Falling into Place – Amy Zhang

 
 
Judul                     : Falling into Place
Penulis                 : Amy Zhang
Penerbit              : Greenwillow Books
Terbit                    : Cetakan pertama, Septermber 2014
Tebal                     : 296 halaman
Rate                       : 3.5 / 5
 
 

“Gravity is our playmate, momentum is our friend. We are blurs of motion. We are racing, and we are both winning, because we do not race each other.” Falling into Place, hlm. 168

Satu hari setelah mempelajari sederet rumusan hukum Newton, Liz mencoba mempraktikkan hal itu pada mobilnya. Mobil Mercedes Benz miliknya dipacu kencang-kencang, berlari ke luar batas jalan.

Di balik dandanan dan gaya sosialitanya yang terkenal di seantero kelas, para teman mungkin mengira Liz tidak akan mengambil keputusan naas tersebut. Tapi, nyatanya, Liz bukan gadis seceria itu, di balik kesedihan, kesendiriannya, dan kebungkamannya, tidak ada lagi yang dapat ia katakan. Kepada Monica, ibunya, yang tak hentinya bekerja seperti kaum nomaden. Telepon Liz hanya dianggapnya sebagai angin lalu.

Liz telah mengambil keputusan seutuhnya. Ia menentukan tanggal, teknik yang tepat, dan mengira seorang pun takkan pernah tahu rencananya, alih-alih, Liam Oliver sangat mengenal Mercedes milik Liz, gadis yang telah dicintainya diam-diam sedari dulu.

Read More »

Just One Day – Gayle Forman

just one day satu hari saja

Judul                     : Just One Day

Penulis                 : Gayle Forman

Penerjemah       : Poppy D. Chusfani

Penerbit              : Gramedia Pustaka Utama

Terbit                    :  2014

Tebal                     : 400 halaman

Rate                       : 5 / 5

“Sesuatu yang takkan pernah hilang, tidak peduli seberapa besar kau menginginkannya.”

“Kau membandingkan cinta dengan… noda?”

“Persis.”  – Hal 76

Allyson Healey. Hidupnya yang ia kira sudah benar sebagai anak baik-baik bisa jungkir balik akibat tertemuan tak terduga dengan seorang pria Belanda bernama Willem. Berawal dari salah satu drama Shakespeare yang dibawakan secara kontemporer oleh kelompok Drama yang masukan anggota tambahan yaitu Willem, Allyson perlahan-lahan terpesona oleh mata legam pria itu.

Mulanya, hari pementasan drama itu menjadi hari terakhir yang mungkin saja mempertemukan Allyson dan Willem, namun takdir yang disebut-sebut sebagai sebuah ‘kecelakaan’ menghantarkan Allyson yang baru saja menuntaskan Tour Eropa-nya untuk bertemu kembali dengan Willem di kereta yang akan membawa mereka ke London.

Obrolan terjadi, dan secara mengejutkan Allyson mendapati dirinya menjadi orang yang berbeda tatkala ia bersama dengan Willem, lantas berlahan-lahan berubah menjadi sosok Lulu—sebutan Willem untuk Allyson karena penampilannya saat itu mirip dengan seorang aktris film bisu berambut bob—yang 180 drajat berbeda dengan Allyson biasanya.

Sesampainya di London, Allyson kira mereka akan berpisah, namun tatkala sahabatnya Melanie mengungkit-ungkit tentang gagalnya Tour mereka melewati Paris dan betapa kecewanya Allyson akan hal itu. Willem secara mengejutkan mencetuskan ide untuk ‘menculik’ Allyson dan membawanya ke salah satu tempat terindah di daratan Eropa itu.

‘Hanya satu hari’ dalih Willem, dan kata-kata itu pun menjadi mantra magis yang membuat Allyson langsung mengangguk setuju untuk diculik dan pergi berkereta menuju Paris.

Dan ketika kedua kaki Allyson menginjakan kaki di Paris, drama pun di mulai. Mereka mengarungi sungai yang membelah Paris dengan menyewa kapal seharga 100 dollar; mereka bersepeda menuju museum dan nyaris ditangkap polisi karena melanggar aturan; mereka pergi ke daerah antah berantah dan dikejar-kejar preman; mereka berdua pun berkelahi karena kecerobohan Allyson dan Willem yang kepalang khawatiir; lantas setelah gagal memulangkan Allyson, Willem pun menyeret gadis itu untuk melompati tembok sebuah workshop seniman jalanan untuk menghabiskan malam bersama.

Ya. Malam itu Willem dan Allyson benar-benar menghabiskan malam bersama, menjadi dua insan yang paling dekat dalam sebuah persekutuan jiwa dan raga.

Malam itu, Allyson berbisik pada Willem kalau ia bisa memperpanjang drama penculikan ini, namun Willem terlalu mengantuk untuk menjawab dan tertidur. Allyson pun hanya tersenyum, dan akhirnya memutuskan untuk tidur di samping pria itu tanpa mengetahui saat nanti ia membuka mata ia tak akan bisa menemukan sosok Willem di mana pun.

Pagi menjelang dengan menghilangnya Willem, Allyson yang panik berada di tanah antah berantah sendirian langsung berlari keluar dari gedung itu dan mencari-cari cara pulang. Ia tidak pernah menyangka drama penculikan ini benar-benar hanya satu hari saja, namun satu hari itu sudah cukup membuat harinya merasakan dua perasaan paling luar biasa secara nyaris bersamaan: jatuh cinta dan patah hati.

Hati Allyson meradang, ia tak habis pikir kenapa Willem yang ia kenali begitu luar biasa itu rela mencampakannya begitu saja. Patah hatinya terus berlanjut sampai ia akhirnya berhasil pulang ke negaranya Amerika dan melanjutkan kehidupan perkuliahannya. Hilangnya Willem terus membayang, kenangan selama satu hari itu menghantui Allyson hingga mengacaukan seluruh ritme hidupnya yang telah tertata rapi di jadwal kedua orangtuanya.

Hanya satu hari, dan Allyson menyadari bahwa dirinya selama ini bukanlah dirinya sesungguhnya. Ia pun mulai mengalami sindrom remaja yang terlambat dan menentang kedua orangtua-nya yang mengharapkan dirinya menjadi seorang Dokter. Dalam satu hari Willem berhasil membangkitkan sosok Lulu yang menjadi diri Allyson sesungguhnya. Sosok Lulu yang tidak menyukai pelajaran kimia atau mata kuliah pra-kedokteran apa pun; sosok Lulu yang sangat ingin belajar  bahasa Prancis ketimbang Mandarin; sosok Lulu yang ingin memasuki kelas tembikar; sosok Lulu yang secara ajaib memasuki kelas Drama yang membahas keseluruhan drama Shakespeare. Ya, sosok Allyson dalam Lulu yang benar-benar baru.

Setelah naik-turun kehidupannya, pelan-pelan akhirnya belajar berteman, menemukan dirinya menjadi sosok yang baru. Allyson pun menyadari satu hal:

‘Apa Willem benar-benar meninggalkannya hari itu?’

Selama ini Allyson mengambil kesimpulan sepihak akan menghilangnya Willem, bahwa pria itu tidak menginginkannya dan meninggalkannya dalam patah hati yang berkepanjangan. Ia tidak pernah tahu alasan sesungguhnya pria itu menghilang dan satu-satunya cara agar bisa  mengetahui hal itu adalah menemukan Willem kembali dan bertanya.

Ya, menemukan Willem.

Tak terasa satu tahun berlalu sejak satu hari di musim panas itu, Allyson pun bersikeras untuk melakukan pencari akan sosok Willem dan menemukan jawaban dari pertanyaan itu. Allyson kembali ke Paris, kota penuh kenangan, mengambil kembali kopernya yang tertinggal setahun yang lalu dan memulai pencarian bersama kelompok pelancong yang kebetulan bertemu dengannya di depan penginapan remaja.

Nah, apakah Allyson menemukan Willem dan mendapatkan jawaban dari pertanyaannya? Apakah fakta-fakta, petunjuk-petunjuk, serta suratan takdir yang menjelma menjadi kecelakaan-kecelakaan tak terduga itu menghantarkan Allyson bertemu dengan Willem? Mengaruhi negara ke negara lain, menemukan keindahan dan cinta yang menggebu-gebu, serta keindahan Shakespeare yang tertuang dalam setiap drama-dramanya. Mari beli buku ini segera!

Review:

Read More »

Aristotle and Dante Discover the Secrets of the Universe – Benjamin Alire Sáenz

Judul                     : Aristotle and Dante Discover the Secrets of the Universe
Penulis                  : Benjamin Alire Sáenz
Penerbit                 : Simon & Schuster Books for Young Readers
Terbit                     : Cetakan pertama, 21 Februari 2012
Tebal                      : 359 halaman
Rate                        : 5 /5

 

“Another secret of the universe: Sometimes pain was like a storm that came out of nowhere. The clearest summer could end in a downpour. Could end in lightning and thunder.” 
― Benjamin Alire Sáenz, Aristotle and Dante Discover the Secrets of the Universe

 

Aristotle—atau bisa dipanggil Ari—adalah seorang remaja laki-laki yang pendiam dan tidak memiliki teman. Ari marah terhadap Dad, mungkin hanya masalah sepele, tetapi Ari tetap saja marah karena ayahnya menutupi masalah kakak laki-lakinya yang ini mendekam di sel penjara. Ari merasa Dad selalu membual tentang segalanya, membahas tentang hal-hal yang baik saja lantaran selama ini ia menolak untuk membicarakan perang Vietnam yang dulu pernah dilaluinya.

Dante—yang terkadang tertawa pada namanya sendiri—adalah seorang remaja laki-laki seumuran Ari. Dante selalu punya cara tersendiri dalam memandang dunia ini, bagaimana ia berpikir pelik, juga dengan cara-cara uniknya dalam menyukai segala sesuatu. Dante dan ayahnya, Sam, selalu dekat. Mereka saling menimpali omongan, begitu pun saling bertukar cium di pipi.

Ari dan Dante bertemu di suatu siang, di kolam renang, pada liburan musim panas. Semenjak pertemuan itu, keduanya kerap menghabiskan hari bersama dan menjalin pertemanan yang tidak biasa. Bercerita tentang satu hal ke hal berikutnya, dan begitulah keduanya menemukan rahasia-rahasia pada kehidupan di sekeliling mereka.

 Read More »