Supernova: Gelombang – Dee Lestari

 

Judul                     : Supernova: Gelombang (Supernova #5)
Penulis                  : Dee Lestari
Penerbit               : Penerbit Bentang
Terbit                    : Cetakan pertama, 2014
Tebal                     : 492 halaman
Rate                       : 5 /5

 

 

“Saat ini, Anda adalah kain itu. Apa yang Anda cari tidak bisa ditemukan karena keterbatasan Anda sendiri. Bukan karena tidak ada.” Gelombang, hlm. 14

 

Pernyataan itu diterima Gio kala mencari Diva Anastasia di tengah hutan Cusco. Genap pada hari keempat puluh pencariannya mulai menemui jalan buntu. Diva memilih untuk hilang dan tidak pernah ditemukan; Gio bertemu dengan Amaru, seorang pria Aymara, yang memberikan segugus batu dan membuatnya mengingat, barangkali ia pernah mengenali pria asing itu.

Satu dekade sebelumnya, tepatnya di Sianjur Mula-Mula, Alfa (alias Ichon) menyaksikan atraksi besar itu. Suara gondang yang diaransemen tiupan serunai Bapak membuat bulu kuduknya berdiri. Eten dan Uton bisa saja saling sikut, tapi Alfa duduk merapat, ia melihat sosok itu di pojok rumah. Sosok hitam besar dengan manik kuning manyala. Ompu Togu Urat, orang sakti di desanya, menyebut makhluk misterius itu sebagai Si Jaga Portibi.

Mulai dari cakap senja, Ompu Togu Urat ingin mengangkat Alfa menjadi muridnya. Lantas memberinya dua gugus batu dan menyuruhnya menyimpan benda itu bak jimat. Sementara Ompu Ronggur Panghutur dari Tao Silalahi datang menjemput Alfa dengan tujuan yang sama, Alfa dibikin bingung. Siapakah yang harus ia pilih menjadi guru? Ompu Togu Urat atau Ompu Roggur dari Tao Silalahi?

 

“Hati-hati gelombang…” Nai Gomgom berkata terpatahkan. “Hati-hati air…” —Gelombang, hlm. 64

 

Kata-kata Nai Gomgom selalu terngiang di otak Alfa. Ia berkata bahwa persimpangan pertama yang harus pemuda itu pilih telah tiba. Tapi, Alfa malah memilih jalan yang salah. Ia menyaksikan Ompu Togu Urat mengkhianati janjinya dan bermaksud menenggelaminya di tengah telaga. Perasaan itu selalu menghantui Alfa, bahkan kala ia memejamkan mata. Alfa masih mengingat rasa sakit yang mencekik lehernya. Pemuda itu menjadi takut tidur. Ia mulai terjaga lebih lama di kala malam dan hanya memanfaatkan waktu ringkas di kala terang untuk tidur ayam.

Hingga keluarga Alfa memutuskan untuk bertolak ke Jakarta, secara kebetulan seorang Gultom, kenalan Bapaktua dari Amerika, menawarinya untuk bersekolah di Hobokken, tak jauh dari New York, kota besar yang selalu menjadi mimpi Alfa. Sebuah kota yang tak pernah tidur. Alfa berangkat ke Hobokken tanpa surat-surat yang jelas dan membuatnya menjadi seorang imigran gelap. Namun, di balik sebuah status, Alfa yang jenius, berhasil meyakinkan Tom Irvine untuk bekerja di Andromeda Capital.

Kesukesesan Alfa membuatnya lupa akan kepelikan waktu tidur yang dimiliknya. Pada suatu malam, kehadiran seseorang wanita asing bernama Isthar memicu Alfa untuk menghadapi alam yang selama ini ia hindari, yaitu alam mimpinya. Yang nyatanya menyimpan rahasia masif yang tak pernah ia bayangkan sebelumnya.

 

Tak perlu jeda terlalu lama bagi penggemar serial Supernova milik Dee untuk menikmati lanjutan dari “Partikel”. Jika diusut dari awal seri ini bermula, tak jauh berbeda dari empat seri Supernova sebelumnya, karakter dan alur yang diciptakan oleh Dee dalam “Gelombang” agaknya punya banyak kesamaan. Baik dari alur yang dibikin misterius di awal, lalu beranjak menjadi sedikit drama dengan bumbu humor atau romansa, lantas Dee baru menggenjot bagian-bagian akhir sebagai gugusan yang pas untuk melengkapi mata rantai dari konflik utama. Karakter Alfa, dengan nama lengkap Thomas Alfa Edison Sagala alias Ichon (sebagai nama kecilnya di desa Sianjur Mula-Mula), pun punya tingkat intelektual yang tinggi mirip Zahra dan berhadapan dengan peristiwa-peristiwa konyol seperti yang dihadapi Elektra (dalam “Petir”). Tapi, di balik semua kekonyolan, kejadian-kejadian yang mengocok perut, sekaligus mitologi-mitologi yang dipaparkan Dee hingga ketigaperempat buku, ide yang membuat saya berkata, “Gelombang” lebih bagus dibanding “Partikel” adalah saat saya menjumpai kata “oneironaut” atau mungkin bahasa mudahnya: penjelajah mimpi.

Terbukti sudah Dee mengembangkan genre Supernova ke arah yang lebih serius, mulai dari misteri, mitologi, supernatural, drama, lalu kali ini ia mencoba membumbui bukunya dengan lebih banyak hawa sueralis mirip karya-karya Murakami atau Kafka. Tapi, surealis itu sendiri tidak dihadirkan Dee secara mentah, saya menyukai gayanya yang tak pernah melunturkan hawa kemisteriusan budaya-budaya tua Indonesia. Ia mengangkat kepercayaan suku Batak dengan mitologi-mitologinya yang mungkin banyak tidak diketahui orang sebagai latar belakang seorang Alfa. Lalu menghubungkannya seperti kala ia menuliskan monolog Elektra tentang perbedaan agama di keluarganya. Menurut saya, itu langkah cerdik Dee, di bukunya, tiap percakapan dan monolog tak pernah berlalu kosong dengan celotehan-celotehan mutakhir tentang dunia Supernova ciptaannya, sedikit-sedikit Dee menyelipkan protes tentang isu yang berakar di masyakarat masa kini, tentang agamanya, contohnya. Juga tentang Aek Sipitu Dai (yang awalnya saya kira ini hanya tempat ciptaan Dee semata) yang merupakan bekas pemandian dewa-dewa, dan kini malah dikotori oleh sampah domestik di tanah Batak sana.

Setelah Bodhi Liong, Elektra, Zahra, dalam “Gelombang”, Dee menciptakan karakter Alfa dengan latar belakang yang mirip dengan Zahra, tetapi punya kemampuan seperti Elektra. Namanya diambil dari seorang penemu besar, Thomas Alfa Edison, seperti kakak-kakak pendahulunya, Eten dan Uton yang ternyata bernama asli Albert Einstein dan Sir Isaac Newton. Nama panggilan Ichon sempat membuat saya tergelak sekaligus mengalami momen “ya ampun bisa aja deh yang bikin nama”. Sebagai seorang nataror, Alfa dalam “Gelombang” punya hawa yang sama seperti Zahra dalam “Partikel”. Ia menerjemahkan setiap pilihan dan persimpangan di hidupnya dengan kritis. Dan pada bagian Alfa sebagai imigran gelap di Amerika, ia mengingatkan saya pada sosok Nicky di buku “Winter Dreams” milik Maggie Tiojakin yang sama-sama menceritakan memoar seorang imigran gelap di Kota Boston. Hanya saja yang saya kurang sukai dari karakter-karakter ciptaan Dee, khususnya sejak buku “Partikel”, yaitu bagaimana mereka menjadi insan superberuntung, dari seseorang yang bukan apa-apa di pedalaman desa, dengan mulusnya beranjak hingga punya karir cemerlang yang jauh dari kata realistis. Tapi, yang saya suka dari Alfa adalah ide tentang penciptan karakternya sebagai seorang yang takut tidur. Bagaimana ia masuk ke alam bawah sadarnya dan di saat itulah konflik yang sesungguhnya terkuak. Dan dengan begitu, Alfa diduga sebagai mata rantai inti di mana tiga karakter lain bisa bertautan dan di bagian nyaris akhir, Alfa pun mengungkap sedikit petunjuk tentang seri selanjutnya:

“Yang lainnya… Partikel, Petir, Akar, dan ada dua lagi, aku masih belum jelas melihat… enam orang termasuk aku. Ke mana aku harus mulai mencari?” —Gelombang, hlm. 445

 

Terlepas dari kesan yang tidak saya sukai mengenai karakter tersebut, saya selalu mengagumi penggambaran latar yang coba dibangun oleh seorang Dee. Mulai dari yang asri hingga yang paling hiruk-pikuk seperti New York. Entah di mana pun Alfa berpijak, Dee selalu bisa mendeskripsikan budaya, gaya pembicaraan, unsur-unsur ekstrinsik yang membuat keadaan tersebut terasa menyatu dan rill.

Dari keseluruhan, saya menyukai “Gelombang” daripada “Partikel”. Dari sisi karakter, kepribadian Alfa mungkin masih kalah dengan humor seorang Elektra yang sederhana. Tapi, dari sisi ide, konsep, dan latar, Dee hadir dengan nuansa baru yang mengombinasikan aspek-aspek yang tak pernah terpikirkan oleh penulis Indonesia lainnya. Bisa dibilang “Gelombang” adalah kombinasi memoar asyik, mitologi unik, dicampur petualangan ala “Inception” yang mengombang-ambing alam spiritualitas.

5/5 untuk ide gila Dee Lestari. Mari menunggu “Intelegensi Embun Pagi”.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s