

Jackson terlempar ke masa lalu. Ia terjebak di tahun 2007. Sudah puluhan lompatan yang ia lakukan hari itu, tapi ia tak bisa kembali ke 2009. Jackson mengkhawatirkan keadaan Holly; sekaligus berusaha mencari tahu, apa yang coba ditutupi oleh Kevin Meyer dengan para agen rahasia direkrutnya. Apakah orang-orang asing tersebut mempunyai keterkaitan dengan salah satu divisi di CIA?

Read More »