Falling into Place – Amy Zhang

 
 
Judul                     : Falling into Place
Penulis                 : Amy Zhang
Penerbit              : Greenwillow Books
Terbit                    : Cetakan pertama, Septermber 2014
Tebal                     : 296 halaman
Rate                       : 3.5 / 5
 
 

“Gravity is our playmate, momentum is our friend. We are blurs of motion. We are racing, and we are both winning, because we do not race each other.” Falling into Place, hlm. 168

Satu hari setelah mempelajari sederet rumusan hukum Newton, Liz mencoba mempraktikkan hal itu pada mobilnya. Mobil Mercedes Benz miliknya dipacu kencang-kencang, berlari ke luar batas jalan.

Di balik dandanan dan gaya sosialitanya yang terkenal di seantero kelas, para teman mungkin mengira Liz tidak akan mengambil keputusan naas tersebut. Tapi, nyatanya, Liz bukan gadis seceria itu, di balik kesedihan, kesendiriannya, dan kebungkamannya, tidak ada lagi yang dapat ia katakan. Kepada Monica, ibunya, yang tak hentinya bekerja seperti kaum nomaden. Telepon Liz hanya dianggapnya sebagai angin lalu.

Liz telah mengambil keputusan seutuhnya. Ia menentukan tanggal, teknik yang tepat, dan mengira seorang pun takkan pernah tahu rencananya, alih-alih, Liam Oliver sangat mengenal Mercedes milik Liz, gadis yang telah dicintainya diam-diam sedari dulu.

Read More »

Extraordinary Means – Robyn Schneider

  

Judul                     : Extraordinary Means
Penulis                 : Robyn Schneider
Penerbit              : Katherine Tegen Books
Terbit                    : Cetakan pertama, Mei 2015
Tebal                     : 324 halaman
Rate                       : 4 / 5

  

“Art is pain. And so is life.” Extraordinary Means, hlm. 23

 
 
Lane sudah memetakan hidupnya yang nyaris sempurna. Menghabiskan waktu dengan Hannah; mengikuti ujian saringan masuk untuk Universitas Stanford. Tapi, tidak dengan rencana B yang datang tiba-tiba. Diagnosis dokter mengatakan Lane terkena penyakit tuberkolosis kronis, yang membuatnya harus dikarantina selama beberapa bulan.

Hidupnya hancur. Latham House merupakan mimpi buruknya. Terlebih Dr. Barons melarangnya untuk belajar, alih-alih, ia berkeras harus mencetak skor terbaik untuk ujian saringan masuk Standford.

Di hari pertamanya menginjakkan kaki ke sanitorium itu, Lane bertemu dengan seorang gadis eksentrik dan luar biasa percaya diri, bernama Sadie.

Bukan seseorang yang ia harapkan bertemu untuk kedua kali. Ia ingat Sadie ketika tiga belas tahun dulu; Sadie dan Lane mendatangi kemah musim panas sama seperti anak-anak seumur mereka lainnya.

Tapi, apa yang membuat Sadie enggan berbicara dan menghindari Lane di Latham House? Sementara Lane begitu penasaran dengan sosok Sadie yang dulu hanya dipandanginya dari jauh.

  

Read More »

Paper Towns ‘Kota Kertas’ – John Green

 

Judul                     : Paper Towns ‘Kota Kertas’
Penulis                 : John Green
Penerjemah       : Angelic Zaizai
Penerbit              : Gramedia Pustaka Utama
Terbit                    : Cetakan pertama, 2014
Tebal                     : 360 halaman
Rate                       : 5 /5

 

 

“Yang indah dari semua ini adalah: dari sini kau tidak bisa melihat karat atau cat yang retak-retak atau apalah, tapi kau tahu tempat apa itu sebenarnya. Kau mengetahui betapa palsunya semua itu. Tempat itu bahkan tak cukup keras untuk terbuat dari plastik. Itu kota kertas.”Paper Towns ‘Kota Kertas’, hlm. 69

 

Berawal dari seorang Quentin “Q” Jacobsen yang tinggal di lingkungan Jefferson Park, yang tak pernah berangan untuk melakukan suatu “kegilaan”, hidupnya biasa-biasa saja, berjalan dari satu rutinitas ke rutinitas lainnya. Tapi Q punya momen gila tersendiri, yaitu kala ia bertemu dengan Margo Roth Spiegelman, yang tinggal di sebelah rumahnya. Q dan Margo telah berteman sejak umur dua tahun, mereka bermain bersama, mengayuh sepeda di sekitaran Jefferson Park. Tapi itu sudah lama sekali, Q dan Margo kini  dua orang yang sangat berbeda. Dunia SMA membuat mereka hanya sekadar mengenal, tapi Q, ia masih memperhatikan Margo Roth Spiegelman dari jauh, memandangnya dari jendela kamar dan menaruh perasaan berdebar-debarnya.

Bagi Q, Margo adalah sebuah kejutan dan tepat di suatu malam, Margo merangsek jendela kamarnya dengan wajah dipoles hitam dan hoodie hitam

 

“Aku butuh mobilmu,” ia menjelaskan.

“Kau kan punya mobil sendiri,” aku mengingatkan.

….

“Apa masalahnya?”

“Ada sebelas masalah,” jawabnya agak tidak sabar.

 

—Paper Towns ‘Kota Kertas’, hlm. 34-35

 

Margo memaksa Q untuk melakukan senarai pentingnya malam itu, sebelas masalah super penting yang harus diselesaikannya sebelum matahari terbit. Mereka keliling kota Orlando, mengerjai Jason Worthington (bekas pacar Margo yang tidur dengan Becca), merontokkan alis kanan Chuck Parson dengan ramuan Veet, membobol masuk ke dalam Sea World, dan hal-hal sinting lainnya.

Pulang dari malam yang panjang, Q merasa super berani dan secara tidak sengaja menghentikan tindak bully-ing di koridor sekolah, namun ada satu hal yang pelik, Q tidak pernah bertemu Margo semenjak membisikinya di pagi sebelum mereka berpisah. Orangtua Margo mungkin frustasi, mereka pikir, itu hal biasa, Margo sudah ketiga kalinya hilang, tetapi Margo selalu meninggalkan jejak, tidak pada saat terakhirnya ia menghilang. Tidak ada kata, tidak juga pesan, tapi Q yakin, Margo ingin ditemukan. Margo ingin ditemukan oleh dirinya, bukan oleh orang lain.

Melalui serangkaian aksi detektif amatir, Q percaya bahwa kata “kota kertas” yang diucapkan Margo adalah sebuah kunci tempat ia akan menemukan gadis itu.

Read More »

Just One Day – Gayle Forman

just one day satu hari saja

Judul                     : Just One Day

Penulis                 : Gayle Forman

Penerjemah       : Poppy D. Chusfani

Penerbit              : Gramedia Pustaka Utama

Terbit                    :  2014

Tebal                     : 400 halaman

Rate                       : 5 / 5

“Sesuatu yang takkan pernah hilang, tidak peduli seberapa besar kau menginginkannya.”

“Kau membandingkan cinta dengan… noda?”

“Persis.”  – Hal 76

Allyson Healey. Hidupnya yang ia kira sudah benar sebagai anak baik-baik bisa jungkir balik akibat tertemuan tak terduga dengan seorang pria Belanda bernama Willem. Berawal dari salah satu drama Shakespeare yang dibawakan secara kontemporer oleh kelompok Drama yang masukan anggota tambahan yaitu Willem, Allyson perlahan-lahan terpesona oleh mata legam pria itu.

Mulanya, hari pementasan drama itu menjadi hari terakhir yang mungkin saja mempertemukan Allyson dan Willem, namun takdir yang disebut-sebut sebagai sebuah ‘kecelakaan’ menghantarkan Allyson yang baru saja menuntaskan Tour Eropa-nya untuk bertemu kembali dengan Willem di kereta yang akan membawa mereka ke London.

Obrolan terjadi, dan secara mengejutkan Allyson mendapati dirinya menjadi orang yang berbeda tatkala ia bersama dengan Willem, lantas berlahan-lahan berubah menjadi sosok Lulu—sebutan Willem untuk Allyson karena penampilannya saat itu mirip dengan seorang aktris film bisu berambut bob—yang 180 drajat berbeda dengan Allyson biasanya.

Sesampainya di London, Allyson kira mereka akan berpisah, namun tatkala sahabatnya Melanie mengungkit-ungkit tentang gagalnya Tour mereka melewati Paris dan betapa kecewanya Allyson akan hal itu. Willem secara mengejutkan mencetuskan ide untuk ‘menculik’ Allyson dan membawanya ke salah satu tempat terindah di daratan Eropa itu.

‘Hanya satu hari’ dalih Willem, dan kata-kata itu pun menjadi mantra magis yang membuat Allyson langsung mengangguk setuju untuk diculik dan pergi berkereta menuju Paris.

Dan ketika kedua kaki Allyson menginjakan kaki di Paris, drama pun di mulai. Mereka mengarungi sungai yang membelah Paris dengan menyewa kapal seharga 100 dollar; mereka bersepeda menuju museum dan nyaris ditangkap polisi karena melanggar aturan; mereka pergi ke daerah antah berantah dan dikejar-kejar preman; mereka berdua pun berkelahi karena kecerobohan Allyson dan Willem yang kepalang khawatiir; lantas setelah gagal memulangkan Allyson, Willem pun menyeret gadis itu untuk melompati tembok sebuah workshop seniman jalanan untuk menghabiskan malam bersama.

Ya. Malam itu Willem dan Allyson benar-benar menghabiskan malam bersama, menjadi dua insan yang paling dekat dalam sebuah persekutuan jiwa dan raga.

Malam itu, Allyson berbisik pada Willem kalau ia bisa memperpanjang drama penculikan ini, namun Willem terlalu mengantuk untuk menjawab dan tertidur. Allyson pun hanya tersenyum, dan akhirnya memutuskan untuk tidur di samping pria itu tanpa mengetahui saat nanti ia membuka mata ia tak akan bisa menemukan sosok Willem di mana pun.

Pagi menjelang dengan menghilangnya Willem, Allyson yang panik berada di tanah antah berantah sendirian langsung berlari keluar dari gedung itu dan mencari-cari cara pulang. Ia tidak pernah menyangka drama penculikan ini benar-benar hanya satu hari saja, namun satu hari itu sudah cukup membuat harinya merasakan dua perasaan paling luar biasa secara nyaris bersamaan: jatuh cinta dan patah hati.

Hati Allyson meradang, ia tak habis pikir kenapa Willem yang ia kenali begitu luar biasa itu rela mencampakannya begitu saja. Patah hatinya terus berlanjut sampai ia akhirnya berhasil pulang ke negaranya Amerika dan melanjutkan kehidupan perkuliahannya. Hilangnya Willem terus membayang, kenangan selama satu hari itu menghantui Allyson hingga mengacaukan seluruh ritme hidupnya yang telah tertata rapi di jadwal kedua orangtuanya.

Hanya satu hari, dan Allyson menyadari bahwa dirinya selama ini bukanlah dirinya sesungguhnya. Ia pun mulai mengalami sindrom remaja yang terlambat dan menentang kedua orangtua-nya yang mengharapkan dirinya menjadi seorang Dokter. Dalam satu hari Willem berhasil membangkitkan sosok Lulu yang menjadi diri Allyson sesungguhnya. Sosok Lulu yang tidak menyukai pelajaran kimia atau mata kuliah pra-kedokteran apa pun; sosok Lulu yang sangat ingin belajar  bahasa Prancis ketimbang Mandarin; sosok Lulu yang ingin memasuki kelas tembikar; sosok Lulu yang secara ajaib memasuki kelas Drama yang membahas keseluruhan drama Shakespeare. Ya, sosok Allyson dalam Lulu yang benar-benar baru.

Setelah naik-turun kehidupannya, pelan-pelan akhirnya belajar berteman, menemukan dirinya menjadi sosok yang baru. Allyson pun menyadari satu hal:

‘Apa Willem benar-benar meninggalkannya hari itu?’

Selama ini Allyson mengambil kesimpulan sepihak akan menghilangnya Willem, bahwa pria itu tidak menginginkannya dan meninggalkannya dalam patah hati yang berkepanjangan. Ia tidak pernah tahu alasan sesungguhnya pria itu menghilang dan satu-satunya cara agar bisa  mengetahui hal itu adalah menemukan Willem kembali dan bertanya.

Ya, menemukan Willem.

Tak terasa satu tahun berlalu sejak satu hari di musim panas itu, Allyson pun bersikeras untuk melakukan pencari akan sosok Willem dan menemukan jawaban dari pertanyaan itu. Allyson kembali ke Paris, kota penuh kenangan, mengambil kembali kopernya yang tertinggal setahun yang lalu dan memulai pencarian bersama kelompok pelancong yang kebetulan bertemu dengannya di depan penginapan remaja.

Nah, apakah Allyson menemukan Willem dan mendapatkan jawaban dari pertanyaannya? Apakah fakta-fakta, petunjuk-petunjuk, serta suratan takdir yang menjelma menjadi kecelakaan-kecelakaan tak terduga itu menghantarkan Allyson bertemu dengan Willem? Mengaruhi negara ke negara lain, menemukan keindahan dan cinta yang menggebu-gebu, serta keindahan Shakespeare yang tertuang dalam setiap drama-dramanya. Mari beli buku ini segera!

Review:

Read More »

Aristotle and Dante Discover the Secrets of the Universe – Benjamin Alire Sáenz

Judul                     : Aristotle and Dante Discover the Secrets of the Universe
Penulis                  : Benjamin Alire Sáenz
Penerbit                 : Simon & Schuster Books for Young Readers
Terbit                     : Cetakan pertama, 21 Februari 2012
Tebal                      : 359 halaman
Rate                        : 5 /5

 

“Another secret of the universe: Sometimes pain was like a storm that came out of nowhere. The clearest summer could end in a downpour. Could end in lightning and thunder.” 
― Benjamin Alire Sáenz, Aristotle and Dante Discover the Secrets of the Universe

 

Aristotle—atau bisa dipanggil Ari—adalah seorang remaja laki-laki yang pendiam dan tidak memiliki teman. Ari marah terhadap Dad, mungkin hanya masalah sepele, tetapi Ari tetap saja marah karena ayahnya menutupi masalah kakak laki-lakinya yang ini mendekam di sel penjara. Ari merasa Dad selalu membual tentang segalanya, membahas tentang hal-hal yang baik saja lantaran selama ini ia menolak untuk membicarakan perang Vietnam yang dulu pernah dilaluinya.

Dante—yang terkadang tertawa pada namanya sendiri—adalah seorang remaja laki-laki seumuran Ari. Dante selalu punya cara tersendiri dalam memandang dunia ini, bagaimana ia berpikir pelik, juga dengan cara-cara uniknya dalam menyukai segala sesuatu. Dante dan ayahnya, Sam, selalu dekat. Mereka saling menimpali omongan, begitu pun saling bertukar cium di pipi.

Ari dan Dante bertemu di suatu siang, di kolam renang, pada liburan musim panas. Semenjak pertemuan itu, keduanya kerap menghabiskan hari bersama dan menjalin pertemanan yang tidak biasa. Bercerita tentang satu hal ke hal berikutnya, dan begitulah keduanya menemukan rahasia-rahasia pada kehidupan di sekeliling mereka.

 Read More »

Every Day – David Levithan

 

Judul                     : Every Day (Every Day #1)
Penulis                  : David Levithan
Penerbit               : Knopf Books for Young Readers
Terbit                    : Cetakan pertama, 2012
Tebal                      : 322 halaman
Rate                        : 4.5 /5

 

“I am made for running. Because when you run, you could be anyone. You hone yourself into a body, nothing more or less than a body. You respond as a body, to the body. If you are racing to win, you have no thoughts but the body’s thoughts, no goals but the body’s goals. You obliterate yourself in the name of speed. You negate yourself in order to make it past the finish line.  David Levithan, Every Day

 

Ia menyebut dirinya sebagai A. A tanpa embel-embel, begitu pun tanpa wujud yang nyata. Setiap hari A berkelana, meminjam kehidupan serta tubuh seseorang untuk hidup dalam durasi dua puluh empat jam. Dan begitulah keseharian A; bangun dalam tubuh seorang asing dan mencoba hidup di dalam dunianya. Semuanya berjalan normal. A mencoba untuk tidak terlibat dalam persoalan dan perasaan individu yang ditempatinya hingga suatu kala ia terbangun dalam tubuh seorang Justin. Lantas, jatuh cinta pada pacarnya yang bernama Rhiannon. A ragu, pun Rhiannon. Terlebih saat ia tahu status A yang selalu berpindah-pindah. Mulai dari kota satu dan kota berikutnya, keduanya berusaha untuk bertemu. Menjadi dekat mungkin hal yang selalu diinginkan A, tapi bagaimana dengan Rhiannon? Rhiannon memiliki kehidupan dan ia berusaha untuk memahami A, tetapi apakah selamanya ia akan seperti itu? Mencintai seseorang dengan wajah yang tak pernah sama.

Read More »

Looking for Alaska ‘Mencari Alaska’ – John Green

 

Judul                     : Looking For Alaska ‘Mencari Alaska’
Penulis                 : John Green
Penerjemah       : Barokah Ruziati & Sekar Wulandari
Penerbit              : Gramedia Pustaka Utama
Terbit                    :  Cetakan pertama, 2014
Tebal                     : 286 halaman
Rate                       : 5 /5

 

 

“Sebelum datang ke sini, untuk waktu yang lama saya berpikir bahwa cara keluar dari labirin adalah dengan berpura-pura labirin itu tidak ada, membangun dunia kecil yang mandiri di sudut belakang jaringan simpang-siur itu dan berpura-pura bahwa saya tidak tersesat melainkan berada di rumah. Tapi itu hanya membawa saya pada kehidupan yang sepi, hanya ditemani kata-kata terakhir orang-orang yang sudah mati, jadi saya datang ke sini untuk mencari Kemungkinan Besar, mencari teman-teman sungguhan dan kehidupan yang lebih berarti.”

–Looking For Alaska, hlm. 275

 

Pemuda ceking itu bernama Miles Halter, dengan tinggi menjulang setinggi 182 sentimeter, Pada mulanya Miles bercerita tentang satu minggu preparasi Mom mengenai kepindahannya ke Culver Creek, sekolah asrama tempat Dad dulu menjalani SMA di Alabama. Semua orang boleh menuduhnya seperti itu, tetapi tujuan utamanya masuk ke Culver Creek lantaran ingin mencari apa yang disebut penyair Francois Rabelais sebagai “Kemungkinan Besar”.

Miles Halter adalah tipikal remaja pada umumnya, tanpa kenakalan, dengan perangai yang sedikit tertutup. Memang Dad telah memperingatinya mengenai larangan merokok dan minum minuman keras, tapi kepindahan Miles di kamar barunya, mengantarnya pada pertemuan dengan seorang Chip Martin, yang serta-merta memanggilnya dengan julukan “Pudge—lemak tubuh”. Chip adalah seorang Kolonel dari sebuah grup. Dan di grup itulah Pudge bertemu dengan Alaska Young, yang menawan, seksi, pintar, lucu, sangat memikat, sangat kacau, sangat menikmati rokok, minuman keras, dan seks.

Bertemu dengan Alaska seolah membuat kehidupan seorang Pudge jungkir balik. Semuanya tak lagi sama. Tidak dengan sebuah paradigma mencetak skor terbaik pada ujian-ujian sekolah dan tidak memikirkan mengenai aturan-aturan yang tidak boleh dilanggar di Culver Creek. Alaska berhasil menarik Pudge masuk ke dalam dunianya yang semrawut, bebas, liar, dan penuh euforia. Hingga suatu ketika, sebuah insiden besar dan tiba-tiba membuat mereka menjadi bertanya-tanya, sesungguhnya seberapa jauhkah mereka telah mengenal satu sama lain? Mungkin Alaska Young tidak seceriwis itu. Mungkin juga tidak seceria yang terlihat. Lantas, mengapa ia memilih jalan yang pelik untuk menuntaskan hal yang seharusnya belum tuntas?

Read More »

Delapan Sisi – Adityarakhman, dkk.

 

Judul       : Delapan Sisi
Penulis    : Adityarakhman, dkk.
Penerbit : Plotpoint Publishing
Terbit      : Cetakan pertama, Juni 2013
Tebal        : 143 halaman
Rate          : 4 / 5

 

Kedelapan kisah singkat ini diawali oleh sebuah nama, tentang seorang gadis muda bernama Rini yang mulanya berwujud anak kecil cerdas yang bertanya mengenai status sosial keluarganya. Sedari kecil Rini sudah ditempa oleh sang ibu agar terus berjuang agar kelak meraih mimpinya menjadi seorang ahli hukum. Rini kecil bertumbuh besar, namun kedekatannya dengan Rendy serta-merta membuat perutnya buncit. Rini tak ingin janin itu menjadi aral bagi mimpinya, ia memutuskan untuk aborsi.

Duduk berdua di atas becak milik Mujis. Rini dan Yani, ibunya, diantar ke dalam sebuah gang milik Dr. Urip, seorang spesialis yang sudah mumpuni menangani kasus serupa. Dan di sanalah kisah-kisah lainnya bergulir, memutar balik sebuah ekistensi nama samaran Urip.

Lahir tanpa diingini oleh sang ibu. Surti dengan terpaksa membuang bayi laki-laki yang dihasilkannya akibat bekerja dalam bidang prostitusi demi menghidupi anak perempuan satu-satunya yang tersisa setelah menjadi pelarian politik.

Pagi itu ia duduk di sebuah kamar mandi umum dan membuang bayi yang dilahirkannya seorang diri di samping bilik terakhir. Lastri menemukan bayi merah itu dan menamainya Sugeng Wicaksono; kelak menjadi seorang yang bijaksana. Lastri membesarkan Sugeng seperti anaknya sendiri namun keadaan berkata lain, semua orang menyukai Sugeng, bocah yang kenes, pintar dan gemar memainkan headset bekas sebagai stetoskop miliknya. Hati Lastri renyuk tiap kali calon orangtua asuh ingin memiliki hak asuh atas Sugeng. Tapi, di antara puluhan anak asuh di pantinya, Lastri harus rela untuk menyerahkan satu demi menghidupi yang lainnya.

Sugeng yang hidup dengan Nyonya dan Tuan Wicaksono, memiliki bakat luar biasa menjadi seorang dokter, bahkan di masa kuliahnya pun ia kerap menerima pujian dari sang dosen. Sayang, keadaan berkata lain, kedua orangtua asuhnya bangkrut, Sugeng memilih jalan yang salah. Ia memegang prinsip: setiap orang punya bebas menetukan pilihan hidupnya, lantas membuka praktik aborsi ilegal di sebuah gang.

Polisi berhasil merangsek ke tempat praktik Sugeng alias Urip. Dan berita itu begitu cepat mengepul terlansir di televisi menuai rasa kecewa dari sang dosen, Tris yang dulu begitu membanggakan Sugeng di depan sang almarhum istri.

Read More »

Swiss: Little Snow in Zurich – Alvi Syahrin

swiss

Judul                     : Swiss: Little Snow in Zurich

Penulis                 : Alvi Syahrin

Penerbit              : Bukune

Terbit                    : 2013

Tebal                     :297 halaman

Rate                       : 2/5

“Yang sebenarnya aku pikirkan selama ini hanya kamu. Yang aku sayang selama ini hanya kamu. Dan, kalaupun aku menyukai salah seorang perempuan di sana, aku tidak akan memilih mereka. Aku sudah memilihmu.”Rakel to Yasmine, Swiss: Little Snow in Zurich, hal. 279

Saat membeli buku, aku bertaruh dengan feeling-ku. Kadang buku-buku yang kutaruhkan dengan menginvestasikan uangku untuk membelinya kumenangkan dengan kualitas cerita yang sangat keren dan dasyat. Maka, selayaknya aku membeli serial #STPC dari kota Melbourne, Paris, Roma, dan Barcelona yang lain, aku pun mempertaruhkan uangku dengan buku ini. Tapi sayangnya, untuk kali ini aku cukup merugi.

Pertama-tama, mari kuceritakan garis besar dari plot buku yang kubaca dengan sekuat tenaga ini. Buku ini menceritakan tentang dua orang anak manusia yang dipertemukan oleh nasip di sebuah dermaga kota Zurich. Mereka pengunjung reguler di tempat itu, tapi tak saling menyapa atau bahkan bersuara, hanya melirik dan diam-diam mengagumi. Sampai akhirnya, salah seorang dari mereka, Karel Steiner melangkahi garis pembatas itu dan memulai percakapan dengan Yasmine.

Percakapan yang mengawali cerita panjaaaang cinta mereka.

Pada mulainya, semua terasa biasa-biasa saja. Karel dan Yasmine menjalin hubungan layaknya muda-mudi kebanyakan yang meniti semuanya dari pertemanan. Musim dingin membekukan kebersamaan mereka dalam potret-potret kamera Yasmine yang terasa hidup. Menyebabkan, benih-benih cinta mulai merekah di hati Yasmine, dan perasaan itu semakin menguat saat Rakel mengajaknya melakukan kegiatan musim dingin yang tertera di sebuah daftar kegiatan miliknya. Yasmin percaya itu adalah kencan terselubung dari Rakel.

Tapi ternyata, daftar kegiatan musim dingin itu merupakan cerita lain bagi Rakel. Anak laki-laki, remaja berumur 16 tahun itu, ternyata memiliki rahasia yang bersangkut paut dengan keberadaan Dylan dan Elena. Siapa kedua orang ini? Mereka adalah teman Yasmine di high school. Teman Yasmine yang dulunya adalah sahabat Rakel dan mereka memiliki masa kelam tersendiri, dan kini mereka saling membenci.

Terutama Rakel dan Dylan. Kedua anak laki-laki ini sudah memiliki masalah sebelumnya, berhubungan dengan masa lalu, dan masalah mereka semakin runyam ketika Dylan yang cinta mati pada Yasmine mengetahui bahwa gadis itu ternyata menyukai Rakel. Terlepas dari rasa cintanya, Dylan merasa kalau dirinya harus menyelamatkan Yasmine dari rasa sakit atas perasaan gadis itu untuk Rakel. Karena Dylan tahu, bahwa Rakel punya maksud lain terhadap Yasmine yang berhubungan dengan daftar kegiatan musim dingin mereka dan kamera.

Jadi, apakah perasaan Yasmine terbalaskan? Apakah Dylan akhirnya dapat mendapatkan Yasmine? Apa Rakel pada akhirnya mengaku pada Yasmine tentang daftar kegiatan musim dingin itu?

Jeng, jeng! Penasaran dengan rahasia itu? Kalau maksa tahu ya baca aja bukunya di toko buku atau beli segera. Hehehe.

Read More »