Semusim, dan Semusim Lagi – Andina Dwifatma

17786176
 
 
Judul                     : Semusim, dan Semusim Lagi
Penulis                 : Andina Dwifatma
Penerbit              : Gramedia Pustaka Utama
Terbit                    : Cetakan pertama, April 2013
Tebal                     : 232 halaman
Rate                       : 4.5 / 5
 
 

“Jawabannya tertiup di angin. Itu bisa bermakna bahwa jawaban yang kaucari telah begitu jelas, seolah-olah ada di depan wajahmu sedari tadi, hanya kau tak menyadarinya. Kebanyakan manusia seperti itu. Karena sibuk emncari di luar, ia tidak menyadari apa yang dicarinya sudah ada dalam diri sendiri.”Semusim, dan Semusim Lagi, hlm. 102

 

Sehari setelah lulus SMA, aku menerima dua lembar surat. Yang satu adalah surat dari universitas swasta tempatku mendaftar sebagai mahasiswa jurusan Sejarah. Yang satu lagi adalah surat beramplop cokelat, dengan label namaku di bagian depan, namun tanpa nama pengirim di bagian atas.

Sayangnya, hari itu bukan hari yang tepat untuk bermain tebak-tebakan. Isinya membuatku mengerjapkan mata. Dari deretan kata yang tertulis di dalamnya. Tiba-tiba saja ada seorang laki-laki yang mengaku sebagai ayahku. Dan dari mana aku tahu itu benar?

Laki-laki itu tinggal di kota S. Di dalam amplopnya ia juga menyertakan kartu nama seorang teman, yang mana aku bisa menghubunginya jika ingin bertemu dengan ayah.

Semenjak kedatangan surat itu, aku selalu penasaran dengan sosok ayah. Aku bertanya ke ibu, tapi ibu malah marah dan menjerit kesetanan. Ia ingin aku enyah. Raib dari kehidupannya, setelah pertanyaanku mengenai kota S, kota tempat tinggal ayah.

Aku dijemput J. J. Henri, bawahan ayah, seperti yang tertera di kartu namanya. Ia membawaku ke sebuah rumah, yang katanya dibeli ayah beberapa tahun lalu. Lantas, mempertemukanku dengan Muara, putranya yang mengambil kuliah arsitektur di luar kota.

Muara punya wajah yang mulus. Dan aku menyukainya. Beberapa kali kepala kami bersentuhan saat sedang berbaring, beberapa kali aku merasa sangat ingin menciumnya. Kala itu, ketika Muara menciumku dengan tidak sengaja. Lantas, hal-hal tidak sengaja lainnya pun terjadi padaku, termasuk ketika tak sengaja menemukan Sobron, si ikan mas koki perliharaan Oma Jaya, duduk di meja makanku.

 
 
Read More »